Hasrat Penggoda

Hasrat Penggoda
2B (9)


Sebelum tidur Bizard memberikan pijatan pada kaki istrinya. Dia mengambil minyak zaitun lalu mengoleskannya pada kaki Bianca. Dengan perlahan pria tampan itu menggerakan tangan, ingin membuat Bianca merasa nyaman.


"Bagaimana? Apakah ada yang kurang?" tanya Bizard sambil menatap sang istri yang terlihat keenakan.


Bianca tersenyum manis. Lalu menggeleng kecil. "Tidak ada, Bee. Pijatanmu enak."


"Syukurlah kalau begitu, aku akan melakukannya kapanpun kamu mau, Sayang. Jadi jangan sungkan untuk meminta, okey?"


Bianca bergeming, di dalam hatinya ada dua keinginan yang diungkapkan pada Bizard. Namun, tidak tahu akan dipenuhi oleh pria itu atau tidak. Tentang anak mereka dan juga Joana.


"Bee, tapi jika aku meminta sesuatu yang lain, apakah kamu akan mengabulkannya?" tanya Bianca dengan penuh kehati-hatian. Dia tahu ini masalah sensitif, tetapi dia tidak mau terus memendamnya. Karena hal tersebut hanya akan membuat dia terus-menerus merasa bersalah.


Bizard semakin mengangkat kepalanya, dengan tersenyum dia mengangguk. "Kamu mau apa? Aku akan mengabulkannya selagi bisa."


Bianca menggigit bibir bawahnya. Entah kenapa dia malah merasa takut sendiri. Dengan mengumpulkan keberanian, akhirnya ibu hamil itu pun mengutarakan keinginannya. "Aku ingin bertemu dengan Joana."


Deg.


Bizard langsung menghentikan gerakan tangannya di kaki Bianca. Menatap dua bola indah itu dengan penuh tanya. Bertemu Joana? Untuk apa? Bukankah semuanya sudah selesai, antara mereka bertiga, kini hanya menjadi sebuah masa lalu kelam.


"Maksudmu bagaimana, Bi?" tanya Bizard, ingin Bianca menjelaskan lebih detail, agar dia tidak berburuk sangka.


Seharusnya kemarin dia cukup memenjarakan Joana, tanpa embel-embel lainnya.


Bizard terdiam untuk mencerna semua ucapan Bianca. Dia tahu kalau sebenarnya Bianca adalah wanita baik-baik, tetapi rasa sakit di hatinya membuat dia nekat untuk melakukan itu semua. Terlebih pada saat itu tidak ada satu orang pun yang berdiri di belakangnya.


"Tapi bukan berarti kamu menyesal bertemu dengan aku 'kan?" tanya Bizard, membuat Bianca menyunggingkan senyum.


"Aku tidak menyesalinya, Bee. Yang membuatku merasa bersalah adalah caraku mendapatkanmu. Aku sadar betul, bahwa aku bukanlah wanita baik-baik, tapi aku juga memiliki rasa takut, takut jika kelak apa yang perbuat hari ini, anak-anakku yang membayarnya," jelas Bianca dengan bibir yang bergetar. Bahkan tanpa terasa air matanya pun ikut mengalir. "Maka dari itu, aku ingin menyelesaikan semuanya. Aku ingin mengemis maafnya."


Bianca terisak-isak, membuat Bizard tidak bisa untuk diam saja. Pria tampan itu bergeser, agar lebih dekat dengan Bianca, lalu dengan cepat merengkuh kedua bahu istrinya, memberikan dekapan hangat.


"Baiklah, nanti besok kita pergi sama-sama ke sana. Aku akan selalu berada di sisimu, karena aku ingin memastikan kamu baik-baik saja," ucap Bizard, mengapresiasi niat baik Bianca untuk meminta maaf pada mantan istrinya.


Dan semoga saja dengan begitu semuanya benar-benar selesai. Sehingga tidak ada lagi dendam antara Bianca dan Joana.


Cup!


"Kamu wanita hebat."