Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
bab 84


Pada malam harinya.


Laki-laki yang tengah terbaring lemah selama bertahun-tahun itu kini telah membuka kedua matanya. Dia melihat sekelilingnya, hingga penglihatannya tertuju pada seorang wanita yang berdiri di sampingnya dengan air mata yang terus mengalir.


"Ayah..."


Alona Wichilia menempelkan kepalanya ke dada Duke Aiken dan menangis tersedu-sedu. Ia bersyukur, ayahnya telah kembali.


"Ayah."


Mulut Duke Aiken bergetar, dia ingin mengatakan sesuatu, namun bibirnya masih terkatup rapat. Mungkin karena efeknya dia tertidur lama. Tubuhnya pun seakan masih sulit untuk di gerakkan.


Alona Wichilia menghapus air matanya, "Ayah, Alona merindukan ayah."


"A-lo-na."


"Iya ayah, banyak hal yang ingin Alona bicarakan dengan ayah. Apa ayah tahu? ayah memiliki cucu perempuan. Dia persis, wajahnya sama seperti ibu." Alona Wichilia tersenyum, ia ingin mengatakan banyak hal baik. Namun tidak akan mengatakan hal buruk, hal yang di alami oleh dirinya. Karena takut sang ayah akan kembali drop.


Duke Aiken tersenyum di sela-sela air matanya, ternyata Alona Wichilia hidup bahagia.


"Sekarang kita berada di istana, Baginda Kaisar menyuruh kita untuk tinggal di istana. Apa ayah tahu, Alexsa, cucu ayah telah bertunangan dengan Putra Mahkota Delix."


Duke Aiken memejamkan matanya, ia menyesal telah melewati momen bahagia sang cucu.


krek


"Aiken, kamu sudah sadar." Baginda Kaisar langsung datang saat ada seorang pelayan yang memberitahukannya bahwa Duke Aiken telah sadar.


"Syukurlah, kamu sadar."


Baginda Kaisar menangis haru, ini yang kedua kalianya ia mengeluarkan air mata setelah kematian istrinya.


Sedangkan di luar istana.


Seorang laki-laki tengah memandang istana megah itu dengan senyum yang menyeringai. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan calon tunangannya.


"Alona...."


Dia pun memberikan kode pada bawahannya untuk membuat kekacauan di luar istana. Rencananya berjalan lancar, beberapa menit dia melihat seorang laki-laki melihat kekacauan yang telah di buatnya.


Laki-laki yang tak lain Putra Mahkota Delix itu pun mengeluarkan pedangnya, dia turun langsung untuk membasmi manusia iblis yang telah mengacau itu.


Raja Iblis tersenyum saat seorang wanita keluar dari dalam istana. Di balik jubah hitamnya itu, ia melangkah dan hanya beberapa detik saja. Dia sampai di hadapan Alona Wichilia.


Alona Wichilia menganga, ia memundurkan langkahnya.


"Jangan takut, aku tidak akan menyakiti mu." Raja Iblis mendekat, namun Alona Wichilia malah mundur.


"Raja Iblis," Amarahnya membahara, kilasan ingatan tentang ayah dan kakaknya yang menjadi korban kekejaman Raja Iblis membuatnya ingin membunuh laki-laki di hadapannya.


"Alona, kita bertemu."


"Aku tidak sudi untuk bertemu dengan mu," kecam Alona Wichilia. Dia begitu benci pada Raja Iblis yang telah menipunya.


"Alona dengarkan penjelasan ku dulu," Raja Iblis mendekat.


Alona Wichilia mengeluarkan kekuatannya, hingga sebuah tanaman melilit kedua kaki Raja Iblis. "Penjelasan, bagi ku kamu sudah mati."


"Alona, waktu itu aku..."


Sebelum Raja Iblis melanjutkan perkataannya, sebuah serangan tiba-tiba menghantam punggungnya. Dia menoleh dan melihat kedua laki-laki.


Raja Iblis pun marah, dia mengeluarkan kekuatan kegelapannya menghantam Marquess Ramon dan Albern. Kedua laki-laki itu menghindar.


Alona Wichilia menelan ludahnya, dia memandang luka di punggung itu. Namun luka itu langsung sembuh. Dulu tangannya yang mengobatinya.


Raja Iblis membasmi tanaman yang melilit itu, kemudian menyerang kedua laki-laki yang telah mengganggunya. Niatnya hanya satu, menyerang istana untuk bertemu dengan Alona Wichilia.


"Nyonya, apa Nyonya baik-baik saja?" tanya Kendrik. Alexsa telah menolongnya, maka ia berhutang budi pada keluarga Duke Aiken. "Sebaiknya Nyonya masuk ke dalam, ini tidak baik."


"Ingat! masih ada Nona Alexsa dan Tuan Duke."


"Baiklah." Alona Wichilia terus melangkah, namun langkahnya langsung berhenti ketika mendengarkan namanya di panggil.


"Alona... Aku tidak akan melupakan mu."


Alona Wichilia menoleh, bibirnya gemetar. Ia mengusap air mata di pipinya dan kembali melangkah.


Aku harap, secepatnya kamu harus pergi.


Alona Wichilia melihat ke kamar Alexsa, putrinya masih terbaring lemah di temani pelayan Anne. "Anne, kalau ada sesuatu. Kamu katakan pada ku."


"Jangan khawatir Nyonya."


Sebelum meninggalkan sang putri, Alona Wichilia mencium kening Alexsa. Kemudian berlalu pergi ke kamar sang ayah.