Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Masalah Hati


Ayne mengepalkan tangannya, hingga kuku putihnya itu menancap dan mengeluarkan darah. Dia merasa seluruh dunianya hancur, seperti puing-puing yang sudah tidak berbentuk lagi. Semenjak umurnya 12 tahun, ia sudah jatuh hati pada senyuman Putra Mahkota Delix dan meminta pada sang ayah untuk menjodohkan dirinya dengan Putra Mahkota Delix.


Marquess Ramon yang berdiri, dia langsung duduk di samping putrinya, menghadap ke arah sang putri dan memegang bahunya. "Ayne, dengarkan ayah. Ayah berjanji akan mencari laki-laki yang sangat mencintai mu."


Tidak ada jawaban, bibirnya gemetar. Tidak akan mudah membalikkan sebuah cinta. Cinta yang sudah bertakhta sangat lama, bahkan ia rela melakukan apa pun. Jika di minta nyawanya pun ia sanggup.


"Tuan, apa yang kamu lakukan? Ayne sangat menginginkan Putra Mahkota Delix. Dia sangat mengaguminya sebelum kedewasaannya."


Kedewasaan seseorang menandakan dimana dia sudah dewasa dan siap menikah. Saat kedewasaan, dia akan mencari pasangannya dan kedewasaan Ayne di gelar di istana. Dia menolak banyak laki-laki yang datang padanya dan memilih berdansa dengan Putra Mahkota Delix dengan bujukan Baginda Kaisar. Sebelumnya kedewasaan itu di gelar, Marquess Ramon memang telah mengatakan pada Baginda Kaisar dan Baginda Kaisar menyetujuinya.


"Apa kamu ingin Ayne menderita setelah dia menikah dengan Putra Mahkota Delix? Putra Mahkota tidak mencintainya."


"Cinta akan tumbuh seiringnya waktu," sarkas Marchioness Mary.


Bukan masalah tentang perasaan, kalau sampai putrinya Alexsa menikah dengan Putra Mahkota Delix dan Ayne memasuki istana, menjadi Selirnya. Bukan lagi kedamaian, tapi peperangan. "Seharusnya kamu sebagai ibu menenangkannya, bukan membujuknya."


"Aku sebagai seorang Ibu mendukung setiap keputusan dan keinginan putri ku. Seharusnya Tuan juga mendukungnya."


Marquess Ramon sangat kesal dan marah. Istrinya tidak pernah menurut, kalau sudah marah, wanita itu akan marah dan melampiaskan pada para pelayan dan ia harus turun tangan menenangkannya."Mery! kamu tidak bisa memberikan contoh yang baik untuk Ayne. Andai saja kamu itu bisa mendidiknya dengan benar."


"Mery!" teriakan nyaring dan keras itu menggetarkan seisi ruangan. Jantung Marchioness Mery seakan melompat. Dia meneguk ludahnya secara kasar, ia tidak pernah melihat kilatan kemarahan Marquess Ramon. Laki-laki itu tidak pernah marah atau bersikap kasar padanya.


"Cukup!" Ayne berdiri. Hatinya hancur karena sebuah penolakan dan bertambah hancur karena kedua orang tuanya bertengkar.


"Ini semua gara-gara Dia? kalau saja nona Rose tidak datang. Baginda Kaisar tidak akan membatalkan niat perjodohan ini." Ayne mengingat betapa nona Rose itu membela Alexsa dan terpancar di kedua matanya kebencian pada dirinya.


"Ayne, ini bukan masalah apa-apa, tapi ini masalah perasaan," ujar Marquess Ramon. Hatinya tidak setuju, kalau Alexsa di salahkan lagi.


"Perasaan? walaupun Putra Mahkota Delix tidak mencintai ku. Perasaan itu akan tumbuh saat kita menikah, ayah." Ayne mengangkat wajahnya dengan api membara di kedua bola matanya. Dia mengusap air matanya secara kasar dan meninggalkan semua orang di ruangan itu.


Marchioness tak kalah geram, dia melengos pergi meninggalkan kedua laki-laki itu dan menyusul Ayne ke kamarnya.


"Kamu juga Albern, selalu memanjakan Ayne. Aku tidak membela siapa pun, tapi aku memikirkan perasaannya kalau suatu saat dia menikah dan di abaikan. Bagaimana perasaan mu kalau seandainya Ayne di abaikan oleh Putra Mahkota?"


Marquess Ramon pun pergi meninggalkan Albern yang diam saja. Laki-laki yang sejak tadi berdiri, berpindah duduk seperti orang linglung. Ia ingin marah, tapi marah pada siapa? Alexsa sudah pergi dan ibunya sudah pergi adalah keinginan keluarganya. Seharunya keluarganya sudah damai setelah kepergiannya.