Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Kebenaran


Kesunyian dan keterkejutan semua orang membuat suasana di aula itu menegangkan. Mereka tak yakin yang di bicarakan oleh Alexsa, seakan membual.


"Apa buktinya kalau kalian memang keluarga Duke Aiken?" tanya seorang bangsawan laki-laki.


Alona Wichilia menghapus air matanya, ia tidak ingin lemah. Putrinya membelanya di hadapan semua orang sedangkan dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia maju, berada di tengah-tengah putri dan menantunya. Menggerakkan satu tangannya hingga sebuah tanaman muncul di hadapannya.


"Benar, aku anak kedua dari Duke Aiken Wichilia, Alona Wichilia. Di kehidupan ini aku bersalah pada keluarga Marquess, tapi pada saat itu aku tidak memiliki pilihan lain. Apa kalian menyangka aku mencintai Tuan Marquess. Maaf, selama ini aku hanya berpura-pura. Kalian menghina ku karena aku perempuan tidak tahu malu. Benar, aku perempuan yang tidak tahu malu. Bahkan aku mengorbankan harga diriku demi pengobatan sang ayah. Ayah ku, Duke Aiken sudah bertahun-tahun berbaring dan hanya bisa di sembuhkan oleh tanaman berapi." Alona Wichilia menghapus air matanya. "Aku mengorbankan hidup ku sendiri demi ayah ku, setidaknya kalian juga menuainya." Teriak Alona Wichilia. Keadaannya ingin menceburkan dirinya, maka lebih baik tercebur dan mengatakan semuanya.


"Jadi Duke Aiken masih hidup?" tanya seorang bangsawan tersenyum senang. Duke Aiken memang memiliki nama baik di antara para bangsawan, kedermawanannya dan suka menolong membuat semua bangsawan sangat senang padanya. Saat Duke Aiken dan seluruh keluarganya dinyatakan tewas, para bangsawan pun bersedih. Mereka tidak menyangka, akan kehilangan sosok seperti Duke Aiken.


"Tapi tetap saja, kamu merusaknya kan," ujar Ayne.


Marquess Ramon tidak terima, apa lagi tadi Alona Wichilia mengatakan tidak mencintainya dan terpaksa. "Ayne, cukup! apa kamu puas mengungkit masa lalu yang sudah di kubur. Aku dan nona Alona Wichilia juga korban di sini."


"Tidak Marquess, kamu bukan korban. Justru wanita itu yang menjebak mu."


"Seandainya aku punya pilihan, aku tidak akan masuk ke dalam keluarga kalian. Selama ini aku bertahan hidup aku tidak pernah meminta harta keluarga kalian. Bahkan menjadi istri pun aku tidak menyentuh harta yang diberikan keluarga Marquess." Tegas Alona Wichilia.


"Cukup Marchioness Mery, dia tidak bersalah. Justru kamu yang menambah semua ini."


Marquess Ramon menatap tajam istrinya, dia melihat pada Albern agar membawa sang ibu dan adiknya pulang.


"Baginda, maaf atas kekacauan ini dan Alona Wichilia, Alexsa kita pulang."


Marquess Ramon ingin mengajak mereka pulang kerumahnya. Apalagi Alona Wichilia masih berstatus istrinya.


"Apa ayah ingin ibu di tindas lagi oleh Marchioness Mery dan yang lainnya?" tanya Alexsa yang tidak habis pikir dengan Marquess Ramon. Bisa-bisanya masih mengajak ibunya untuk pulang.


"Tidak, jika ayah yang membawa mu pulang dan ibu mu. Ayah yang akan melindungi kalian."


Para wanita bangsawan berbisik-bisik, ada yang kasihan pada Alexsa dan sang ibu dan ada yang kasihan pada Marchioness Mery dan kedua anaknya karena Marquess Ramon terang-terangan ingin membawa Alexsa dan Alona Wichilia.


"Maaf Marquess, aku masih ada sesuatu yang ingin di bicarakan dengan Nyonya Alona Wichilia." Sanggah Baginda Kaisar. Suasana saat ini tidak mendukung keduanya di bawak oleh Marquess Ramon.


"Benar, kami masih ada urusan." Timpal Alona Wichilia. Ia bersyukur, Baginda Kaisar menolongnya.


Sedangkan Duke Vixtor, hanya mampu menggeram di tahan, dia tidak bisa menghentikannya atau pun berkomentar. Dia mengakui kebodohannya karena tidak mengenali nona Rose lebih awal. Dia pun langsung keluar lewat pintu samping. Pemandangan itu seakan membuatnya tercekik, bayangan di mana Alexsa telah resmi menjadi tunangan Putra Mahkota. "Sial!" geramnya seraya menggesek dasi yang seakan mencekiknya.


Sedangkan Ellena, dia tidak menyangka Alexsa adalah putri dari Alona Wichilia bangsawan yang terkenal. Dia marah karena Alexsa ternyata adalah bangsawan yang terkenal itu.