Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Kemarahan Ayne


Argh..


Prang


Ruangan yang tadinya hening, kini teriakan menggila seakan menghancurkan seisi ruangan itu. Pecahan vas bunga berserakah di lantai, beberapa gorden di buang ke lantai dan selimut yang rapi serta seprai itu kini separuh tergeletak di lantai.


Teriakannya semakin menggelagar saat bayangan pengejekan itu menghantui pikirannya.


"Sayang," Marchioness Mery sangat khawatir. Setelah pulang dari istana, putrinya terus diam dan tidak sedang baik-baik saja. "Tenangkan dirimu." Tangannya menyentuh bahu sang anak. "Jangan dengarkan perkataannya. Dia hanya memancing emosi mu dan suatu saat kita bisa membalasnya."


Ayne merasa tenang, ia sandarkan kepalanya ke dada sang ibu. "Ayne takut, takut suatu saat nanti tidak bisa bersama Putra Mahkota, apa lagi ada wanita yang lebih kuat di sampingnya."


"Sayang,"


Tangan Marchoiness Mery mengelus surai hitam milik Ayne. "Putra Mahkota menemuinya hanya karena pekerjaan. Bukan berarti mereka dekat. Lagi pula, Baginda Kaisarlah yang mengatakan ingin menjodohkan mu dengan Putra Mahkota."


"Bu, kita belum bertunangan dan biasa saja suatu saat nanti. Wanita itu akan merebut Putra Mahkota dari ku. Aku ingin, pertunangan ini secepatnya di laksanakan." Lirih Ayne. Ia sangat benci wanita bernama Rose itu. Suatu saat nanti, ia akan menghadapinya. Ia tidak boleh kalah dan harus membuktikannya.


"Baiklah, ibu akan membicarakan dengan ayah mu dan kakak mu." Marchoiness Mery mengecup sangat dalam pucuk kepala Ayne. Wanita itu mengelus pipi sang putri dan tersenyum. Kemudian berlalu pergi menunggu kedatangan sang suami.


Selang beberapa saat.


Marquess Ramon dan Albern turun dari kudanya. Keduanya berjalan menuju kediaman dan melewati beberapa pelayan yang menunduk hormat.


"Sayang," sapa seorang wanita yang tengah menunggu kedatangannya.


Marquess Ramon menghampiri istrinya dan mengecup keningnya. "Hem, kenapa?"


"Ayne!"


"Ada apa dengan Ayne?"


Kedua wajah laki-laki itu langsung berubah serius. Albern yang hendak menuju ke kamarnya, mengurungkan niatnya ketika menyebut Ayne.


"Tadi kami bertemu dengan nona Rose dan ..."


"Aku tidak terima adik ku di perlakukan seperti itu dan aku akan membuat perhitungan dengannya." Geram Albern. Ia tidak suka siapa pun yang mengganggu adik kesayangannya. Baginya, Ayne adalah wanita berharga seperti ibunya. Jadi siapa pun yang berbuat lancang atau bahkan membuat adiknya menangis. Ia tidak akan tinggal diam, bahkan ia bisa menghilangkan nyawanya.


"Aku akan berbicara dengan Baginda. Kita harus kesana," ujar Marquess Ramon.


Di tempat lain.


Duchess Alexsa merayakan kemenangannya dengan Ellard dan Endrik. Mereka bersulang menikmati waktu siang yang akan menjelang sore hari dan seorang laki-laki yang memperhatikannya.


"Aku sangat senang membuat kesal. Kalian tahu, saat itu aku ingin melihat kepalanya meledak dan mengeluarkan isinya." Duchess Alexsa langsung meneguk minuman warna merah itu hingga tandas.


"Rose, aku ingin melihat wajah seramnya," ujar Kendrik. Laki-laki itu juga meneguk segelas cairan berwarna merah tanpa sisa.


"Hey, aku juga ingin melihatnya." Timpal Ellard. Ia juga tertawa melihat wajah musuh sang majikan. Hidupnya penuh kesusahan dan penghinaan. Jadi ia tahu, bagaimana rasanya di hina dan di caci maki oleh orang lain. Namun sekarang, statusnya telah berbeda. Ia menjadi seorang Kesatria.


"Kita hanya menunggu kedatangan Marquess dan Albern, oh kakak ku tercinta. Permainan ini akan semakin seru, Duke Vixtor, Marquess Ramon. Tunggu saja,"


Prang


Gelas di tangannya hancur dan tanaman langsung muncul menyembuhkan luka itu.


"Alexsa, apa yang kamu lakukan?" tanya Putra Mahkota Delix khawatir. Ia memegangi tangan itu dan memeriksanya.


Ellard dan Endrik saling tatap, keduanya mengerti suatu hal sebagai seorang laki-laki.


Duchess Alexsa menarik tangannya, jantungnya berdebar-debar tak karuan. "Aku baik-baik saja, Putra Mahkota."


Putra Mahkota mengelus pucuk kepala Duchess Alexsa. "Lain kali, marahlah pada orang yang membuat marah. Lampiaskan pada mereka, jangan lampiaskan pada dirimu. Aku tidak bisa melihat mu terluka."


Duchess Alexsa tak menjawab, ia memang tak berniat menjawab. Baginya, laki-laki sama saja. Mengumbar senyuman manis dan ucapan yang lembut.


"Nona Rose, di luar ada Tuan Marquess Ramon dan Tuan muda Albern yang ingin bertemu dengan Nona," ujar seorang pelayan.


Mereka sangat terburu-buru