Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Kata Menghargai


"Ayo kita berangkat," ujar sang wanita. Dia harus memberikan kesan terbaik agar wanita yang di incarnya menjadi menantunya.


"Ibu, apa kamu yakin?" tanya Ayne.


Wanita di sampingnya yang tak lain Nyonya Mery istri pertama dari Marquess itu menarik ke bawah topi bundarnya. "Ibu sangat yakin, jadi sayang, kamu jangan khawatir."


Marchioness Mery menarik lengan Ayne agar mempercepat langkahnya. Karena waktunya terbatas, setelah dari istana ini, ia harus bertemu dengan temannya.


Sesampainya di istana.


Marchioness Mery dan Ayne langsung memberikan hormat pada Baginda Kaisar. Kemudian keduanya meminta izin untuk bertemu dengan nona Rose.


Baginda Kaisar nampak khawatir, ia takut keturunan Duke Aiken itu tidak bisa mengontrol emosinya.


"Ada perlu apa?" tanya Baginda Kaisar. Ia harus menanyakan dengan jelas keperluan kedua wanita bangsawan itu.


"Kami hanya penasaran dengan wajahnya Baginda," ujar Marchioness Mery.


Seandainya kalian tahu siapa wanita di balik topeng itu.


"Baginda, bagaimana? apa kami di izinkan untuk bertemu dengan nona Rose?"


Kalau aku bilang tidak, kedua wanita ini pasti akan mengadu. Sebenarnya aku tidak takut, tapi...


"Baiklah, silahkan kalian bertemu dengannya."


Kedua wanita itu pun pamit dan keluar dari ruang yang di khususkan menemui tamu itu.


"Ibu, kenapa Ibu mengajak bertemu dengan nona Rose? seharusnya Ibu lebih mengutamakan aku bertemu dengan Putra Mahkota, aku calon Putri Mahkota dan sebentar lagi akan menjadi seorang Ratu." Dengus Ayne dengan kesal. Hari ini ibunya tidak memikirkan perasaannya yang ingin bertemu dengan Putra Mahkota Delix.


"Sudah, setelah kita bertemu dengan nona Rose. Kita akan menemui Putra Mahkota Delix."


"Ibu,"


"Diam! turuti saja perintah Ibu." Tegas Marchioness Mery.


Di sebuah ruangan, seorang wanita tengah membaca buku. Tentang sejarah keluarga Duke Aiken, demi mengenang jasa-jasanya. Bangsawan Duke Aiken di kenang dalam bentuk buku, sosoknya dan wajahnya. Namun, di buku itu hanya tertulis nama putrinya saja dan tidak menggambarkan sosoknya.


"Wajahnya seperti ini, berarti ibu ku sudah pasti mirip seperti dia."


"Nona, maaf mengganggu waktunya. Ada tamu yang ingin bertemu dengan Nona. Marchioness Mery dan nona Ayne di luar sedang menunggu kedatangan Nona."


Duchess Alexsa menaruh bukunya, ia keluar menuju sebuah ruang tamu. Karena di istana ada ruang tamu khusus untuk tamu dan ruang tamu para anggota istana.


Krek


Duchess Alexsa memberikan hormat, ia menatap jenuh pada kedua wanita di hadapannya. Seandainya, ia menjadi Alexsa dan bukan nona Rose. Ia tidak peduli dengan kedatangan mereka.


"Nona Rose, senang bisa bertemu dengan mu."


"Silahkan Marchioness Mery dan nona Ayne," ujarnya tersenyum ramah.


Kedua pun duduk, kemudian di susul oleh Duchess Alexsa.


"Ada keperluan apa Marchioness Mery dan Nona Ayne?"


"Kami ingin berkunjung dan mengenal nona Rose. Semua orang mengagumi Duke Aiken. Jadi kami penasaran dan ingin lebih mengenal nona Rose." Tutur Marchinoess Mery.


Duchess Alexsa sangat kesal, ingin sekali mulutnya mengatai mereka. Pertemuan tidak penting ini sudah mengganggu kesibukannya.


"Maaf, kalau hanya ingin mengenal. Kita sudah saling mengenal Nyonya Marchioness dan Nona Ayne. Saya sangat sibuk, jadi tidak bisa menemani kalian."


Ayne dan Marchioness Mery sangat kesal. Dalam hati mereka mengumpat karena penolakan dari Duchess Alexsa dan merasa di hina.


"Kami datang kesini hanya ingin lebih mengenal lebih dalam."


"Jangan dalam atau terlalu dalam, Nyonya Marchioness pasti akan menyesal atau bisa saja membuat Nyonya kecewa."


"Nona Rose, kamu tahu siapa kami."


"Nona Ayne, kamu tahu siapa aku. Aku keturunan Duke Aiken, sekaligus juga seorang bangsawan," ujar Duchess Alexsa dengan nada menekan di setiap perkataannya. Memangnya hanya mereka seorang bangsawan yang di segani.


"Lagi pula, untuk apa Nyonya Marchioness sibuk berkenalan dengan saya? apa Nyonya tidak ingin mencari di mana keberadaan putri Nyonya, seharusnya Nyonya hanya fokus padanya."


Kedua mata Ayne melebar, wanita di hadapannya sudah ia hargai. Namun apa? ia dan ibunya tidak di hargai sama sekali.


"Seharusnya anda menghargai kedatangan kami?"


"Apa anda tahu nona Ayne, apa itu menghargai? bagaimana caranya menghargai? simpanlah kata menghargai itu untuk nona Ayne sendiri."