Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Akan Aku Kembalikan Penderitaan Itu


"Nona Rose, biar aku temani," ujar Putra Mahkota Delix.


"Jangan, biar aku yang menghadapi mereka. Ini masalah ku dan mereka," ujar Duchess Alexsa. Karena ini masalahnya dan biarkan ia yang menyelesaikan semuanya. Perannya sebagai seorang istri dan mantan istri, ia tahu apa yang harus ia perbuat.


"Kalau ada sesuatu.."


"Jangan khawatir, aku bukan wanita lemah," ujar Duchess Alexsa memotong perkataan Putra Mahkota Delix. Ia beranjak pergi dari kursinya.


Sebelum langkahnya memasuki pintu itu, ia berhenti sejenak. Menarik nafasnya sedalam mungkin. Hingga hatinya tidak akan bergetar dan matanya tidak akan mengeluarkan air mata.


"Alexsa, aku yakin kamu bisa melaluinya." Duchess Alexsa merasakan tubuhnya gemetar, mungkin karena ketakutan yang menghantuinya dulu. "Buktikan," satu kata itu membuat tangannya membuka pintu itu. Kedua matanya pun bertemu dengan kedua mata laki-laki yang duduk di sofa berwarna hijau itu.


Ia melanjutkan langkah kakinya, di iringi bayang-bayang penderitaan Alexsa yang sering kali mengintip kebersamaan Ayne dan Marquess Ramon. Di mana dirinya juga di marahi karena Ayne menangis padahal bukan dirinya yang salah. Dimana ia di ejek oleh para pelayan dan penghinaan dari sang kakak, Albern.


"Marquess Ramon dan tuan muda Albern." Duchess Alexsa tersenyum. Namun, tubuhnya telah menerima hawa dingin yang di keluarkan oleh kedua laki-laki itu.


"Apa maksud anda membuat putri ku menangis?" tanya Marquess Ramon.


Duchess Alexsa mengerutkan keningnya, kemudian terkekeh. "Maaf, tapi saya tidak membuatnya menangis.?"


"Jangan berpura-pura tidak tahu," timpal Marquess Ramon.


"Benar, dia putri kesayangan anda. Setiap kesalahan yang telah dia perbuat bagi anda adalah kebenaran, bukan."


"Tidak ada seorang ayah yang tidak mencintai putrinya." Timpal Albern.


Duchess Alexsa menatap urat-urat di leher Albern, yang seakan meminta keluar.


"Menarik! sangat menarik. Bahkan nona Alexsa juga di buang. Padahal anda tahu, bukan keinginannya untuk hadir di antara keluarga kalian. Dan jika bisa meminta. Alexsa tidak ingin darah kalian mengalir dalam tubuhnya." Nadanya bergetar karena amarah dan dingin.


"Dari mana anda tahu?" tanya Albern.


"Aku mengenalnya, sangat mengenalnya."


"Tapi masalah keluarga kami bukan urusan anda. Lagi pula ini semua salah ibu Alexsa yang datang pada keluarga kami."


"Benar, bukan kesalahan kalian, tapi berfikirlah dengan logis. Kalaupun dia mencintai Marquess. Dia tidak akan pergi begitu saja."


"Mungkin karena dia malu dan lelah mengejar ayah ku yang tidak mencintainya."


"Untuk masalah nona Ayne dan Marchioness. Aku tidak suka dengan mereka, sikap haus kekuasaan dan sombong. Mungkin kalian tidak menyadarinya, karena mereka keluarga kalian. Sama dengan perkataan ku sebelumnya, kalian menutup mata."


Marquess Ramon tak menjawab, pikirannya langsung tertuju pada Alice. Entah mengapa perkataan nona Rose menghantuinya. Selama ini memang benar, semenjak kejadian itu dan menikah. Alice atau istri keduanya tidak pernah mendatanginya, justru wanita itu seakan tidak terjadi apapun. Wanita itu tidak pernah mengusiknya dan keluarganya. Justru dia hidup tersenyum dan menyendiri di Villa belakang rumahnya. Pernah ia menemui wanita itu dan malah tersenyum sambil menyiram bunga. Bahkan, Villa di belakangnya masih sama. Berbagai macam bunga dia tanam setiap pagi dan sore hari. Alice selalu menyiram dan merawat bunga itu.


"Nona Rose, saya tidak suka anda terlalu ikut campur."


"Urusan teman saya, juga urusan saya, kan. Jika tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Saya ada urusan dengan Putra Mahkota Delix."


"Tunggu," Marquess Ramon hampir lupa. Jika ia harus membahas kebersamaan Putra Mahkota Delix dengan wanita di hadapannya.


"Jangan mendekati Putra Mahkota. Dia akan di jodohkan dengan Ayne."


Duchess Alexsa langsung berdiri dan kemudian duduk kembali. Lalu tertawa renyah. "Cinta tidak bisa di paksa. Apa Marquess mau kalau nona Ayne hanya di jadikan bayang-bayang saja? saya harap, tuan Marquess sebagai seorang ayah. Harus memiliki pemikiran yang sangat dalam."


"Apa maksud anda? apa anda menggoda Putra Mahkota Delix?"


Ini baru permulaan, apa yang dulu aku rasakan, akan aku kembalikan berkali-kali lipat.


"Pikirkan saja Tuan Marquess, bagaimana kalau saya masuk ke istana dan.." Duchess Alexsa menjeda. "Menjadikan putri mu Selir bayang-bayang."


brak


"Kamu!" Marquess Ramon menunjuk wajah Duchess Alexsa sambil berdiri. Aura yang mencengkram itu membuta ruangan itu seakan di penuhi kabut kegelapan.


"Jangan marah, saya hanya bercanda. Saya tidak suka di duakan, kalau pun itu terjadi. Persaingannya pasti seru kan," Ejeknya.


Marquess Ramon dan Albern semakin marah, jika kemarahan ada levelnya. Mungkin kemarahan keduanya paling atas.


"Jaga ucapan anda, Nona. Saya tidak akan segan pada anda."


"Oh, ini adalah kakak nona Alexsa, tampan tapi berwajah datar dan.. Albern, Albern. Tuan muda yang terhormat. Aku menanti apa kesegenan anda."


Kedua laki-laki itu langsung pergi dan Duchess Alexsa menatap kedua punggungnya. Ia menggigit bibirnya, tanda kemarahan yang tak bisa ia tahan.


"Ayne, wanita yang telah membunuh anak ku. Sekaligus keluarga yang sangat, sangat...." Mulutnya seakan tak mampu berbicara ketika harus mengingat kekejaman mereka.