Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Pertemuan


Seorang wanita tengah berdiri menatap pintu gerbang istana itu. Kedua penjaga melihat gelagat mencurigakan. Lantas salah satu dari kedua penjaga itu menatap Alice atau Alona Wichilia dan laki-laki di sampingnya dari atas ke bawah. "Siapa kalian?" tanya sang penjaga dengan tegas.


Alona Wichilia membuka jubah hitam di atas kepalanya. "Saya ingin bertemu dengan Baginda."


"Untuk apa? dan kalian siapa?" sanggah penjaga seraya berjalan menghampirinya.


"Saya datang kemari, hanya ingin mengatakan tentang keluarga Duke Aiken," ujarnya tampak tenang.


Kedua penjaga itu saling tatap dan salah satunya mengangguk. Kemudian berlari masuk ke dalam istana seraya mengatakan maksud tamu itu. Sedangkan penjaga satunya membiarkan Alona Wichilia dan ketua penyihir masuk.


Penjaga itu pun memanggil salah satu penjaga untuk menunjukkan ke arah ruang tamu.


Sedangkan Baginda Kaisar yang mendapatkan kabar itu, dia menyuruh pelayan memanggil Duchess Alexsa sementara dirinya menemui sang tamu.


Baginda Kaisar memasuki ruangan itu, nampak kedua orang memakai jubah hitam bagaikan pembunuh bayaran. Melihat itu, ia merasa ragu. Namun, demi Duke Aiken ia akan mencari dan mendapatkannya melalui siapa pun. "Ehem."


Kedua orang itu berdiri dan memberikan hormat. Keduanya serempak membuka penutup kepalanya. "Baginda Kaisar."


Baginda Kaisar terkejut, ia tahu salah laki-laki di hadapannya. "Ketua penyihir."


Baginda Kaisar memang tahu penyihir itu, ia kenal karena pernah berjumpa beberapa kali. Kadang ia juga meminta pada ketua penyihir untuk membantu Duke Aiken. Kejadian yang sudah bertahun-tahun juga membuat menara sihir terombang-ambing oleh lautan api.


"Iya, ini saya Baginda. Bagaimana kabar Baginda?"


Baginda Kaisar memegangi dadanya yang seakan berhenti berdetak. Ia menggeleng, wajah seorang wanita di samping Ketua Penyihir yang ia kenal seperti wajah Duke Aiken, mirip! bagaikan pinang di belah dua.


"Dia Alona Wichilia, putri kedua dari Duke Aiken dan ibu dari nona Alexsa."


Hah


"Ini..."


"Maaf kami mengejutkan Baginda," ujar Ketua Penyihir.


Kedua mulut Baginda Kaisar masih menganga. Dia tidak tahu harus menjawab apa? hari ini jantungnya di buat terkejut beberapa kali.


"Baginda." Duchess Alexsa mendekat, dia melirik ke arah dua orang. Kemudian tersenyum pada Baginda Kaisar walaupun ia keheranan melihat wajah yang tak biasanya itu.


"Alexsa."


Wanita itu menoleh dan tersenyum, putrinya cantik, semakin dewasa. Hatinya seperti di remas, ia menyesal dan sangat merasa bersalah. "Alexsa."


"Anda kenal saya,"


Wanita itu mengangguk sambil berderai air mata. Duchess Alexsa melihat air mata itu terus mengalir, hatinya berdenyut nyeri.


"Ini Ibu, Nak."


"Hah?!"


"Ini Ibu, Alexsa."


Tubuh Duchess Alexsa menegang, Dia menajamkan pendengaran, bayangan ketika seseorang menyebut ibunya seakan meluruhkan nafasnya.


Wanita bernama Alona Wichilia itu, merangkup wajah Duchess Alexsa. "Alexsa, ini ibu, Nak."


"Nona Alexsa, duduklah. Kita akan membahas ini."


Alona Wichilia menarik tangan Duchess Alexsa agar duduk di sampingnya. Dia ingin menjelaskan alasan kepergiannya dan alasan pernikahan itu terjadi. Hingga masuk ke dalam kehidupan rumah tangga Marquess Ramon.


Alona Wichilia pun menceritakan semuanya, beserta bukti dari sebuah buku penyihir. Dimana ia harus mengorbankan hidupnya demi memiliki anak dan memiliki dua kekuatan dan kekuatan itulah yang di butuhkan untuk menyembuhkan Duke Aiken.


"Ibu minta maaf," sesal Alona Wichilia.


Air mata itu terus mengalir seakan tak ada ujungnya. Duchess Alexsa memeluk sang ibu dengan erat.


"Ibu, tidak pernah berniat meninggalkan kamu. Nak. Ibu terpaksa, Raja Iblis mengincar ibu, kalau ibu tidak meninggalkan mu. Justru dirimu lah yang akan menjadi incaran. Selama ini ibu bersembunyi di bangunan istana yang sudah tidak terpakai."


"Apa?! jadi kamu bersembunyi di sana?" tanya Baginda Kaisar kaget. Bangunan istana yang tidak terpakai itu tidak jauh dari istana utama.


"Benar, Baginda."


"Astagah! Alona."


Kalau seandainya ia tahu, dari dulu ia mencari Alona Wichilia dan Duke Aiken di sana. "Lalu di mana Duke Aiken?"


"Bertahun-tahun, Ayah tidur pulas." Alona Wichilia kembali terisak, pedih, sakit, perasaan itu membelenggu hatinya. Setiap mengingat wajah sang ayah yang terbaring lemah, ia tidak sanggup.


"Hanya Alexsa yang bisa membuat tanaman itu Baginda."


"Dimana kakek? aku akan menemuinya dan membuat obat itu."


Baginda Kaisar menghapus air mata yang siap mengalir itu, ia begitu bahagia dan terharu melihat pertemuan sang ibu dengan anaknya.


"Tapi berhati-hatilah Alexsa, Raja Iblis akan datang. Iya, dia akan datang. Mungkin sekarang mereka mengincar mu."


"Betul Ibu, aku pernah di serang oleh mereka dan Putra Mahkota," ujar Duchess Alexsa.


"Sayang, kamu tidak apa-apa kan?"


Duchess Alexsa menggeleng. "Justru Putra Mahkota yang terluka," ujar Alexsa. Ia merasa bersalah karena tidak dapat melindungi Putra Mahkota Delix. Seharusnya, dirinyalah yang melindungi Putra Mahkota Delix dengan baik. Karena seorang Putra Mahkota adalah penerus sang Kaisar.


"Alexsa jangan menyalahkan dirimu sendiri," sanggah Baginda Kaisar. Kejadian itu tidak ada sangkut pautnya dengan Alexsa. Jika pun tidak ada Alexsa, Raja Iblis pasti akan berulah.


"Benar sayang, tidak ada kamu pun. Raja Iblis pasti akan membuat kekacauan."


"Baginda ijinkan saya untuk berterima kasih pada Putra Mahkota," ujar Alona Wichilia. Ia akan berterima kasih bahkan berlutut pun jika di perlukan pada penyelamat putrinya. Meskipun tidak ada cinta antara dirinya dan Marquess Ramon, tapi tetap saja. Alexsa adalah darah dagingnya.


"Baiklah,"


"Tapi saya butuh bantuan Baginda, saya ingin meminta maaf pada keluarga Marquess Ramon dan menjelaskan semuanya."


"Baginda Kaisar jangan khawatir, saya bisa mengatasinya," ujar Alona Wichilia melihat wajah Baginda Kaisar yang tampak ragu dan berfikir.


"Baiklah, aku akan mempertemukan kalian, tapi kapan nona Alona mengadakan pertemuan itu?"


"Besok pagi," ujar Alona Wichilia kemudian di angguki oleh Baginda Kaisar.