Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Bisa Membencinya sepuasnya


"Kita ke kota, aku tadi bertemu dengannya dan ada dua orang laki-laki yang mengaku saudara, mungkin kebohongan." Putra Mahkota Delix kembali melenggang pergi.


"Saya juga ikut Baginda,"


Baginda Kaisar mengangguk, akhirnya dia bisa menemukan keturunan Duke Aiken. Dia akan memperlakukan orang itu dengan hak istimewa karena perjuangannya terhadap rakyat.


Sedangkan Putra Mahkota Delix dan Marquess Ramon telah sampai di kota.


"Putra Mahkota, kita harus mencarinya kemana?" tanya Marquess Ramon.


"Ke penginapan, mungkin mereka menginap di salah satu penginapan Ibu Kota."


Atas perintah Baginda Kaisar. Para Kesatria mencari di setiap penginapan dan juga menanyakan kedua laki-laki yang pernah menginap atau bersama dengan seorang wanita memakai topeng.


Tak terasa, pencarian mereka membuahkan hasil. Ellard dan Edrick. Keduanya pun di bawa ke istana dan akan di introgasi oleh Baginda Kaisar.


"Dimana kalian bertemu dengannya?" tanya Baginda Kaisar dengan nada datar.


"Ka-kami, Rose membeli kami dari pasar budak," jawab Endrick.


"Benar, Rose menjanjikan kami sebagai bawahannya." Imbuh Ellard.


Baginda Kaisar menghela nafas. "Bagaimana kalau kalian belajar dari para Kesatria Kekaisaran. Dengan begitu, kalian bisa menjadi pengikutnya."


Ellard dan Endrick saling pandang. "Tapi kami harus meminta persetujuan dari Rose."


Baginda Kaisar pun paham. Dia tidak boleh ambil keputusan untuk kedua orang yang sudah di takdirkan menjadi pengikut keturunan Duke Aiken.


"Apa kalian tahu? dimana tempat tinggal Rose dan siapa namanya?"


Putra Mahkota Delix dan Marquess Ramon mendengarkan percakapan mereka dengan khidmat, tanpa menyanggah atau pun bertanya.


"Putra Mahkota, berikan mereka tempat tinggal di sini, fasilitas yang nyaman. Aku yakin, Rose yang mereka akui akan menjemput mereka." Perintah Baginda Kaisar.


"Baik, Baginda." Putra Mahkota memberikan penghormatan di ikuti Ellard dan Endrik. Kemudian mengikuti langkah Putra Mahkota Delix.


Sedangkan Marquess Ramon, dia juga berpamitan dan akan menyampaikannya pada Duke Vixtor.


\=\=\=


"Ada apa dengan wajah mu, Duke?" tanya Marquess Ramon. Kedua mata Duke Vixtor menghitam dan wajahnya sangat kusut.


Duke Vixtor pun sejenak berfikir. Dia tidak mungkin mengatakan apa yang menimpanya. Bisa-bisa nama baiknya akan tercemar dan Selirnya berakhir kecewa. "Hanya masalah pekerjaan."


Marquess Ramon pun mengangguk, dia tidak mungkin memaksa Duke Vixtor jujur. Karena ia tahu, wajah Duke Vixtor tampak ragu mengatakannya. "Ada kabar gembira, aku menemukan keturunan Duke Aiken tadi malam dan aku dengan Putra Mahkota Delix langsung mengambil tindakan. Ternyata, keturunan Duke Aiken di panggil mereka dengan sebutan 'ROSE', tapi kami tidak tahu tempat dimana Rose yang di panggil mereka tinggal." Duke Vixtor mengangguk, namun ia memiliki penasaran yang sangat besar akan sosok Rose yang misterius itu.


"Apa dia salah satu putri dari Duke Aiken? tapi mengapa dia menyembunyikan identitasnya. Seharusnya dia senang bisa bertemu dengan Baginda Kaisar."


"Entahlah, hal itu yang membuat aku tertarik padanya. Namun, saat bertemu dengannya. Matanya menyimpan sebuah kebencian. Itulah, firasat ku."


Duke Vixtor tak percaya, mereka tidak mengenal Duke Aiken. "Mungkin itu hanya firasat mu, Marquess."


Sedangkan Duchess Alexsa, dia malah bersantai dan mengipas tubuhnya yang terasa panas. Kediaman ini tidak cocok untuknya, udaranya sangat panas. Kalau musim dingin, udaranya sangat dingin sampai meremukkan tulang mereka.


"Nyonya, saya ada kabar. Ellard dan Endrick telah di bawa ke istana," ujar pelayan Anne. Dia di perintahkan oleh Duchess Alexsa untuk keluar dan mencari.informasi.


Duchess Alexsa tersenyum smirk. Ia sudah tahu dan menduganya. "Dengan begitu, aku bisa keluar masuk istana dan membenci Duke Vixtor dan Marquess."