Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Tentang Nona Alexsa


"Apa Putra Mahkota sering kesini?" tanya Duchess Alexsa. Danau yang di kelilingi oleh pepohonan rindang ini sangat cocok untuk orang yang menyendiri dan mencari ketenangan.


Putra Mahkota Delix duduk di atas rerumputan itu seraya menyelonjorkan kaki kanannya, sedangkan kaki kirinya di tekuk dan kedua tangannya menyanggah tubuhnya. "Iya, aku sering ke sini. Sekedar menenangkan hati dan pikiran."


"Iya, suasana di sini nyaman."


"Alexsa,"


Putra Mahkota Delix menatap langit malam. "Apa kamu pernah berfikir untuk kembali pada Duke? apa kamu masih mencintainya?" Pertanyaan beruntun dan tak bermanfaat itu membuat Duchess Alexsa enggan menjawab.


"Apa Putra Mahkota berfikir aku wanita lemah begitu?"


"Tidak!" tegas dan lugas. Putra Mahkota Delix tidak pernah mengatakan dalam pikirannya dan hatinya. Jujur, ia mengagumi sosok Duchess Alexsa yang rela bertahan di tengah-tengah orang yang mengabaikannya. Kalau saja orang lain, bisa saja orang itu lari atau malah bunuh diri. Namun wanita di sampingnya, malah memiliki pendirian yang teguh, pemberani dan tegas.


"Kalau begitu, aku melepaskannya saat aku sudah bercerai dan aku tidak mengharapkan apa pun lagi. Bagiku sekarang mencari keberadaan ibu ku,"


"Baginda Kaisar telah mengirim beberapa lukisan keluarga Duke Aiken. Mungkin mereka melihat salah satu dari keluarga mu, sama seperti dulu dan aku harap kita bisa menemukan sosok ibu mu."


"Aku penasaran alasan ibu pergi, hanya itu. Kalau pun ibu ku seorang wanita yang merusak keluarga Marquess Ramon. Aku akan meminta maaf." Ia sudah bertekad, jika ia mendengarkan sendiri sang ibu mencintai Marquess Ramon atau memang sengaja. Maka dirinya akan meminta maaf dengan tulus hati, karena tidak mudah datang pada pernikahan orang.


Di tempat lain.


Seorang wanita tengah menatap seorang pria yang terbaring di sebuah altar. Sudah beberapa tahun kedua mata itu tidak terbuka dan tubuhnya terbaring lemah seperti orang mati. Namun masih bernafas, sebuah racun yang tak bisa ia temukan dan racun itu langka. Bunga iblis, bunga yang beracun dari bangsa iblis. Demi penawarnya, ia harus merelakan hidupnya. Dalam beberapa tahun ini ia merasa tubuhnya kotor bahkan telah merusak kebahagian orang.


Setiap malam ia menangis, meratapi nasibnya dan merasa bersalah. Ia tidak bisa melupakan perbuatannya yang telah merusak hubungan orang. "Ayah, aku tidak sanggup melihat dunia ini."


Dunianya telah hancur setelah tragedi penyerangan itu, kakak satu-satunya telah meninggal, mempertaruhkan nyawanya demi dirinya. Begitupun ayahnya yang juga mempertaruhkan nyawanya demi dirinya. Luka tusukan akibat pedang yang telah di lumuri bunga iblis. Bunga hitam dan bau yang menyengat.


Flasback


"*Cih, aku tidak akan pernah membiarkan putri ku menjadi istri mu."


Hahaha


Pria itu menatap tajam, mata berwarna putih dan bola matanya berwarna hitam kecil itu sangat menyeramkan. Sejak dulu Pria itu memang sudah terpikat dengan anak kedua dari Duke Aiken, kecantikannya dan senyumannya yang mendebarkan.


"Kamu manusia yang berwujud iblis."


"Aku tidak membutuhkan ceramah mu, aku akan mencari putri mu."


Pria itu menusuk dada kiri Duke Aiken tanpa belas kasih. Sedangkan di sebrang sana terlihat seorang wanita yang menangis tergugu melihat ayahnya di tusuk. "Aku tidak bisa, aku mau kesana."


"Nona Alona, tolong jangan sia-siakan pengorbanan Tuan Duke dan nona Aundrey," ujar pria berjenggot dan memakai jubah hitam itu. Hatinya pun sangat sedih. Ia merasakan sosok yang tegas itu berada di ambang kematian. Sihirnya juga terkuras habis, ia membuat tubuh Alona Wichilia tidak bisa di cium oleh bangsa iblis.


"Maaf, saya tidak bisa membantu Nona," ujarnya pelan. Untungnya, ia bertindak cepat dan membawa satu-satunya keturunan Duke Aiken yang di sembunyikan. Semenjak kelahiran putri kedua Duke Aiken, raja Iblis memang sudah mengincarnya. Maka dari itu, nona kedua dari keturunan Duke Aiken di sembunyikan dari publik.


Alona Wichilia semakin menangis histeris. Setelah bangsa iblis membakar kediaman sang ayah. Ia dan ketua penyihir bertindak cepat dan lagi-lagi ketua penyihir itu membantunya. Namun sayang, ayahnya bisa bertahan hidup dalam keadaan terbaring sedangkan sang kakak telah pergi meninggalkannya.


Flasback Off


"Nyonya, saya ad kabar. Putri Nyonya telah memasuki istana." Pria itu tersenyum di balik jubah hitamnya. Rambutnya samakin memutih dan jenggotnya semakin panjang dan juga ikut memutih. "Hidupnya penuh penderitaan."


"Saya mencari informasinya Nyonya. Nona Alexsa tidak di perlakukan baik oleh Tuan Duke dan Marquess Ramon. Nona Alexsa sempat menikah dan berakhir penceraian karena Tuan Duke memilih kekasihnya." Jelas pria itu. Ia kasihan, setelah sekian tahun bersembunyi dan keluar mencari identitas majikan selanjutnya.