Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Giliran Mu, Ellena


Marquess Ramon dan Albern menegang, kedua laki-laki itu memberikan hormat pada laki-laki di hadapannya.


"Pangeran," Putra Mahkota Delix melirik sekilas.


"Pangeran," sapaan itu sukses membuat langkah pria gagah itu berhenti.


"Adik ku, Ayne mencari Pangeran," ujar Albern. Kemarahannya berhenti dengan suara lembut, namun menekan.


"Hem, aku ada urusan dengan nona Rose."


Putra Mahkota Delix menghampiri Duchess Alexsa dan menyapa. Sedangkan Duchess Alexsa masih memandang kedua laki-laki yang tertegun atau mungkin jantungnya sudah tak berfungsi lagi.


"Tidak bisa di biarkan, aku akan akan berbicara dengan Baginda."


Wajah Duchess Alexsa berubah dingin melihat kepergian dua laki-laki itu. "Ada apa?" tanya Duchess Alexsa singkat. Dari awal ia tidak ingin memiliki hubungan dengan Putra Mahkota dan hanya ingin memanfaatkan saja.


"Sudah pergi, apa tadi Marquess dan Albern melakukan sesuatu pada mu?" tanya Putra Mahkota Delix khawatir.


"Tidak ada," jawabnya dingin.


"Nona Rose, aku bisa membantu mu. Bagaimana kalau kita berpura-pura memiliki hubungan dekat. Dengan begitu, nona Ayne pasti marah dan..."


"Aku tidak ingin melibatkan siapa pun," Duchess Alexsa beranjak.


"Manfaatkan aku, Nyonya Alexsa," ujar Putra Mahkota Delix memegang lengan Duchess Alexsa.


Duchess Alexsa menghela nafas. Ia tidak ingin melibatkan siapa pun. Ia tidak bisa melibatkan pria di hadapannya. Pria ini dan ayahnya sudah baik. Menerimanya dengan baik di istana ini, setelah keluarganya tidak menginginkannya. "Putra Mahkota, kamu tahu. Laki-laki seperti mu, aku tidak bisa memanfaatkan. Putra Mahkota, kamu begitu baik."


Putra Mahkota Delix begitu kecewa. Duchess Alexsa tidak mau menerima bantuannya. Sedangkan dirinya, ingin sekali menjadi laki-laki yang berguna baginya.


Sedangkan Alexsa, ia memilih menemui pelayan Anne. Sudah lama dirinya tidak bertemu, kini ia menggunakan gaun biasa. Setelah berada di tempat yang sepi. Ia melepaskan topengnya.


"Anne,"


Kedua mata pelayan Anne membulat, ia langsung menarik tangan Duchess Alexsa masuk ke dalam. Sebelum itu, ia melihat kanan kiri, takut di lihat oleh mata-mata Duke Vixtor. Namun, apa yang menjadi dugaannya benar. Mata-mata Duke Vixtor telah melihat Duchess Alexsa dan langsung melaporkan pada sang tuan.


"Nyonya, kenapa anda datang kesini?" tanya pelayan Anne.


"Kenapa? apa ada yang salah? apa kamu tidak merindukan ku?"


"Bukqn begitu Nyonya, tapi Tuan Duke sering sekali datang kesini dan menanyakan Nyonya," ujar pelayan Anne.


Duchess Alexsa duduk, ia merasa tidak ada beban untuk bertemu dengan Duke Vixtor. Apa yang perlu di bahas? baginya sudah selesai dan tidak memiliki hubungan apa pun.


"Anne, Anne, apa kamu pikir aku bodoh atau takut begitu, buat apa? aku sekarang bebas dan bisa melakukan apa saja sesuka ku. Kalau bertemu, ya bertemu saja."


"Aku akan bermalam di sini, sudahlah. Aku mau tidur dengan nyaman."


Duchess Alexsa memasuki salah satu kamar, ia mengambil topeng yang ia selipkan di gaunnya dan menaruhnya di laci. Kemudian menjatuhkan tubuhnya dan tidur terlentang.


"Nyamannya,"


Kedua mata indah itu perlahan tertutup dan menjemput alam mimpinya.


brak


"Dimana Alexsa?" tanya laki-laki itu membentak.


"Nyonya, Nyonya sedang tidur, Tuan." Peluh keringat membasahi wajahnya.


"Tunjukkan di mana kamarnya."


Pelayan Anne buru-buru melangkah dan memberi kode ke arah pintu itu. "Tuan, saya mohon jangan memarahi Nyonya."


Duke Vixtor tak menjawab, ia langsung membuka pintu itu. Perlahan masuk dan melihat seseorang yang tengah tertidur pulas.


Entah rasa bahagia atau kasihan, ia tidak bisa mengespresikannya. Ia duduk dan memijat pelipisnya. Bayangan masa lalu yang sering menghantuinya, bahkan sering muncul dalam tidurnya. Sampai saat ini, ia bergantung pada obat tidur. "Alexsa."


Duke Vixtor bangkit, ia memilih menunggu wanita itu di luar. Sebelum menutup pintu itu, sejenak ia melihat ke arah Duchess Alexsa.


krek


Kedua mata Duchess Alexsa terbuka, suara pintu terbuka tadi membuatnya terbangun. Dengan hidungnya yang tajam, ia bisa menghirup aroma tubuh Duke Vixtor dan memilih berpura-pura tidur.


"Giliran mu, Ellena."


Duchess Alexsa kembali memejamkan matanya, ia tidak peduli siapa yang menunggunya. Lagi pula bukan dirinya yang penting tapi Duke Vixtor. Ia lebih memilih beristirahat dari pada harus menguras tenaga.


Tepat jam 07.30 Duchess Alexsa bangun, ia meregangkan ototnya dan juga lehernya. Ternyata, seharian ia menghabiskan waktu tidurnya.


"Nyonya, Nyonya sudah bangun. Saya sudah menyiapkan air untuk Nyonya."


"Apa pria itu masih menunggu ku?"


"Maksudnya Nyonya," Pelayan Anne kemudian mengangguk tanda ia paham perkataan Duchess Alexsa.


"Ck, ya sudah. Aku mandi dulu."