
"Ayah, di kekaisaran ini hanya ada nona Rose, kalaupun ada. Mungkin Duke Aiken masih hidup," ujar Albern. "Tunggu, apa Duke Aiken masih hidup."
"Ayah tidak tahu," lirih Marquess Ramon. Entah hidup atau mati kakek dari Alexsa masih menjadi misteri.
Albern tertawa, dia memilih duduk di hadapan sang ayah. Pembicaraan tadi berlika-liku, ia tidak begitu paham maksud dari sang ayah.
"Ayah, Ayah.."
"Tadi Ayah bertemu dengan Ibu kedua mu, Alice."
Senyum yang tadi mengembang itu langsung meredup. Mendengarkan nama itu, bagaikan sebuah kutukan untuk hidupnya. "Apa? apa tadi ayah menyebutnya Ibu ku? sampai kapan pun ibu ku hanya Mery ayah."
"Ada sesuatu yang harus kamu ketahui. Jujur saja ayah juga shok saat mengetahui kebenarannya."
Marquess Ramon menghembuskan nafasnya. Dia akan memulai setiap kejadian yang ia rekam. "Alice anak dari Duke Aiken dan Alexsa cucu dari Duke Aiken."
Seketika wajah tampan itu shok, dia menggeleng. Tidak mempercayainya. Lagi pula, Alexsa sangat lemah. Wanita itu menerima saja perlakuan kasar dari pelayan yang mengejeknya. Bahkan dirinya sendiri kadang terang-terangan mengejeknya. Alexsa diam dan menerima saja. Tidak ada perlawan darinya. Saat itulah ia tambah benci pada Alexsa karena lemah.
"Jangan bercanda Ayah, candaan ayah tidak lucu."
"Aku serius, nona Rose adalah Alexsa. Aku sudah bertemu dengannya dan dia mengakuinya. Sekarang Alice muncul karena kekuatan Alexsa telah bangkit. Dia menguasai kekuatan api dan tanaman karena ada darah dua penguasa di dalam tubuhnya." Jelas Marquess Ramon panjang lebar. "Kita tidak tahu, saat itu kita berhadapan dengan Alexsa pasta saja dia membenci kita. Setiap nada perkataannya selalu tajam."
"Ayah..."
"Jangan mengatakan pada siapa pun." Marquess Ramon sengaja menyembunyikannya, karena ia memiliki alasan. Kalau dirinya berpura-pura tidak tahu, Alice pasti menampakkan tubuhnya pada Duchess Alexsa tanpa ragu. Kalau ia sampai mengekspos putri Alexsa adalah nona Rose. Alice pasti berhati-hati dan waspada.
Tok
Tok
Tok
"Tuan maaf mengganggu, kami dari utusan istana."
Seorang laki-laki muncul dari luar pintu, dia memberikan hormat pada Marquess Ramon dan Albern. "Tuan, ini ada surat dari Baginda Kaisar."
Dia menyodorkan sebuah kertas yang di bungkus amplop panjang dan Marquess Ramon menerimanya.
"Karena Tuan telah menerimanya, saya permisi."
Marquess Ramon merasa aneh, hatinya berdebar-debar. Keduanya tangannya pun dengan lihai membuka surat itu dan membacanya.
"Hah." Tangan kanannya mengusap mulutnya dan menatap tulisan tangan itu. Kali ini hatinya tidak bisa memaksa. Karena menyangkut putrinya lain.
"Apa isi surat itu Ayah?" tanya Albern penasaran.
"Baginda Kaisar membatalkan perjodohan ini."
"Apa?! tidak bisa, bagaimana perasaan Ayne, Ayah? Dia..." Albern beranjak, "Aku akan ke istana,"
"Apa yang ingin kamu lakukan? apa kamu ingin Putra Mahkota Delix menikah dengan adik mu, tapi tidak bisa mencintai adik mu. Bagaimana kalau dia hanya di jadikan pajangan saja dan setelah itu, Putra Mahkota Delix akan mencari Selir baru. Kamu tidak memikirkannya? kamu hanya memikirkan perasaan adik mu saja sebelum menikah. Bagaimana setelah menikah?" Cecar Marquess Ramon.
Albern kembali mendaratkan bokongnya secara kasar di kursinya, yang di katakan ayahnya benar. Bagaimana setelah menikah?
"Tapi tidak bisakah Putra Mahkota mencintai Ayne. Bisa saja suatu saat nanti cinta itu akan tumbuh ayah."
"Tumbuh dari mana? kalau Putra Mahkota Delix sudah menemukan wanita lain, yang tak lain adalah Alexsa."
Bertambah pula keterkejutan Albern. Dia tidak pernah berfikir sama sekali bahwa Alexsa mampu menarik perhatian Putra Mahkota Delix. Laki-laki yang bertempramen dingin dan tak tersentuh itu.
"Biarkan Putra Mahkota bersama Alexsa."
"Ayah!" Albern tak menyangka, kalau sang ayah hanya berpihak pada satu putrinya. "Bagaimana dengan Ayne?"
"Ayah akan mencarikan pria lain," tangkas Marquess Ramon. "Aku akan berbicara dengan Alexsa dan menyampaikan isi surat ini."