Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Duchess Vs Duke


Emmm


"Dimana Putra Mahkota, Baginda?" tanya Marquess Ramon.


Baginda Kaisar mengetuk pegangan kursi itu, ia mencari jawaban yang tepat untuk Marquess Ramon. "Putra Mahkota sedang melatih kedua Kesatria Nona Rose."


Sedangkan Duke Vixtor. Laki-laki itu memilih diam. Pikirannya sangat kacau, bahkan ia tidak menemukan ketenangan di pikirannya. Setiap malam ia akan di hantui oleh mimpi, hingga ia harus meminum obat tidur.


"Saya pamit Baginda."


Marquess Ramon mengerutkan keningnya. Tidak biasanya Duke Vixtor pulang lebih dulu sebelum dirinya. Biasanya, ia dan Duke Vixtor pulang bersama dan kadang masih sempat mengobrol.


"Ada apa dengan Duke Vixtor?" tanya Baginda Kaisar.


"Kalau begitu, saya pamit Baginda." Marquess Ramon menyusul langkah kaki Duke Vixtor yang telah keluar dari ruang pertemuan.


Duke Vixtor mematung, mana kala dia mendengarkan suara orang tertawa. Persih dengan Duchess Alexsa dan membuatnya berbelok ke arah lain. Ia mendengarkan suara itu secara saksama.


Dalam hatinya, sebuah harapan besar, yaitu bertemu dengan Duchess Alexsa dan menanyakan kebenarannya. Meskipun ia tak menyangkal yang ia lihat sebuah kebenaran. Sebelum ia pulang ke kediamannya,.ia langsung menuju tempat pelayan Anne. Namun, wanita itu tetap mengatakan Duchess Alexsa akhir-akhir ini tidak menemuinya.


Sesampainya di halaman samping. Ia melihat wanita yang membelakanginya. Rambutnya dan postur tubuhnya sama persis dengan sang mantan istri. Tangan kanannya pun terulur menyentuh bahunya.


Duchess Alexsa menoleh dan mendapati seseorang yang ia benci.


Duke Vixtor menatap sendu, ternyata angan-angannya untuk bertemu dengan Duchess Alexsa salah.


"Maaf,"


Duchess Alexsa tersenyum miring. "Apa Duke menyangka saya seseorang yang anda kenal?"


"Ah, iya.. Nona terlihat mirip dengan seseorang."


"Siapa? mantan istri Duke?" Duchess Alexsa terkekeh. Melihat raut wajah Duke Vixtor seperti tebakannya memang benar. "Penyesalan memang datangnya terlambat."


"Tidak tahu apa? semua orang sudah tahu. Bahwa Duke tidak menginginkan Duchess dan setelah pernikahannya, Duke membawa kekasih Duke dan seorang anak."


"Jujur, saya kasihan pada Duchess. Eh, maksud saya nona Alexsa, tapi saya yakin. Kehidupannya sekarang lebih bahagia dari Duke."


Duke Vixtor yang terpancing oleh amarahnya. Ia langsung menarik pedang di dalam sarungnya itu dan mencodongkan ke leher Duchess Alexsa.


"Duke, turunkan pedang mu. Apa-apaan anda melayangkan pada tamu Baginda Kaisar!" bentak Putra Mahkota Delix.


Duchess Alexsa mengeluarkan kekuatannya. Dia mengumpulkan tanaman rambat di sampingnya dan berduri itu menjadi sebuah pedang.


Ia pun menepis perlahan pedang Duke Vixtor. "Mau bermain dengan ku, Duke. Tapi, permainannya sangat serius."


"Jangan salahkan saya berbuat kekerasan."


"Duke!" bentak Putra Mahkota Delix.


Duchess Alexsa menoleh. "Biarkan saja Putra Mahkota. Aku ingin melihat kekuatan Duke Vixtor yang mencampakan istrinya."


Duchess Alexsa menuju ke tempat yang lebih luas, tidak jauh dari mereka dan di ikuti Duke Vixtor.


Tanpa menunggu lama, Duke Vixtor menyerang Duchess Alexsa. Mereka saling beradu, menepis dan menyerang. Hingga Duke Vixtor mengeluarkan api birunya dan api itu menyerang atau terlempar ke arah Duchess Alexsa. Karena ia tahu, tanaman akan layu karena api. Namun, suatu hal yang membuatnya terkejut. Tanaman berbentuk pedang itu juga mengeluarkan api, ya api merah. Duchess Alexsa menahan api birunya itu dengan mengeluarkan api merahnya di tanaman rambatnya.


"Kamu kira, hanya kamu yang memiliki api Duke." Duchess Alexsa tertawa. Dia melempar api biru itu ke tanah dan membuat tanaman yang tumbuh itu seketika mati.


"Api merah? tidak mungkin,"


"Tentu saja mungkin, karena aku memang memilikinya. Memangnya anda pikir hanya Marquess Ramon yang memilikinya, heh,"


Sedangkan tak jauh dari sana. Marquess Ramon menegang, ia terkejut. Karena hanyalah keturunannya yang memiliki api merah itu. "Bagaimana mungkin?" Semua pertanyaan muncul di benaknya. Kakeknya hanya mengatakan bahwa hanya keturunan Marquess lah yang memilikinya. Namun, keluarganya tidak memiliki hubungan apapun dengan keturunan Duke Aiken.