Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Keputusan Pertunangan


Keesokan harinya.


Sesuai pembicaraan tadi malam. Kini Baginda Kaisar dan Alona Wichilia mengadakan pertemuan. Duchess Alexsa dan Putra Mahkota Delix duduk sejajar, hanya berbeda tempat duduk. Kedua seperti di sidang oleh pengadilan karena membuat kesalahan.


"Ada sesuatu yang ingin aku katakan," ucap Baginda Kaisar.


"Apa Baginda Kaisar?" tanya Putra Mahkota Delix. Jantungnya seakan berlomba. Ia khawatir, Alona Wichilia melarangnya bersama Duchess Alexsa. Apa lagi kalau sampai dia tahu, ia pernah, akan di jodohkan dengan nona Ayne, anak tiri dari Alona Wichilia.


"Kami ingin kalian bertunangan," ujar Alona Wichilia.


Hah


Duchess Alexsa syok, ia di panggil bukan masalah lainnya. Melainkan tentang dirinya. "Ibu, maksud Ibu apa?"


"Alexsa, sudah saatnya kamu menata hidup baru. Duke Vixtor saja bisa bahagia, kenapa kamu tidak? kamu harus membuktikan kalau kamu bisa bahagia tanpa dia," ucap Alona Wichilia. Dia ingin Alexsa memulai hidup baru.


"Tapi Bu..."


"Aku setuju, aku ingin secepatnya pesta pertunangan ini di adakan," ujar Putra Mahkota Delix memotong perkataan Duchess Alexsa.


Sedangkan Alona Wichilia begitu bahagia, ia lega, putrinya akan di cintai oleh Putra Mahkota, bukan karena apa? tapi ia melihat kesungguhan cinta di kedua mata Putra Mahkota. Saat tatapannya tertuju pada Alona, ada kemurnian cinta di kedua mata itu.


"Apa Putra Mahkota mencintai Alexsa?"


"Iya, saya sangat mencintai Alexsa." Tegas Putra Mahkota Delix.


Duchess Alexsa bagaikan patuh yang langsung terbelah dua. Boro-boro Putra Mahkota Delix langsung mengatakannya tanpa meminta pendapatnya lebih dulu.


"Satu minggu lagi, aku ingin mengadakan pesta pertunangan ini dengan meriah dan Putra Mahkota Delix. Kamu harus memperketat penjagaan, aku tidak ingin ada monster atau manusia iblis yang mengacau. Mintalah pada Duke Vixtor dan Marquess Ramon."


"Baginda, bagaimana dengan Ayne?" Duchess Alexsa menunduk setelah melihat kebinaran di mata sang ibu. Ia ingin menolak, namun ia tak kuasa. Ibunya sangat bahagia. Ia tidak tega menyakiti sang ibu setelah sang ibu cukup menderita karenanya. Apa lagi orang pernah mengatakan, lebih bahagia dengan orang yang mencintai kita dari pada dengan orang yang kita cintai. Saat itulah kita akan merasakan di cintai dan di hargai. Karena orang yang kita cintai belum tentu mencintai kita seperti kita mencintainya.


"Jangan memikirkan orang lain, pikirkan kebahagiaan mu sendiri," ucap Alona Wichilia. "Masalah itu, biar ibu yang mengatasinya. Ibu memang salah datang pada keluarga mereka, tapi ibu tidak memiliki pilihan lain. Ibu juga harus berkorban dan ibu tidak ingin kamu berkorban seperti ibu Alexsa. Seandainya ada jalan lain, ibu tidak akan memasuki kehidupan rumah tangga Marquess. Ibu, terpaksa Alexsa. Ibu terpaksa harus menikah, tapi tidak dengan mu. Tidak ada kata penyesalan dalam hidup ibu selama melahirkan mu, justru kedatangan mu lah yang membuat ibu kuat, yang membuat ibu tersenyum. Kamu Alexsa, jika pun Marquess Ramon yang menghalangi mu maka ibu yang akan mengatasinya. Karena tidak ada cinta di antara kami."


Duchess Alexsa mengangguk, wacana dari sang ibu tak bisa ia tolak. "Tapi, biarkan penutup wajah ini tetap aku pakai sampai di pesta pertunangan itu."


"Baiklah, aku tidak keberatan Alexsa." Baginda Kaisar menyanggah dengan cepat. Setidaknya, pasangan yang ia jodohkan akan saling melindungi dan saling menguatkan. Dia ingin putra semata wayangnya bahagia dan jika di lihat keadaan politik tentu keduanya akan kuat.