
Suara merdu di atas langit menghiasi pasangan baru itu. Wanita itu berputar-putar bersama sang suami sambil merentangkan tangan dan melihat ke atas langit.
Keindahan yang begitu istimewa ini, tidak akan pernah dia lupakan dan kasih sayang suaminya yang begitu tulus padanya.
"Alexsa, terima kasih."
Alexsa tersenyum, dia menempelkan hidung mancungnya dengan hidung Putra Mahkota Delix. "Aku berterima kasih, karena sudah menerima ku dan mencintai ku."
"Kamu tidak perlu meragukan ku, aku sungguh-sungguh mencintai mu."
Alexsa mencium bibir Putra Mahkota Delix. Mereka saling memungut satu sama lainnya. Hawa dingin yang mereka rasakan, kini menjadi hawa panas. Keduanya semakin bergelora. Panas yang di rasa membuat mereka terbuai akan kenikmatan.
Putra Mahkota Delix membawa tubuh mungil istrinya. Dia membaringkan tubuh mungil itu di atas bunga nawar berbentuk love. Keduanya saling bersitatap, Putra Mahkota Delix pun kembali memungut bibir ranum itu. Rasa manis itu memenuhi ruangan di mulutnya.
Kedua tangan Alexsa pun membuka jubah tidur milik Putra Mahkota Delix. Dia meraba dada bidang dan oto perutnya. Kemudian mengalungkan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya tetap meraba badan seksi memukau itu.
Putra Mahkota Delix pun tak tanggung-tanggung. Dia membuka jubah istrinya, lalu melemparkannya ke sembarang arah. Dengan cepat pula, dia menarik kain yang membungkus kedua bukit perdamaian itu.
Tangannya meraba dan meremas, tubuh Alexsa meremang, sentuhan Putra Mahkota Delix menimbulkan kelenjar aneh di tubuhnya. Ia akui, rasa hangat Putra Mahkota Delix membuatnya meminta ingin dan ingin lagi. Entah karena ia sudah lama tidak bersentuhan atau memang keinginan dari hati.
Emmm
Lenguhan pun terdengar dari mulut Alexsa. Putra Mahkota Delix pun bermain di bukit perdamaian itu. Lidahnya begitu lihai memainkan salah satu di antara mereka.
Tangan Alexsa meremas rambut Putra Mahkota Delix sambil memejamkan matanya. Di bawah sana sudah merasa panas, ia ingin secepatnya Putra Mahkota Delix membobol si kembar. Namun apalah daya, ia ingin membuat Putra Mahkota Delix puas dengan keinginannya.
Oh
Tangan Putra Mahkota Delix pun melempar kain segitiga itu ke belakangnya. Kedua tangannya mengangkat pinggul Alexsa. Dengan cepat si nakal masuk secara pelan dan lambat.
Alexsa diam. ia merasakan sesuatu mulai memasuki si kembar. Sama halnya dengan Putra Mahkota Delix. Kedua kalinya dia berhasil membobol si kembar. Rasa puas dan haus nikmat membuatnya selalu ingin menempel pada istrinya.
Alexsa meraba kiss mark yang ia lukis di dada Putra Mahkota Delix.
"Apa kamu ingin menghiasinya lagi?" Putra Mahkota Delix mencium leher Alexsa, membuat sang empu merasa geli.
"Aku bisa membuatnya lagi, semau dirimu."
Putra Mahkota Delix tersenyum, dia kembali meluncurkan ciuman. Si nakal pun ia gerakkan dengan lembut.
Emm
Putra Mahkota Delix semakin semangat saat mendengarkan rintihan merdu itu. Dia mempercepat si nakal. Hingga bukit perdamaian itu naik turun seiringnya irama yang ia buat. Decihan demi decihan ranjang itu membuktikan kecepatan si nakal. Untung saja, ranjang itu sangat kokoh. Kalau tidak, mungkin mereka yang terbuai akan jatuh ke bawah.
Alexsa semakin mengeratkan pelukannya, ia semakin merasakan kenikmatan luar biasa mana kala kecepatan itu lebih cepat dari perlombaan kuda. Pinggulnya pun ikut naik mundur.
Putra Mahkota Delix terus memompa, ia juga merasakan kenikmatan itu sambil memejamkan matanya. Terus menerus ia melajukannya, hingga pada akhirnya di titik terakhir. Cairan putih dan kental itu menyembur keluar di iringi tetesan-tetesan keringat yang keluar dari tubuhnya.
Alexsa melepaskan pelukannya, dia menjatuhkan tubuhnya secara kasar. Sedangkan Putra Mahkota Delix masih berada di atas.
"Sayang..."
Alexsa tersenyum, ia menjulurkan tangannya, menyambut tubuh suaminya agar memeluknya.
Putra Mahkota Delix pun tersenyum, dia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Alexsa.
Sedangkan Alexsa mengusap tubuh Putra Mahkota Delix dengan tangannya.
Di tempat lain.
Duke Vixtor tersenyum, entah apa artinya senyuman itu? bahagia atau sebuah kesedihan. Membayangkan Alexsa bersama Putra Mahkota Delix melakukan hubungan itu, membuat hatinya berdenyut nyeri.
"Heh"
Dia meneguk sebotol anggur itu, kemudian menatap ke langit.
"Duke, kenapa kamu minum sebanyak ini?" tanya Ellena. Hatinya tidak nyaman, ia merasa ada sesuatu dan berharap dugaannya salah.
"Aku hanya ingin menenangkan pikiran ku."
"Dengan cara seperti ini."
Ellena mengambil botol anggur itu, kemudian langsung mencium bibir Duke Vixtor. "Kalau kamu ingin menenangkan pikiran mu, kamu bisa datang pada ku Duke, pada tubuh ku Duke."
Duke Vixtor memandang wajah wanita di hadapannya. Dia tersenyum, Alexsa berada di hadapannya.