Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Dia Ibu Ku, Alona Wichilia


"Kenapa anda datang? apa anda ingin menghancurkan keluarga saya?!" bentak Ayne. Dia keluar ingin menghirup udara segar dan malah melihat Alice yang sudah beberapa tahun menghilang dan berkeliaran di istana.


Alona Wichilia yang di sapa Alice itu menunduk, ia menyesal keluar dari tempat persembunyiannya. Niatnya hanya satu, ingin melihat langsung proses pertunangan sang anak.


Ayne tertawa, baru saja ia kehilangan sosok yang ia cintai dan sekarang ada seseorang yang mengancam keluarganya. "Seharusnya anda pergi dan tidak usah kembali."


Marquess Ramon berlari, dia menarik lengan Ayne hingga menjauh dari sosok wanita di hadapannya.


"Lihat ayah, dia kembali dan ingin menghancurkan keluarga kita."


Alona Wichilia yang di tuduh pun hanya menunduk dengan menahan air matanya. Dia yang bersalah telah memasuki kehidupan rumah tangga Marquess Ramon.


"Hentikan Ayne!" Marquess Ramon menekan nada pembicaraannya. "Ini di istana."


"Biarkan ayah, biarkan semua orang tahu. Wanita ini datang untuk menghancurkan rumah tangga ayah. Seharusnya ayah melenyapkan...."


"Ayne!"


Marquess Ramon menarik lengan Ayne, percuma dia berteriak menyuruh berhenti, sekalipun suara di tenggorokannya hilang Ayne tidak akan mendengarkannya. Ayne sedang marah dan ingin melampiaskannya pada Alice, istrinya.


"Ayah biarkan aku memberikan pelajaran pada wanita itu..."


Ayne terus berteriak hingga mengundang beberapa pelayan dan bangsawan. Salah satu pelayan menghampiri Putra Mahkota Delix dan mengatakan sesuatu yang telah terjadi.


Putra Mahkota Delix melihat ke arah Alexsa dan Alexsa membalas tatapan itu. Putra Mahkota Delix melangkah mendekatinya, dia membisikkan sesuatu dan membuat kedua mata Alexsa membulat. Alexsa sedikit mengangkat gaunnya dan berlari.


Aa


"Alexsa,"


Duchess Alexsa menahan sakit di kakinya akibat keseleo, dia terus berlari dan melihat kerumuan.


"Hentikan Ayne!" tegas Marquess Ramon. "Dia tidak bersalah!" bentaknya. Untuk pertama kalinya dia menegaskan dan membantah ucapan Ayne. Begitupun semua orang sekaligus Ayne tercengang.


"Apa tidak bersalah?"


"Apa yang kamu katakan Marquess?" Marchioness Mery menyanggah. Sedangkan Albern justru menggeleng pelan, tambah rumit hingga dia tak bisa menjabarkan.


"Ibu, Ayah dan Ayne ayo kita pergi. Ini di istana dan jangan membuat keributan."


Alona Wichilia menatap Baginda Kaisar yang baru datang, melalui tatapannya Baginda Kaisar mengangguk.


"Alona Wichilia dan semua bangsawan di sini, masuklah ke aula."


Sedangkan Alexsa, bukannya di tidak ingin membela, ibunya menggeleng lemah melihatnya dan menyuruhnya agar tidak ikut campur.


"Aku akan melindungi ibu, Alexsa."


Putra Mahkota Delix menggenggam tangan Alexsa dan berlalu mengikuti perintah Baginda Kaisar. Banyak para bangsawan yang berbisik dan membuat telinga Alexsa memanas, ia tidak bisa membuat sang ibu di hina sedemikian cacian yang mengerikan. Kini semuanya berkumpul di aula istana.


Baginda Kaisar menatap kasihan pada wanita yang berada di tengah-tengah aula seakan di adili.


"Baginda, pasti wanita ini tengah menyelinap masuk," ucap Marchioness Mery.


"Marchioness Mery, jangan asal menuduh." Sanggah Marquess Ramon. Dia tidak suka istri pertamanya menghina istri keduanya.


"Bisa saja, kenapa Tuan membelanya?"


"Dia pasti sengaja untuk mencelakai anggota istana atau dia suruhan bangsa iblis," ucap Ayne. Para bangsawan ada yang setuju, ada yang memilih diam dan merasa jengah dengan drama yang tak asing lagi dan ada yang kasihan.


"Dia wanita perusak, mungkin saja dia akan menjadi perusak bagi Kekaisaran," imbuh Ayne kembali.


Ellena tersenyum sinis, Alexsa dan ibunya tidak beda jauh.


Alexsa mengepalkan tangannya, ibunya di tatap oleh para bangsawan. "Hentikan!" Alexsa melangkah menghampiri sang ibu dan menghadap pada para bangsawan. Matanya tegas menatap tajam para bangsawan. Begitu pun Putra Mahkota Delix, dia berdiri di sisi sang ibu dan menjadi tamengnya.


"Tidak ada yang boleh menghinanya."


"Dia ibu ku, Alice atau Alona Wichilia!" teriak Alexsa dengan tegas. Dia membuka topengnya dan membuat semua orang syok, terkejut, bahkan ada yang menganga, tidak bisa mengkedipkan kedua matanya.