Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Pertunangan


Ehem


Putra Mahkota Delix mendekat, ia mengikuti arah pandang wanita di sampingnya. "Alexsa aku, maaf kalau kamu terpaksa bertunangan dengan ku."


"Putra Mahkota, sejujurnya aku masih ragu untuk melangkah. Ketika ibu ku meyakini, maka aku juga harus meyakininya."


Senyum mengembang di wajah Putra Mahkota Delix, perlahan Alexasa telah menerimanya. Jadi ia tak perlu ragu untuk terus melangkah. Entah angin dari mana? ia memberanikan diri memeluk Alexsa dari belakang. "Aku berjanji, aku berjanji akan selalu mengutamakan kamu Alexsa. Aku berjanji akan mencintai mu, Alexsa. Tidak peduli dengan status mu."


Duchess Alexsa tersenyum, walaupun sejujurnya dia merasa khawatir, bagaimana pandangan bangsawan terhadapnya setelah mengetahui jati dirinya.


"Jangan takut, Alexsa. Aku akan melindungi mu."


"Yaa...."


Putra Mahkota Delix menyandarkan dagunya ke bahu Alexsa dan membenamkan matanya. Merasakan kehangatan yang luar biasa setelah tubuhnya menempel di tubuh Alexsa.


Keesokan harinya.


tepuk tangan menggema di ruangan itu. Para bangsawan bertepuk tangan melihat sepasang insan itu mengikat janji yang sebentar lagi akan menuju pelaminan. Mereka cukup penasaran sosok wajah di balik topeng itu. Namun tidak ada yang berani mengatakannya.


Acara pesta pertunangan itu pun terus berlanjut, Alexsa dan Putra Mahkota Delix berdansa. Para bangsawan melingkari aula itu, memperhatikan keduanya yang berdansa. Banyak kaum hawa yang iri, mereka iri dengan pasangan yang terlihat serasi. Aura yang di pancarkan oleh tubuh Alexsa terkesan seperti sosok misterius, kedua bola matanya seperti memancarkan sebuah cahaya.


prok


prok


prok


Duke Vixtor mendekat, dia memberikan ucapan selamat pada Putra Mahkota Delix, beralih pada wanita di sampingnya yang cukup Familiar.


Aneh, aku merasa mengenal wanita ini, tapi di mana? batin Duke Vixtor yang menerka-nerka.


"Selamat atas pertunangan Putra Mahkota dan nona Rose." Ellena menimpali, dia memasang wajah senyum, ramah dan tulus. Kalau orang lain yang tidak tahu, mungkin mereka akan terlena, tapi tidak untuk Alexsa yang sudah tahu kelakuannya.


"Terima kasih Nyonya Ellena."


Putra Mahkota Delix memeluk pinggang Duchess Alexsa, ia merasa tak suka melihat tatapan Duke Vixtor pada calon istrinya. "Baiklah, kami pergi dulu untuk menemui yang lainnya."


Duchess Alexsa mendongak, ia malu pada para bangsawan yang mengamatinya dan Putra Mahkota Delix.


"Sudahlah, jangan gugup. Aku tidak suka melihat Duke Vixtor yang memandang mu terus," bisik Putra Mahkota Delix.


Para bangsawan pun mengagumi sosok dingin yang sangat romantis akan tingkah laku Putra Mahkota Delix. Jujur saja, mereka tak menyangka Putra Mahkota dingin itu bisa lembut bahkan tunduk pada wanita di sampingnya. Para wanita iri akan keromantisan itu dan membuat kedua orang merasa cemburu.


Duke Vixtor terlihat tidak suka dengan kedekatan mereka dan memilih pergi menemui para bangsawan lainnya. Entahalah, hatinya merasa dongkol melihat kedekatan mereka.


Sedangkan tak jauh dari sana, sepasang mata menatap tajam dan mengepalkan tangannya. Dia di dampingi oleh seorang wanita yang terus berbisik.


"Sayang, tunjukkan kalau kamu bahagia."


Ayne tak menjawab, perkataan sang ibu di sampingnya seperti angin lalu. Ingin sekali ia memutar matanya ke arah lain, namun ternyata mata itu terus tertuju pada pasangan yang tak jauh dari arahnya.