
"Rupanya kalian sudah bangun," suara dingin bagaikan es yang menyelimuti tubuh ketiga wanita yang baru sadar itu. Kedua mata mereka menatap intieor istana yang megah, luas tak kalah dengan istana Kekaisaran dan sebuah singgasanah di hadapannya.
Seorang laki-laki dengan wajah tampan namun mengerikan ketika melihat bola matanya. Entah bagaimana? mereka tidak ingat apa yang telah terjadi, yang mereka ingat hanyalah pertemuan itu.
Nyali mereka pun menciut, mereka sadar, saat ini di hadapannya bukan manusia sembarangan.
"Berikan hormat pada Raja Iblis," ucap seseorang dengan nada dingin.
Sontak ketiga wanita yang terikat rantai di kedua kaki dan kedua tangannya terkejut, mereka tak menyadari, kapan laki-laki itu muncul di hadapannya.
"Raja Iblis." Gumam Ayne. Nyalinya semakin menciut, ia sadar, kalau sekarang telah menjadi tawanan Raja Iblis. "Anda Raja Iblis." Jantung Ayne seakan meledak dari tempatnya. Keringat bercucuran di keningnya. Nyawanya kini terancam. Entah ayah atau kakaknya menyadari sosoknya yang menghilang.
"Kenapa anda menculik kami? apa salah kami?"
Laki-laki bermantel hitam dan dada bidangnya yang sexy itu tersenyum, dia bangkit dan perlahan menuruni anak tangga. Seakan mengincar tawanannya.
"Ibu, kenapa kamu tanya seperti itu? bagaimana kalau Raja Iblis marah dan kita jadi santapannya?"
Marchioness Mery menelan ludahnya susah payah, dia menunduk dan meremas jari-jarinya.
Sedangkan Ellena, dia diam bagaikan orang linglung. Antara percaya dan tak percaya. Dia menjadi tawanan Raja Iblis dan tidak tahu masalahnya. Dia takut, sangat takut hingga otaknya seakan tak berfungsi, seluruh tubuhnya seakan rapuh.
"Kalian tahu, aku menculik kalian bukan percuma-cuma."
Ayne dan Marchioness Mery menatap sepatu hitam dengan hiasan mutiara berwarna biru itu. Mereka memejamkan matanya, ketakutan menyelimuti sekelilingnya.
"Ma-maa-k-sud Raja,"
Raja Iblis berjongkok, di antara ketiga wanita itu memang terlihat cantik. Namun tidak menarik di matanya. "Apa kalian kenal dengan Alona Wichilia?"
Marchioness Mery menegang, dia mendongak seakan tidak takut. Mengingat nama yang menurutnya busuk itu membuat amarahnya langsung memuncak.
"Heh, wanita busuk itu."
Plak
Entah semenjak kapan seakan ada seseorang yang menamparnya. Dia jatuh tersungkur ke belakang dan kedua tangannya yang di ikat sebagai penyanggah tubuhnya agar tidak terlalu jatuh ke lantai.
"Kenapa anda menampar saya? dia memang wanita busuk yang telah mengganggu kebahagiaan saya. Dia wanita yang tak tahu...."
"Ibu!" bentak Ellena. Ia semakin kesal dengan ibunya yang tidak mengerti situasi dan kondisinya. Bukan saatnya mengejek wanita itu, melihat tamparan sang ibu, ia tahu Raja Iblis membela Alona Wichilia. Entah apa hubungan mereka yang tidak ia ketahui?
"Cukup Ibu," sentak Ellena. Dia takut, nyawa ibunya terancam.
"Kenapa Ellena? bukankah kamu juga membencinya, Alona dan anaknya, Alexsa. Mereka telah membuat kita seperti ini. Aku tidak akan memaafkannya."
plak
Darah segar langsung keluar dari sudut bibir Marchioness Mery. Dia melihat Raja Iblis berdiri di hadapannya. Otaknya langsung terkumpul setelah menerima kesakitan yang kedua kalinya.
"Katakan sekali lagi, akan aku pastikan. Esok hari, lidah mu sudah tidak menyatu."
Marchioness Mery diam dan menunduk.
"Aku tahu, kalian tidak menyukai Alona Wichilia, tapi aku tidak suka kalian menjelekkannya dan kalian malah menghinanya." Raja Iblis berucap dengan nada dingin. Dia membenci siapa pun yang menghina calon istrinya itu. Wanita yang sangat ia dambakan.
"Jebloskan mereka kepenjara dan sebelum itu, berikan hukuman cambuk pada ketiga wanita ini dan jangan beri mereka makan." Nada perintah dan tegas itu membuat laki-laki di belakang ketiga wanita itu memberikan hormat, Kedua orang dari arah pintu masuk dan memberikan hormat. Lalu membantu ketiga bangsawan itu berdiri.
"Lepaskan saya!" bentak Ayne dan Marchioness Mery.
"Saya akan membantu anda membuat Alona Wichilia menjadi simpanan anda."
Raja Iblis semakin murka, matanya setajam pedang itu seakan ingin mengulitinya. "Bawa mereka dan tambahkan hukuman cambuk itu."