
"Kakak," Ayne tersenyum ramah. Dia memeluk Duchess Alexsa dan tersenyum sinis. "Apa kakak bahagia di sini? sepertinya Duke lebih menyayangi Selirnya." Bisiknya pelan.
Duchess Alexsa diam, tangannya sangat gatal, ingin menggunting mulut bon gatalnya itu.
"Apa kakak baik-baik saja?" Duchess Alexsa diam, tidak ada ekspresi di wajahnya.
"Kenapa Duchess diam? nona Ayne sangat mengkhawatirkan Duchess." Sanggah Ellena.
Seperti menyulutkan api di tumpukan jerami. Marquess Ramon dan Duke Vixtor tidak senang. Keduanya ingin berbicara, namun terhentikan oleh suara Duchess Alexsa.
"Aku bukannya tidak menjawab, rasanya sangat aneh." Duchess Alexsa mengetuk dagunya dengan jari telunjuknya, sedangkan salah satu tangannya berada di pinggangnya. "Sebuah keluarga yang tidak mencintai Alexsa, mengkhawatirkannya. Apakah menurut mu lelucon?"
"Apa maksud Duchess? tentu saja mereka khawatir. Meskipun Duchess dan Duke menikah karena politik..."
"Justru itu,,," Duchess Alexsa mendekat. "Karena itulah, anggap seperti itu. Tidak mengenal dan tidak saling mencintai atau menghargai."
Marquess Ramon tidak terima, putrinya Ayne sudah berbaik hati pada Alexsa. Putrinya memperlakukannya dengan baik. "Apa kamu tidak bisa berfikir? Ayne sangat menghormati mu sebagai kakak."
Wajah Duchess Alexsa langsung berubah datar. Ia tidak pernah atau sama sekali merasa di hargai, justru cacian yang ia dapat. "Katakan! seperti apa di hargai menurut Marquess dan menurut Duke."
"Apa tindakan kami tidak cukup?" Tanya Ayne menimpali.
Duchess Alexsa berdecak. "Bahkan, anjing pun tau. Seperti apa cacian itu? apa menurut kalian aku tidak lebih dari seekor anjing. Aku manusia memiliki akal, pikiran dan hati." Duchess Alexsa bersendekap, salah satu jarinya mengetuk tangannya. "Aku bisa membedakan, mana perkataan yang menyakitkan atau tidak, seandainya waktu bisa di putar. Sungguh, sangat menyesal aku hadir di antara kehidupan kalian."
"Apa kalian berfikir aku senang dan bersyukur? apa kalian pikir aku akan mengemis cinta dari kalian."
"Oh, tidak! Alexsa yang dulu sudah mati dan aku bukan Alexsa yang dulu yang akan mengemis pada kalian. Bahkan, tidak pernah terbesit di pikiran ku, aku menginginkan sebuah keluarga."
"Duchess Alexsa jaga ucapan mu!" Duke Vixtor membentak. Sejak tadi, tangannya telah mengepal. Tanpa sadar, ia membuat putrinya menangis karena cengkramannya. "Sayang, maaf," ujar Duke Vixtor yang menyadari tangisan putrinya. "Ini semua gara-gara kamu, Alexsa."
"Apa yang Duke perbuat jangan menyalahkan orang lain?! intropeksi lah, jangan hanya kalian para penguasa harus mencaci orang lain, melimpahkan semua kesalahannya pada orang lain. Kalian, menutup mata kalian. Kedua orang Penguasa yang terkenal di Kekaisaran ini. Di kenal keadilannya dan ketegasannya, tapu sayang mereka hanya melihat dari luar tidak melalui pikiran dan hati.."
"Kalian merasa, tidak pernah memiliki kesalahan. Coba kalian tengok ke belakang, seberapa besar kesalahan kalian."
"Dan aku tidak pernah merasa mempunyai salah dengan mu, Duke. Apa kamu pikir aku mencintai mu, bahagia dengan mu. Tidak! sama sekali aku tidak menginginkan dirimu dan juga harta mu, untuk Marquess Ramon, aku juga tidak menginginkan kasih sayang mu, di anggap sebagai putri dan lahir dari kediaman Marquess, sungguh aku tidak memintanya."
Duchess Alexsa pun meninggalkan ruang tamu itu. Perkataannya membuat kedua sang penguasa itu bungkam. Meskipun yang di katakan Duchess Alexsa ada benarnya, namun hati keduanya seakan tertutup oleh rasa kebencian.