
Alona Wichilia mondar mandir, bayangan saat kedua matanya melihat Marquess Ramon yang berjalan ke arah kamar Alexsa kedua matanya langsung melotot dan buru-buru bersembunyi di balik Vas bunga yang besar. Dia penasaran, apa yang akan di katakan oleh Marquess Ramon kalau Dia tahu Alexsa adalah nona Rose.
"Untuk apa? untuk apa Marquess Ramon menemui Alexsa? apa hubungan mereka dekat."
"Nyonya jangan khawatir," ujar Ketua Penyihir. Dia menemani Alona Wichilia yang sangat ketakutan. "Kalau pun Tuan Marquess tahu, saya yakin Nona Alexsa pasti bisa menghadapinya."
"Aku akan menemuinya, kalau sampai dia berkata kasar. Aku sendiri yang akan menghadapinya dan juga, mungkin sudah waktunya aku minta maaf." Alona Wichilia bergegas pergi. Dia menatap pintu yang menghubungkan kamar Alexsa.
krek
"Alexsa." Marquess Ramon yang memunggungi pintu itu, berdiri tegap dan memutar tubuhnya. Kedatangannya ke istana ingin melihat Alexsa, entah kegiatan apa yang putrinya itu lakukan.
"Alice."
Dengan degupan yang kencang, Alona Wichilia yang di panggil Alice itu melangkah dalam kegugupannya. Marquess Ramon tak menduga, ia bisa bertemu dengan Alice dalam waktu singkat. Padahal ia sudah mengerahkan kesatrianya diam-diam untuk mencari Alice.
Beberapa menit kemudian, keduanya duduk berhadapan setelah seorang pelayan menyajikan teh.
"Ada beberapa hal yang ingin aku katakan pada Tuan," ujar Alona Wichilia.
Marquess Ramon diam, ia menatap wanita di hadapannya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Maaf, saya masuk dalam kehidupan rumah tangga anda. Sejujurnya saya melakukan itu karena alasan. Semua orang di Kekaisaran ini tidak tahu wajah saya, hanya pelayan kediaman Duke Aiken dan beberapa pelayan saja. Alasan ayah menyembunyikan saya karena Raja Iblis mengincar saya dan alasan saya melakukan hal yang memalukan demi obat untuk ayah saya, Duke Aiken. Kejadian penyerangan itu, membuat ayah saya tidak bisa bangun. Bertahun-tahun dia tidur dan hanya menunggu obat." Alona memejamkan matanya, semua yang ia lalui sangat menyakiti harga dirinya.
"Ayah membutuhkan obat seseorang dari Alexsa, hanya dia yang memiliki dua kekuatan. Racun dari bangsa iblis, hanya Alexsa yang bisa membuatnya. Tumbuhan itu berapi, tumbuhan itu hidup dalam api." Alona Wichilia bangkit, dia membungkuk hormat. "Maafkan saya Tuan Marquess, saya menghancurkan rumah tangga kalian. Saya melakukan ini semua karena alasan, saya tidak mementingkan harga diri saya, Tuan Marquess boleh memarahi saya dan menghukum saya. Bahkan Tuan Marquess bisa melepaskan pernikahan saya. Saya tidak akan menahan atau berbuat macam-macam. Saya juga akan minta maaf pada seluruh keluarga Tuan Marquess."
Ada sebuah getaran di dalam tubuhnya, bahkan kedua tangannya mengepal kuat, Ia menunduk menetralkan jantungnya yang terasa sesak. Semuanya rumit, satu sisi ia kasihan, tapi satu sisi jika di ingat ia membenci wanita di hadapannya.
Duchess Alexsa mendorong pintu itu dengan kasar, ia takut terjadi sesuatu pada ibunya. Bisa saja Marquess Ramon akan menggunakan kekerasan. Selama ini, ibunya telah menghancurkan keluarganya.
"Untuk apa Marquess datang kesini? kita tidak ada hal penting yang perlu di bicarakan."
"Alexsa,"
"Ibu, tidak apa-apa kan. Apa Marquess menyakiti Ibu?"
"Saya Alexsa, meminta maaf pada Tuan Marquess," ujar Alexsa memberikan hormat. "Kita sudahi pertemuan ini, entah Tuan Marquess memaafkan, itu terserah Tuan Marquess dan keluarga Marquess," ucap Alexsa dengan tegas. "Ayo Ibu,"
Duchess Alexsa menoleh. "Tuan Marquess dan seluruh keluarga Tuan Marquess, kalian boleh membenci keluarga Duke Aiken. Bencilah sesuka kalian, kami tidak merasa keberatan."
Telak, perkataan itu mengatakan permusuhan dan tidak peduli permusuhan itu jika benar terjadi.
"Dan satu hal lagi, jangan katakan pada siapa pun kedatangan ibu."
Sebelum Alona Wichilia pergi, dia menatap sejenak wajah Marquess Ramon yang terlihat sendu.
Marquess Ramon ingin menjawab, namun ia bingung harus mengatakan apa? haruskah ia senang atau kah ia harus bersedih. Tidak ada kalimat yang bisa ia ucapkan.
Brak
Tangan Marquess Ramon hanya melayang di udara, ia duduk dan meremas rambutnya. Kepalanya seakan terbelah, "Oh Tuhan... Ini.."