Hasrat Penggoda

Hasrat Penggoda
Bab 95. Kamu Adalah Rumah


Sepulang dari klinik, Bianca langsung kembali bekerja. Dia pergi ke pinggiran pantai, tempat yang biasa ia gunakan untuk menjemur ikan-ikan hasil tangkapan. Kemudian setelah kering Bianca akan menjualnya ke pasar.


Sebuah pekerjaan yang menjadi mayoritas penduduk di pulau tersebut.


Dengan perut yang semakin membesar, Bianca merasa lebih cepat lelah. Namun, sedikitpun dia tidak pernah mengeluh. Dia harus bisa mengumpulkan uang untuk biaya persalinannya kelak. 


Meskipun ia tahu Bella akan membantunya. Namun, dia tidak ingin bergantung pada orang lain, yang membuat dia menjadi tidak mandiri.


"Mainnya nanti lagi ya, Sayang. Mama kan sedang bekerja," ucap Bianca sambil mengelus bagian perut yang ditendang oleh salah satu bayinya. Dia tersenyum tipis saat sang anak merespon kembali melalui sebuah gerakan.


"Kalian nakal ya," ucap Bianca lagi sambil mengangkat lengan, untuk sekedar mengelap keringat yang membasahi pelipisnya.


Suasana terik sudah menjadi makanan sehari-hari untuk Bianca. Sehingga kini kulitnya berubah menjadi lebih gelap dan kusam. Ditambah dia jarang menggunakan produk kecantikan.


Bianca selalu berpikir bahwa masa depan anak-anaknya jauh lebih penting, dari pada ia harus membelikan sebuah barang yang tidak berguna untuk dirinya. Karena berdasarkan hasil USG, ada tiga bayi yang tumbuh di rahim wanita cantik itu.


Bukannya merasa terbebani, Bianca malah merasa sangat bersyukur, karena dia akan mendapatkan 3 anak sekaligus. Awalnya dia tidak percaya, tetapi saat melihat hasil USG yang menunjukkan janin-janin kecil di rahimnya.


Akhirnya Bianca yakin, bahwa Tuhan telah menyiapkan kebahagiaan berlipat ganda, melalui ketiga buah hatinya.


Sebuah anugerah yang tidak disangka-sangka.


***


Sore hari, ketika senja mulai datang. Bianca mengangkat semua ikan-ikan yang ia jemur tadi siang. Dia meletakkan sebuah wadah besar di sisi pinggulnya, kemudian mengambil satu persatu ikan tersebut.


Sebuah pemandangan yang teramat menyedihkan bagi seseorang yang berdiri tak jauh dari Bianca.


Dia seperti sedang bermimpi, karena sosok yang selama ini ia cari dan ia rindukan, sudah ada di depan matanya. Namun, dengan keadaan yang berbeda, karena kini Bianca telah mengandung anaknya.


Bizard terpaku, dia terus terdiam dan menahan diri untuk tidak segera menghambur memeluk Bianca. Dia benar-benar merasa bersalah, karena membiarkan wanita itu hidup dengan penuh derita.


Andai dia tidak ingat dengan Bella, mungkin saat ini dia belum bisa menemukan pemilik hatinya itu. Sebab pulau ini sangat jarang didatangi oleh penduduk baru. Ya, dengan otak yang selalu bekerja keras, akhirnya Bizard menemukan sebuah solusi yang tepat, yaitu mencari keberadaan Bella—sahabat Bianca.


Dengan bantuan Aneeq, Bizard langsung bisa menemukan di mana Bella berada. Awalnya wanita itu menolak untuk menjelaskan. Namun, meksipun begitu, bukan berarti Bella tidak tahu bahwa Bizard mencari keberadaan Bianca.


Hanya saja dia ingin melihat seberapa besar usaha pria itu memperjuangkan sahabatnya. 


Hingga akhirnya, Bella pun sadar, bahwa Bizard benar-benar mencintai Bianca. Dia  memutuskan untuk memberitahu keberadaan wanita itu pada Bizard. Dengan sebuah kesepakatan, bahwa Bizard tidak akan menyakiti Bianca, atau bahkan mengambil anak mereka.


Dan di sinilah Bizard sekarang. Pria itu berdiri berhadapan dengan matahari yang kian tenggelam. Sementara satu-satunya objek yang ia perhatikan adalah wanita berperut buncit, yang kini tengah mengumpulkan ikan-ikan.


Bianca yang belum menyadari keberadaan Bizard, masih tampak biasa-biasa saja. Hingga tiba-tiba ia dibuat terperangah, oleh sosok pria yang kini tengah menatapnya.


Deg!


Wanita itu terus membeku, matanya hanya bisa mengembun, dengan tubuh yang mulai terasa lemas. Hingga tiba-tiba wadah yang sedari tadi ia pegang, jatuh ke pasir yang ia pijak.


Bianca merasa tidak sanggup, pertahanannya runtuh, hingga air matanya lolos saat Bizard sudah berada tepat di hadapannya.


Pria itu memindai wajah Bianca yang kini berubah kecoklatan, kulitnya bersisik dengan rambut pirang yang dikepang. Penampilan wanita itu terlihat sangat sederhana, dengan dress bunga-bunga yang sudah terlihat lusuh, lengkap dengan perut buncit.


Namun, sumpah demi apapun, Bianca tetaplah terlihat cantik di mata Bizard. 


"Sampai kapan, Bi? Sampai kapan kamu ingin menyembunyikan dia dariku?" tanya Bizard untuk yang pertama kali, membuat Bianca semakin meloloskan air matanya.


Dia menatap objek lain, tak sanggup jika harus bersitatap dengan kedua netra milik Bizard. Lidahnya kelu lengkap dengan ludah yang tercekat di tengah tenggorokan. Rasanya sangat sulit, untuk menjawab satu pertanyaan itu.


"Apakah kamu tahu selama 5 bulan ini aku mencarimu? Apakah sedikitpun kamu tidak memikirkan aku? Hah, apakah kamu tidak sadar, bahwa kamu telah menyiksaku? Katakan, Bi! Jika aku tidak datang, apakah kamu akan terus menyembunyikannya?" tanya Bizard, dengan suara yang begitu sumbang.


Air mata pria itu luruh dengan lancang, membasahi janggutnya. Dia tidak peduli jika dia dicap sebagai pria lemah. Karena pada kenyataannya dia memang lemah tanpa Bianca di sisinya.


Bibir Bianca bergetar dengan nafas yang mulai memburu.


"Aku—aku—" Wanita itu tergagap. "Aku hanya ingin mengambil separuh bagian dari dirimu, Bee. Maafkan aku."


Bianca menggigit bibirnya kuat-kuat sambil terisak-isak. Namun, sekuat apapun Bianca menahan segala sesak di dadanya, pada akhirnya tangis dia pecah juga, dia meremat ujung baju dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


Melihat itu, Bizard tentu tidak bisa diam saja. Dia langsung menarik tubuh Bianca untuk masuk dalam dekapannya. Di dada bidang pria itu, Bianca melepaskan segala kerinduan yang selama ini bersarang di hatinya.


"Maafkan aku, Bee. Aku tidak bermaksud membohongimu."


Bahkan dalam waktu yang cukup lama, Bianca masih ingat betul dengan aroma tubuh Bizard, aroma yang akan selalu menjadi candunya.


Dalam beberapa waktu ke depan mereka saling memeluk erat dan menumpahkan segala kesakitan yang selama ini melanda hati masing-masing. Bizard menangkup kedua sisi wajah Bianca, hingga wanita itu menengadah dengan uraian air mata. 


"Jangan hanya milikku aku separuh. Tapi milikilah aku seutuhnya. Ayo kita pulang, kita besarkan dia sama-sama, dan berjanjilah untuk selalu berada di sisiku," ucap Bizard yang membuat Bianca semakin terisak kencang.


Bianca tidak bisa menjawab, hingga dia merasakan Bizard menyatukan bibir mereka berdua. Di bawah langit jingga, dan disaksikan oleh ombak yang saling berkejaran. Dua buah hati telah kembali bersama. Karena sejatinya, cinta akan tahu ke mana ia harus pulang.


"Kamu adalah rumah, dan aku adalah penghuninya."


...TAMAT...


...****************...


Akhirnya gue bisa satsetsatset😝😝😝