Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Menjadi Selir


"Apa ayah akan diam saja?" tanya Albern.


Dia menatap laki-laki di hadapannya yang membelakanginya. Semenjak sang adik mendengarkan pertunangan Putra Mahkota Delix. Dia menangis setiap harinya dan mengurung diri.


"Ayah?!"


Marquess Ramon memutar tubuhnya. "Katakan, apa yang harus aku lakukan? apa aku harus menghalangi mereka? seharusnya kamu paham Albern,"


"Aku harus memahami seperti apa ayah?" Albern tidak terima adiknya menangis, ia rela melakukan apa saja demi sang adik. Hatinya memang iba dengan Alexsa, tapi egonya terlalu tinggi hingga menghapus rasa iba itu.


"Ya, kamu tidak akan merasa bersalah karena sosok pengorbanannya."


Albern menyugar rambutnya dengan kasar. Ingin sekali ia berteriak, namun sosok di hadapannya sangat ia hormati. "Ayah, Ibu, Aku, Ayne, kami juga berkorban."


"Kalau kamu memahami apa artinya pengorbanan. Seharusnya kamu diam dan jangan mengacau. Kamu tenangkan Ayne, dia seperti anak kecil saja. Dalam dunia politik, jelas sangat jelas Duke Aiken lebih berkuasa. Kalau di lihat dengan kekuatan, Ayne tidak sekuat dirinya. Sikap Ayne seperti anak kecil, aku tidak yakin dia bisa menjadi Ratu yang bijaksana." Sarkas Marquess Ramon. Dia sudah menetapkan tidak akan ikut campur. Setidaknya, ia ingin menebus kesalahannya di masa lalu.


"Kalau kamu sampai ikut campur, sama saja kamu melawan ayah Albern." Tegas Marquess Ramon. Dia menatap tajam sosok di hadapannya.


"Ayah?!" Albern menyerah. Dia tidak bisa membujuk lagi, sekali sang ayah bicara iya maka akan iya. Jika tidak maka tidak.


Marquess Ramon memejamkan matanya, mungkin dengan cara ini ia bisa menebus kesalahannya pada Alexsa. Sudah cukup Alexsa menderita dan itu karena kebodohannya di masa lalu. "Alexsa, ayah harap kamu bahagia."


Sedangkan di ruangan lain.


Marchioness Mery memasuki sebuah ruangan, mata perih melihat putrinya diam diri bagaikan manusia tanpa nyawa. Dia memakai pakaian tidur berwarna putih polos, menyandarkan kepalanya ke sisi jendela dan memandang lurus.


"Sampai kapan kamu seperti ini?" Marchioness Mery menghapus air matanya dengan sapu tangan yang ia pegang.


"Apa aku tidak secantik nona Rose?" tanya Ayne dengan air mata yang mengalir.


Marchioness Mery memegang lengan Ayne, dia memutar tubuh sang anak sampai menghadapnya. Kedua tanganya turun, menggenggam erat kedua tangan Ayne. "Kamu cantik, suatu saat kamu akan mendapatkan cinta yang lebih baik, percayalah. Ayah mu dan juga Kakak mu tidak bisa berbuat apa-apa."


Ayne tak menjawab, ia haus akan pelukan ibunya. Di saat seperti ini hanya pelukan sang ibu yang menenangkan pikirannya.


"Bu, aku mencintainya. Apa selama ini aku tidak bisa membuktikannya?"


"Tidak Ayne, ini masalah hati. Sama dengan ayah mu dulu, dia mencintai ibu dan melakukan apa pun ibu mau. Buktinya, dia mengabaikan Alexsa dan Alice," ucap Marchioness Merry sambil mengelus surai milik Ayne.


"Apa aku menjadi selirnya saja, Bu?"


"Ayne?!" pekik Marchioness Mery dengan geram. Menjadi Selir mungkin tak masalah, tapi ia takut Ayne akan di abaikan dan justru bertambah menderita.


Sedangkan di depan pintu.


Dia merasa gagal menjadi seorang kakak, mendengarkan ucapan Ayne, hatinya sakit. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perkataan sang ayah. Ancaman sang ayah, tidak pernah main-main. Kalau dia menegur Alexsa, sama saja dia melawan sang ayah.


"Apa yang harus aku lakukan? aku tidak bisa memberitahu mereka, bahwa Nona Rose adalah Alexsa." Dia tak menjamin sang adik tidak berbuat sesuatu pada Alexsa. Dia takut, adiknya akan berbuat nekat.