Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Bab 83


Ellena semakin menggigil, tubuhnya gemetar. Dia meringkuk di atas jerami dengan air mata yang berderai. Sekujur tubuhnya terasa sakit, ia hanya berharap Duke Vixtor secepatnya menemukannya. Dalam hatinya bersumpah akan membuat Alexsa dan Alona Wichilia menderita.


Sama halnya dengan Ayne dan Marchioness Mery. Kedua wanita itu merasakan tubuhnya panas dingin dan sakit. Air mata tak pernah berhenti, mereka berharap esok pagi akan ada orang yang menolongnya. Ayah dan kakaknya sudah pasti mencarinya. Sudah seminggu mereka terjebak di kerajaan iblis, hanya di beri satu kali makan. Bahkan makanan itu pun hanya sepotong roti, tidak bisa mengenyangkan bagi perut mereka. Hukuman cambuk itu membuat mereka seperti seorang gembel. Bahkan mereka juga mengumpat Alona Wichilia dan Alexsa. Lantaran karena nama itulah yang membuat mereka hidup sengsara.


"Kapan ayah dan kakak mu menemukan kita?" tanya Marchioness Mery. Dia hanya bisa menahan sakitnya di seluruh tubuhnya.


Ayne melirik tajam sang ibu. "Seandainya ibu tidak memancing kemarahan Raja Iblis, pasti kita tidak akan seperti ini. Apa ibu tahu? Raja Iblis menyukai Alona Wichilia. Entah wanita itu di jadikan selir ke berapa? haih, hidupnya membuat orang lain susah."


"Diamlah! kita juga lagi susah, tangisan mu membuat kita tambah susah," kesal Marchioness Mery. Ia gedek melihat Ellena yang terus merintih dan mennagis.


Ellena bangkit dari tidurnya. "Ini semua salah mereka,"


Ayne memutar bola matanya, ia jengah melihat Ellena. Dari dulu mereka memang tidak akrap, hanya Marquess Ramon dan Duke Vixtor yang akrap. "Dari tadi kita membahas itu kan, apa kamu baru nyadar, hah?"


Ellena menatap kesal Ayne. Beraninya wanita di sampingnya malah melawannya. "Apa kamu tidak tahu siapa aku? aku istrinya Duke,"


"Dan aku anaknya Marquess, jadi jangan sok sombong."


"Sudah, sudah. Percuma kita bertengkar karena dua wanita itu. Kita harus mencari cara agar membuat Raja Iblis itu mengeluarkan kita."


"Aku ada ide, bagaimana kalau kita membuat kerja sama dengan Raja Iblis? Kita bantu Raja Iblis bertemu dengan Alona."


"Wah benar, Ayne cepat kamu minta pada penjaga itu, bilang saja kalau kita akan membantu Raja Iblis bertemu dengan Alona," ucap Ellena. Wanita seakan menemukan secercah harapan untuk keluar. Dia tidak betah hidup menderita di penjara. Sudah kotor, tidak ada tempat tidur dan harus menahan lapar. Bergelimangan harta sudah membuatnya nyaman,


Ayne melirik sinis, kemudian berlalu memanggil sang penjaga.


Di tempat lain.


Duke Vixtor dan Marquess Ramon juga mengkhawatirkan keadaan ketiga wanita itu. Duke Vixtor harus pergi mengurus wilayah yang di serang oleh monster iblis sedangkan Marquess dan Albern mencari Ayne, Marchioness Merry dan Ellena. Kedua laki-laki itu mencari jejak mereka, di seluruh Ibu Kota sudah di cari. Bahkan mereka memajang lukisan ketiga wanita itu dengan iming-iming uang bagi yang menemukannya.


Sedangkan Alexsa, dia fokus pada pembuatan obat sang kakek. Karena kekuatannya belum stabil dan dia memaksa untuk membuat Obat bunga Alora hingga saat ini dia masih bersemedi untuk mengeluarkan semua kekuatannya.


"Sudah seminggu Alexsa bersemedi, aku takut tubuhnya tidak akan kuat."


Di detik-detik terakhirnya, Alexsa berhasil membuat tanaman itu tumbuh di atas tanah dengan pot kecil. Hanya tiga daun kecil yang tumbuh dan mengeluarkan sebuah api.


Alona Wichilia memanggil seorang pelayan, yang tak lain pelayan Anne. Alexsa telah membawa pelayan Anne ke istana untuk menjadi pelayan pribadinya kembali.


"Panggil dokter istana," seru Alona Wichilia. Dia nampak khawatir melihat sang putri.


"Sayang, bangun... Jangan sampai terjadi sesuatu pada mu." Alona Wichilia mengusap tangan kiri Alexsa. Air matanya pun sudah merembas keluar sesuai dengan rasa takut di hatinya.


"Nyonya."


"Periksa Alexsa."


Dengan sigap Dokter istana memeriksa Alexsa dan memastikan keadaannya.


"Nyonya, ini mau di taruh di mana?" tanya pelayan Anne. Dia membawa tumbuhan Alora yang baru tumbuh itu ke dekat Alona Wichilia.


"Tumbuhan ini," Alona Wichilia memegang erat tumbuhan yang selama bertahun-tahun ini di tunggu olehnya.


"Sebaiknya Nyonya secepatnya mengobati Tuan Duke, biar saya yang menjaga nona Alexsa."


Tidak mendapat jawaban, Alona Wichilia masih mengkhawatirkan Alexsa.


"Jangan takut, Nyonya. Biar saya yang berjaga, kalau nona Alexsa sudah sadar. Saya akan mengabari Nyonya."


Sedangkan Putra Mahkota Delix, mendengarkan sang tunangan tak sadarkan diri, ia langsung bergegas menuju kamar tunangannya itu.


"Bagaimana keadaan Alexsa?" tanya Delix yang muncul di ambang pintu.


Alona Wichilia tak menjawab, sedangkan Putra Mahkota Delix menemukan sebuah tanaman di atas pot itu menyadari bahwa kerja keras Alexsa membuahkan hasil.


"Ibu tidak perlu khawatir, biar aku yang menjaganya. Sebaiknya ibu secepatnya mengobati Duke Aiken, lebih cepat lebih baik, Bu."


Putra Mahkota Delix mengerti akan ketakutan di wajah Alona Wichilia, sama sepertinya dirinya yang sangat khawatir pada sang tunangan. Namun dia percaya, bahwa tunangannya akan sadar.