
"Alona Wichilia, bisakah kita berbicara sebentar." Marquess Ramon menatap ke arah wanita yang baru datang itu. Hitung-hitung dia ingin berbasi-basi. Setidaknya ia bisa dekat atau bisa memulai hidup baru. Entahlah, ia tidak mengerti tentang perasaannya. Rasanya tidak ingin melepaskan Alona Wichilia. Bukan karena statusnya, tetapi sorot matanya yang tidak tertarik padanya. Apa lagi pengakuannya dan membuatnya tertarik. Seakan ada magnet yang menariknya.
"Baiklah," jawab Alona Wichilia.
"Alexsa, Putra Mahkota beristirahatlah. Kalian pasti lelah,"
"Baik ibu," sahut Putra Mahkota Delix. Dia menarik lengan Alexsa yang menatap tak percaya dengan panggilan ibu.
"Emmm, sampai kapan Duke Aiken seperti ini?" tanya Marquess basa-basi.
Alona Wichilia menatap sendu ke arah sang ayah. Dia rindu ayah yang selalu memeluknya, dia rindu ayah yang selalu memanjakannya. Mengingat tentang ayahnya, juga mengingatkannya pada sosok sang kakak.
"Aku tidak tahu, kekuatan Alexsa belum stabil. Kekuatannya bisa meledak kapan saja dan membahayakan nyawa Alexsa. Aku tidak bisa memaksanya untuk mengambil resiko."
"Jadi..."
"Kekuatannya belum bersatu."
"Tapi dia bisa menggunakan kekuatan itu dalam satu waktu." Marquess Ramon bingung dengan misteri kekuatan Alexsa.
"Kamu tidak tahu Marquess. Semakin Alexsa menggunakan kekuatannya sesering mungkin. Tubuhnya akan melemah, Aku sudah membaca buku rahasia itu." Kedua mata Alona Wichilia mengembun. Dia takut, keadaan Alexsa akan melemah.
Deg
Marquess Ramon merasa lemah di seluruh tubuhnya, Alexsa akan melemah kalau dia mengeluarkan banyak kekuatan. Hatinya merasa sakit membayangkan Alexsa berjalan menjauhinya.
"Bagaimana kalau dia tidak mengunakan kekuatan itu? tubuhnya tidak akan melemah bukan,"
"Setidaknya, tubuhnya bisa bertahan. O iya, bagaimana keadaan Marchioness?" tanya Alona Wichilia mengalihkan pembicaraannya.
Marquess Ramon merasa malas membahasnya. Setiap ada pertemuan pasti ada sindiran dari mulut pedasnya dan setelah itu berujung pertengkaran. "Entahlah, dia selalu marah-marah."
"Karena aku?" tebak Alona Wichilia. "Kapan Marquess akan mempercepat penceraian kita?"
Satu pertanyaan yang tak bisa dia jawab, antara iya dan tidak. Ia tidak tahu harus menjawab yang mana.
Di tempat lain.
"Albern!" suara keras dan di sertai suara membuka pintu dengan kasar membuat laki-laki yang tengah berkerja itu kaget.
"Ibu,"
"Dimana ayah mu? apa dia datang ke istana?" cecar Marchioness Mery. Kalau ke istana, sudah pasti akan bertemu dengan musuh bebuyutannya.
Albern menahan emosinya karena terganggu. "Ayah ke istana karena ada panggilan Baginda Kaisar tentang monster yang sudah menyerang wilayah selatan." sahut Albern.
"Apa?! apa kamu tidak ikut ayah mu? Albern bagaimana kalau Alona Wichilia menggoda ayah mu?"
"Ibu! bukan nyonya Alona Wichilia yang menggoda, tapi ayah yang tidak mau berpisah. Tolonglah Bu, aku sudah lelah. Kalau di pikir-pikir, Nyonya Alona Wichilia juga korban sama dengan ibu."
"Tapi aku di sini yang di korbankan Albern,"
"Astagah Ibu!" Albern memijat pelipisnya. Dia lelah dengan permasalahan keluarganya yang tidak selesai-selesai.
Marchioness Mery melengos, dia kesal pada anaknya yang tidak membelanya. Justru membela Alona Wichilia, anaknya dan suaminya seakan tidak melihatnya lagi. Dia ingin suaminya secepatnya menceraikan Alona Wichilia, tapi entah bagaimana caranya.
*Mery
Mery
Mery*
Dahinya berkerut, ia merasa ada seseorang yang memanggilnya.
*Mery
Mery
Mery*