
Duchess Alexsa melangkah santai, kedua tangannya menyilang di belakang pinggangnya seraya melihat ke atas langit. Malam ini kehidupannya penuh kejutan entah bagaimana kehidupan rumah tangga Duke dan Marquess. Membayangkan keluarga mereka di penuhi perdebatan, membuat suasana hatinya semakin senang.
"Nyonya,"
"Hem,"
"Lihat! siapa dia?" tanya pelayan Anne. Samar-samar ia melihat seseorang bersandar ke tembok rumahnya.
Duchess Alexsa memperhatikan seseorang dari jarak jauh. "Putra Mahkota,"
"Hah!" pelayan Anne tercengang. Ia buru-buru mengekori Duchess Alexsa yang melangkah lebar.
Putra Mahkota Delix yang melihat Duchess Alexsa ke arahnya tersenyum lebar. Tanpa peduli pada siapa pun, ia langsung memeluk Duchess Alexsa dengan erat. "Alexsa, kamu kemana saja? aku khawatir," lirihnya. Ia memejamkan matanya merasakan tubuhnya menempel erat.
Debaran demi debaran membuat tubuh Duchess Alexsa menegang, ia merasa ada sesuatu yang menjalar ke tubuhnya. Hangat dan nyaman, ia tidak pernah merasakannya di tubuhnya. Rasa sakit di hatinya dalam sekejap menghilang.
"Alexsa," Putra Mahkota Delix mengurai pelukannya dan merangkup wajah Duchess Alexsa. "Kemana pun kamu pergi, ajaklah aku. Kamu tahu, aku takut terjadi sesuatu pada mu."
Duchess Alexsa mendorong tubuh Putra Mahkota Delix dan memalingkan wajahnya. "Kenapa Putra Mahkota bisa ada di sini? bagaimana kalau semua orang tahu?"
"Maaf, aku tidak berfikir sejauh itu."
"Sudahlah, aku tidak bisa pulang malam ini."
"Kenapa?" tanya Putra Mahkota Delix kecewa. Dalam istana yang begitu indah dan megah, ia merasa hidup dalam rumah yang tidak berpenghuni dan kemegahan serta keindahan itu tidak ada artinya bagi hidupnya.
"Aku ingin bermalam di sini,"
"Nyonya," pelayan Anne menarik tangan sang majikan dan membisikkan sesuatu. "Nyonya pulanglah, kasihan Putra Mahkota. Dia datang kesini hanya ingin melihat Nyonya saja. Lihatlah wajahnya yang sedih, apa Nyonya tidak kasihan. Setidaknya hanya Putra Mahkota dan Baginda Kaisar yang peduli pada Nyonya," jelas pelayan Anne.
Duchess Alexsa menatap wajah Putra Mahkota Delix. Laki-laki itu tersenyum, namun tampak di kedua matanya sebuah kekecewaan, yang di katakan oleh pelayan Anne memang benar. Hanya Putra Mahkota dan Baginda Kaisar yang memaafkan dan menerimanya setelah kebohongan yang ia lakukan.
"Baiklah," Duchess Alexsa pun bertekad. Ia akan pulang bersama dengan Putra Mahkota. Walaupun sebenarnya antara ragu dan percaya bahwa Putra Mahkota datang melihatnya atau ada keperluan lain.
Wajah tampannya langsung tersenyum, cahaya yang redup itu seketika langsung bersinar. "Benarkah, aku ingin mengajak mu ke suatu tempat Alexsa."
Putra Mahkota menggenggam tangan Duchess Alexsa menuju kudanya yang ia parkir di dekat pohon. "Naiklah, kita akan menuju suatu tempat."
Duchess Alexsa menurut, ia menaiki kuda itu. Meskipun hatinya dan otaknya tidak sejalan. Namun, tubuhnya bergerak menuruti perintah Putra Mahkota. "Tunggu, aku ingin wajah Putra Mahkota tidak di ketahui oleh siapa pun,"
"Tapi aku tidak membawa penutup wajah," ujar Putra Mahkota Delix. Sebelum ke rumah pelayan Anne ia tidak melakukan persiapan apa pun.
Duchess Alexsa mengeluarkan sapu tangannya yang ia selipkan di gaunnya. Melipat sapu tangan itu menjadi segitiga. Lalu memakaikan ke wajah di bawah mata Putra Mahkota Delix. "Sudah, tidak akan ada yang curiga."
Putra Mahkota Delix mengangguk, walaupun merasa aneh. Ia menuruti saja.
Kuda hitam itu melaju kencang, membelah keramaian ibu kota. Banyak mata yang melihat mantan istri Duke itu bersama seorang pria misterius. Di lihat dari pakaian hitamnya dan gagah. Banyak pasang mata yang mengatakan bahwa mantan istri Duke Vixtor telah menemukan dambaan hati. Ada yang mengatakan tampan dan ada yang mengatakan jelek karena sebagian wajahnya tertutup.
Pasangan yang menjadi topik pembicaraan hangat di ibu kota itu tidak peduli, keduanya memasang wajah acuh dan telinga tuli. Hingga langkah kuda itu menaiki sebuah bukit dan melewati pepohonan yang lebat.
"Sudah sampai."
Putra Mahkota Delix turun dari kudanya, kemudian mengulurkan tangannya membantu Duchess Alexsa turun. "Ayo kita kesana!"
Kedua mata Duchess Alexsa memandang sekelilingnya, kunang-kunang yang terbang dan berhenti di deduanan atau di pohon menerangi langkah kakinya.
"Ini."
Duchess Alexsa menganga, ia takjub dengan pemandangan di depannya. Sebuah danau yang airnya jernih di kelilingi pohon dan rumput hijau.
"Kamu suka?"
"Ini,"
Putra Mahkota Delix pun mengambil sebuah batu kecil, ia melemparkan ke arah rumput hijau itu. Hingga binatang kecil dan membawa lentera itu berhamburan terbang membuat suasana danau itu semakin indah.