
"O iya, aku anggap Raja Iblis tak membuat ulah lagi."
Raja Iblis menatap nanar punggung yang semakin menjauh itu, ia ingin memeluk punggung itu. Semakin ia melangkah, semakin dia menjauh.
Raja Iblis menggerang, teriakan itu mengagetkan ketiga orang yang berjalan di belakang Alona Wichilia tapi jarak jauh. Dan Alona Wichilia mendengarkan erangan itu dengan acuh. Baginya sudah cukup.
"Alona Wichilia,"
Alona Wichilia menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya.
"Ini semua gara-gara kamu, kita seperti ini."
"Siapa yang berbuat buruk dia akan menuai keburukannya." Alona Wichilia mempertegas ucapannya.
Marchioness Mery tertawa, ia merasa wanita di hadapannya tidak ada rasa bersalah sedikit pun. "Kamu tidak meminta maaf pada ku, hah."
"Aku minta maaf, aku masuk ke dalam keluarga mu. Seandainya ada cara lain, aku tidak sudi masuk ke dalam keluarga mu. Aku juga wanita, tahu sakitnya. Menurut ku kita sudah impas, aku sudah membantu mu untuk kembali pada keluarga Marquess. Masalah hubungan ku, tenang saja. Kami sudah resmi berpisah."
Alona Wichilia memutar tubuhnya dan melanjutkan langkahnya.
"Kamu sangat angkuh, putri mu juga menghancurkan kebahagian putri ku dan kehidupan Nyonya Ellena. Wanita yang tidak tahu diri."
Alona Wichilia murka, dia menggunakan tanaman rambatnya untuk mencekik leher Marchioness Mery. Tubuh Marchioness Mery pun perlahan terangkat ke atas.
"Lepaskan ibu ku, Alona."
"Putri ku sudah menanggung penderitaan yang telah di sebabkan oleh kalian. Aku bisa saja merobek bahkan mencincang tubuh kalian, tapi aku masih peduli pada anak kalian yang sedang menunggu kalian. Jangan pernah menyebut putri ku sama seperti kalian yang tidak tahu diri. Aku berbaik hati menolong kalian tapi kalian..."
Alona Wichilia melepaskan akar yang melilit di lehernya. Marchioness Mery terjatuh dan terbatuk. Ayne tidak terima, ia melangkah. Kemudian tanaman itu melilit salah satu kakinya. "Lepaskan! Ibu dan anak sama saja."
"Wanita itu memang menguras pikiran ku," ucap Ellena dengan geram.
"Aku ingin sekali menghabisinya. Pantas saja Raja Iblis menghiraukan kita." Sambar Ayne. Dia pikir Raja Iblis akan menyetujui idenya, namun salah. Raja Iblis menolaknya mentah-mentah bahkan kembali menghukumnya.
"Ibu," Alona di sambut hangat oleh Putra Mahkota Delix.
"Dia ada di belakang," Alona Wichilia menoleh, dan melihat ketiga wanita berjalan ke arahnya.
"Sepertinya kudanya tidak cukup, Ibu naik saja ke kuda ku dan mereka biarkan menunggangi kuda Kesatria."
Alona Wichilia menaiki kuda milik Putra Mahkota Delix. Sedangkan mereka, Ayne dan Marchioness menunggangi satu kuda. Sedangkan Ellena menaiki kuda lainnya.
Ayne memandang Putra Mahkota Delix, namun ia di acuhkan. Padahal ia berharap, Putra Mahkota Delix mengkhawatirkannya. Dalam hatinya bertekad, sekalipun Putra Mahkota Delix sudah menikah. Ia akan merebut apa yang sudah menjadi miliknya.
"Apa Ibu lelah? kalau ibu lelah. Lebih baik kita beristirahat."
"Aku tidak lelah Putra Mahkota, tapi mungkin mereka yang lelah." Alona melirik wanita di sampingnya.
Ayne pun tersenyum licik. "Benar, Putra Mahkota. Aku sangat lelah. Bagaimana kalau kita beristirahat di sini."
Putra Mahkota Delix mendekik tajam. Kalau suara Ayne yang muncul di telinganya, telinganya itu seakan meledak.
"Baiklah."
"Tapi aku tidak lelah Putra Mahkota, kasihan Alexsa, dia pasti sedang menunggu Putra Mahkota. Lagi pula tidak aman kalau berlama-lama di hutan," ucap Alona Wichilia. Dia tidak akan membiarkan celah sedikit pun untuk Ayne. Karena dia tahu, wanita licik ini akan menggunakan seribu cara mengambil miliknya.
"Baiklah, Bu. Kita lanjutkan."