Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Mencari Sang Pelaku


Hah


Duchess Alexsa menatap kesal ke arah bangunan di hadapannya. Bangunan itu sudah tidak terawat, temboknya pecah di mana-mana. Ada beberapa tumbuhan yang menjalar di lantai marmer putih itu. "Kehidupan orang kaya,"


"Nyonya, biar saya saja yang membersihkannya, Nyonya istirahat saja." Pelayan Anne berkata lembut. Ini sudah malam dan waktunya sang majikan beristirahat.


"Kita lihat dulu," Duchess Alexsa membuka pintu berwarna putih itu. Seketika debu menyerbu wajahnya dan membuatnya terbatuk. "Sial sekali hidup ku."


"Nyonya biar saya dulu yang masuk." pelayan Anne menarik kain putih di atas kursi, meja dan segala barang yang berada di ruangan itu.


"Bagaimana? suka dengan tempat barunya?" Seorang wanita pun muncul di ambang pintu. Dia tersenyum puas melihat sang Duchess telah tersingkirkan. Kini hanya tinggal nama saja yang belum dia peroleh, sedangkan tempat di hati Duke atau tempat di kediaman utama telah menjadi miliknya. "Jangan sedih, Duchess. Ini baru permulaan."


"Mau ini permulaan, mau ini zaman dulu 'Terserah' yang jelas, aku bebas dari kalian dan satu hal lagi. Aku sangat mengucapkan syukur."


Ellena memejamkan matanya, menahan amarah yang sedang menguasainya. Benar, dia ingin membuat Duchess Alexsa merasakan apa yang dia rasakan. Duke hanya miliknya.


"Wanita yang licik, gila kekuasaan tidak akan pernah puas dengan apa yang dia miliki."


"Kalau iya, memang kenapa?" Ellena menarik sudut bibirnya. "Duchess iri, oh aku lupa. Duchess kan tidak di sukai di kediaman Marquess."


Seandainya tidak ingin menutupi kekuatannya. Sudah ia pastikan mulut Ellena itu di jahit oleh tanaman rambatnya.


"Sudahlah, aku merasa kasihan pada Duchess. Aku pergi dulu dan ini." Ellena mengambil sesuatu di sampingnya. Kemudian menaruhnya di hadapan Duchess. Sebuah koper yang berukuran besar terdapat baju Duchess. Setelah Duchess meninggalkan kediaman Duke. Ia langsung membereskan semua pakaian Duchess dan esok pagi, dia akan merombak kamar itu menjadi kamarnya dengan Duke.


"Duchess tidak perlu berterima kasih pada ku. Dengan baik hati, aku sudah mengambil barang-barang Duchess." Ellena memberikan penghormatannya dan berlalu meninggalkan Duchess Alexsa.


"Sangat berterima kasih." Rasanya ia tidak puas kalau ia tidak melakukan apapun. Duchess Alexsa menajamkan matanya, sebuah tanaman menjalar mengekori langkah Ellena. Tanaman itu pun menarik kaki kanan Ellena. Hingga Ellena jatuh ke tanah dalam posisi terlentang dan kakinya di tarik oleh tanaman itu.


Argh


Duchess Alexsa melangkah ke arah sofa itu, menghempaskan tubuhnya dengan kasar. "Anne, aku mau beristirahat. Besok saja membersihkan semuanya."


"Tidak Nyonya, malam ini biar kamar lantai atas saja yang saya bersihkan. Nyonya, bisa beristirahat di sana."


"Baiklah."


Emm


"Terima kasih, Anne."


Keesokan harinya. Duchess Alexsa membuka matanya. Dia mendongak dan melihat sekelilingnya, kembali mengingat kejadian tadi malam yang pada akhirnya membuatnya harus di hukum.


"Anne."


"Nyonya sudah bangun." Anne tersenyum. Dia menaruh sebaskom air ke atas nakas.


"Iya Anne." Duchess Alexsa mengikat rambutnya secara asal. Berjalan ke arah baskom dan mencuci wajahnya. "Nyonya, saya sudah menyiapkan air hangatnya."


Duchess Alexsa mengangguk. Dia beralih pada kopernya yang di taruh di sofa. Kemudian mengangkatnya ke atas ranjang, lalu membukanya.


"Biar saya saja Nyonya."


"Tidak perlu, kamu bantu aku saja."


Duchess Alexsa mengambil pakaiannya satu per satu, tentunya di bantu oleh pelayan Anne. Hingga sebuah benda jatuh dari dalam pakaian itu.


Benda berwarna merah itu yang tak lain sebuah Bros berwarna biru.


Duchess Alexsa mengambil Bros itu, mengamati benda itu. "Milik siapa ini?"


"Bukankah, bros itu milik Duchess. Tapi, Duchess selalu menangis saat melihat bros itu. Duchess selalu mengatakan, dengan bros itu. Duchess bisa menemukan siapa laki-laki itu," ujar pelayan Anne. Karena ia pernah mendengarkan ucapan sang Nyonya.


"Aku hampir melupakannya, aku rasa di jebak, tapi lihat saja. Suatu saat, aku akan membuat orang yang menjebak ku, membayar semuanya." Wajah Duchess Alexsa mengingat wajah Ayne. Dia ingin membalas setiap rasa sakitnya.


"Kita harus mencari di seluruh toko yang membuat Bros. Aku harus tahu, benda ini milik siapa? mari kita urut siapa ayah dari anak ku."


"Lalu bagaimana kalau seandainya ayahnya di temukan? apa Duchess akan menemuinya dan mengatakannya?"


"Apa kamu kira aku bodoh? tidak, aku akan mengawasinya. Dia tidak bertanggung jawab dan tidak peduli pada wanita yang telah dia renggut kesuciannya. Kalau dia orang baik, aku akan membiarkannya, tapi tidak ada orang baik yang tidak bertanggung jawab, bukan. Hah, ini semua gara-gara Ayne, akan aku pastikan dia tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan."