
Kehebohan di istana membuat semua bangsawan membicarakannya, bahkan seluruh kekaisaran pun sudah tahu. Nona Rose adalah Alexsa cucu dari Duke Aiken dan anak dari Alona Wichilia, anak kedua Duke Aiken.
Kejadian itu pun menjadi pembicaraan hangat di seluruh Ibu Kota.
prank
"Apa maksud mu mengatakan ingin membawa Alona Wichilia ke rumah ini?" pecahan vas bunga yang ia lemparkan berserakah di lantai dan beberapa pecahan hampir mengenai kaki Marquess Ramon. Dadanya naik turun, ia tidak terima suaminya malah ingin membawa istri keduanya.
"Aku tidak ingin merasa bersalah seumur hidup,"
Hah
Marchioness Mery menganga, dia menekan dahinya. 'Tidak ingin merasa berslaah' sebuah kata yang tidak ingin ia dengarkan. Bahkan membayangkan wanita itu berkeliaran di rumahnya, ia sudah tidak mampu, bisa-bisa dia gila seumur hidupnya.
"Apa kamu tidak peduli dengan perasaan ku Marquess?"
"Aku peduli, tapi aku ingin menebus semua kesalahan ku, Mery."
Marchioness Mery menggeleng, ia tidak terima."Aku tidak mau dan tidak akan menerimanya." Tungkas Marchioness Mery.
Sedangkan Ayne, dia tertawa. Hidupnya di permainkan oleh satu pemeran dan tidak menyangka bahwa perannya sangat beracun. "Alexsa, dulu ibu mu. Sekarang dirimu, aku tidak akan melepaskan Putra Mahkota Delix. Sama seperti ibu ku yang tidak bisa melepaskan ayah ku. Bagus Alexsa," Ayne menggeram, tangannya mengepal dengan kuat. Tidak semudah itu untuk mengalahkannya.
___
Ellena mondar mandir di kamarnya, ia melihat ke box bayi dan Kania menangis. Dia memanggil ibu asuhnya untuk membawa Kania. Pikirannya kalut, ia tidak bisa berfikir jernih. "Aku kira dia akan menjadi gembel."
brak
Ellena memukul atas nakas di sampingnya dan membuat vas bunga itu bergeser. "Hah, kenapa aku harus kalah dengannya? bersusah payah aku ingin menang darinya. Mempertahankan Duke dan akhirnya menjadi Duchess."
"Apa Duke akan tergoda? tidak mungkin, dari dulu dia tidak mencintai Alexsa kan, yaa... Duke masih menjadi milik ku."
Ellena langsung berlari, dia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa dan menanyakan pada salah satu pelayan yang melihatnya. "Apa kamu melihat Tuan?"
"Tidak Nyonya," jawab seorang pelayan.
"Kemana Duke?" Ellena terus mencari di sekeliling kediaman Duke dan bertanya pada beberapa pelayan dan pelayan itu pun menjawab tidak melihat Duke.
"Tidak seperti biasanya Duke menghilang dan tidak tahu."
Sedangkan yang di cari, Duke Vixtor malah duduk menyendiri di belakang rumahnya. Tepatnya di hutan, tak jauh dari rumahnya ada sebuah hutan. Dia duduk di atas pohon sambil menyandarkan punggungnya, satu kakinya di tekuk sedangkan satu kakinya berselonjor. Pikirannya terus membayangkan pertunangan itu, dimana dia telah di tipu. Ingatan itu masih tercetak, di mana ia pernah bertarung dengan Alexsa.
"Apa Marquess tahu? apa Putra Mahkota Delix dan Baginda Kaisar tahu? semuanya tahu dan hanya aku yang tidak tahu." Meskipun dia tidak bertanya, kejadian itu sudah cukup menjawab semua pertanyaan yang muncul di benaknya.
"Marquess mengetahuinya, tapi dia berbohong pada ku. Argh... Aku harus menemui Alexsa,"
Duke Vixtor turun dari dahan itu, menaiki kudanya dan kemudian melajukannya dengan sangat kencang.
Sesampainya di istana. Duke Vixtor meminta pada beberapa pelayan untuk menemui tunangan Putra Mahkota.
Sang pelayan pun menghampiri Alexsa dan Putra Mahkota yang sedang duduk berdua di ayunan halaman istana.
"Al, untuk apa Duke menemui mu?" tanya Putra Mahkota Delix. Dia takut, Alexsa akan goyah, karena dirinya tahu bahwa ia tidak sekuat Duke Vixtor meskipun dia seorang Putra Mahkota.
"Aku tidak tahu, Delix," jawab Alexsa. Keduanya telah sepakat akan mengucapkan nama masing-masing. "Jangan khawatir, mungkin ada beberapa hal yang ingin dia tanyakan."
"Apa kamu mengijinkannya?" tanya Alexsa yang membuat Putra Mahkota Delix terkejut. Tentu saja, karena Alexsa meminta ijin darinya.
"Baiklah, tapi harus bersama ku. Mari kita temui Duke Vixtor," ucap Putra Mahkota Delix.