Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Cerai


Keesokan harinya.


Seorang wanita membuka pintu kokoh itu, di ikuti salah satu pelayan yang membawa sebuah nampan. Dia melihat, suaminya tengah berkutat dengan dokumen di depannya. "Duke," sapanya dengan lembut.


Duke Vixtor mendongak dan tersenyum. "Sayang, sudah bangun."


Ellena menghela nafas, tentu saja ia sudah bangun karena sudah pagi dan Duke Vixtor, suaminya itu masih menggunakan jubah tidurnya sambil berkerja. Entah jam berapa dia bangun. "Jangan terlalu lelah, aku tidak mau Duke kenapa-napa," ucapnya khawatir.


Duke Vixtor mengangguk, dia menarik Ellena ke pangkuannya dan memberikan kode pada pelayan agar pergi meninggalkannya.


Duke Vixtor mencium pipi Ellena, kemudian mengecup singkat bibir sang istri. "Maaf sayang, aku harus berkerja demi masa depan mu dan putri kita. O iya, kamu membawakan sarapan. Aku akan makan, asalkan kamu menyuapinya."


Ellena menurut, dia menyuapi Duke Vixtor. "Duke, kapan kamu akan menceraikan Duchess?"


"Secepatnya, hari ini aku akan membahasnya."


Ellena langsung memeluk Duke, ia sangat berterima kasih karena Duke Vixtor akan menceraikan Duchess Alexsa. Sedangkan dirinya akan menjadi satu-satunya seorang nyonya dan istri dari Duke. "Terima kasih, ayo Duke harus habiskan. Kita akan menemui Duchess."


Duke Vixtor memakan dengan lahap, kemudian Ellena turun dari pangkuannya dan keduanya pergi menuju Villa belakang.


Sesampainya di Villa belakang, mereka melihat pelayan Anne yang sedang menyapu dan menghampirinya. Tentu saja pelayan Anne bingung harus menjawab apa? apa lagi majikannya tidak pulang sejak semalam.


"Dimana Duchess?" tanya Ellena tanpa basa basi.


Pelayan Anne menunduk, ia memegang erat sapu lidi itu. Wajahnya mulai cemas.


"Dimana Duchess?!" tegas Ellena yang tidak tahan dengan kebungkaman pelayan Anne. Merasa curiga, ia tersenyum licik. "Apa Duchess tidak ada di dalam?" imbuhnya lagi.


Pelayan Anne mendongak. "Ti-tidak Nyonya."


"Di lihat dari wajah mu, sepertinya kamu menyimpan sebuah rahasia. Katakan! dimana Duchess?"


"Duchess...."


"O aku tahu, pasti Duchess keluar kan, tanpa seijin Duke. Aku tidak menyangka, seorang Duchess keluar tanpa seijin dari Duke. Ini masih terlalu pagi atau jangan-jangan, tadi malam Duchess keluar. Entah apa yang akan di bicarakan oleh bangsawan. Aku sungguh malu," ujarnya pura-pura sedih.


"Duchess ti...."


"Cukup!" Duke Vixtor langsung menerobos masuk. Dia memanggil nama Duchess Alexsa. Namun, wanita itu tidak keluar.


"Duchess!"


Ellena tersenyum. "Bersiap-siaplah pergi dari kediaman Duke dan mengikuti majikan mu itu."


"Anda...." Ingin sekali pelayan Anne menampar wajah yang menjengkelkan itu.


"Dimana Duchess?!" tanya Duke Vixtor. Dia sudah mencari setiap sudut Villa. Namun, tidak menemukannya dan ia sangat yakin, Duchess Alexsa sedang ada di luar. "Katakan dimana Duchess!"


"Duchess ada di..."


"Ada apa memanggil ku, Duke." Sebuah suara membuat mereka menolah. Lagi-lagi Ellena tersenyum. Pemeran utamanya telah datang.


"Duchess, aku sangat khawatir pada mu." Basa-basi Ellena.


"Darimana saja kamu Duchess?" tanya Duke Vixtor dengan darah mendidih. Ia tidak suka ada wanita yang membangkang.


"Apa Duchess keluar? hemm, Duchess sebagai seorang bangsawan. Tentu kamu harus tahu tata kramanya."


Duchess Alexsa tertawa kecil. "Bagaimana seorang pelayan bisa mengajari ku?"


Ellena meremas gaunnya, rentetan giginya bergesekan. Ia tidak terima di perlakukan seperti itu.


"Duchess jaga ucapan mu!" bentak Duke Vixtor. Ia menghampiri Duchess Alexsa. "Aku tidak peduli kamu mau apa? kita akan bercerai dan aku harap kamu menerimanya."


Dada Duchess Alexsa terasa panas. Sekuat apapun dia, setidak cinta apapun seorang istri atau secinta apapun seorang istri pasti ia akan merasakan sakit ketika suaminya memaksanya untuk bercerai. Padahal baru beberapa hari pernikahannya.


"Baik, aku terima Duke." Duchess Alexsa menerobos masuk dan menyenggol bahu Duke Vixtor. Hati terasa sakit, rasanya sangat sulit untuk bernafas. "Aku membenci mu, Duke."