
Setelah menangis cukup lama di pelukan sang ibu mertua. Bianca pun merasa begitu lega, dia seperti habis melepas beban yang selama ini bersarang di dadanya. Kesepian yang kerap menyapa kini terbayar sudah.
Bianca menarik diri, kemudian menghapus sisa air matanya. Wanita hamil itu tersenyum manis, merasa begitu beruntung telah memiliki pria seperti Bizard dan keluarga yang sangat menyayanginya.
Namun, ada satu orang yang senantiasa memperhatikan Bianca sedari tadi. Dia merasa tidak asing dengan nama itu, juga parasnya yang cukup familiar. Dan dia adalah Andrew—ayah mertua Derrick.
Pria paruh baya itu menelisik wajah Bianca, hingga dia benar-benar melihat sosok Adam Harrow—sahabatnya yang sudah tiada.
Deg!
Andrew sedikit terperangah. Benarkah Bianca adalah putri sahabatnya? Dia pun mencoba mendekat, saat Zoya mengajak semua orang untuk makan siang bersama.
"Tunggu!" ujar Andrew, menghentikan langkah Zoya yang sudah menggandeng tangan sang menantu. Hingga membuat semua orang kini menatap ke arahnya.
"Daddy, ada apa?" tanya Cyara dengan kening yang berkerut, sementara Bianca yang baru menyadari kehadiran Andrew, langsung melebarkan kelopak matanya. Dia juga melirik ke arah Cyara yang memanggil Andrew dengan sebutan Daddy.
"Bianca," panggil Andrew, hingga membuat Bianca kembali menatap ke arah pria paruh baya itu. Pandangan mereka bertemu, dan Bianca sungguh mengenali sosok pria yang ada di hadapannya.
"Paman?" jawab Bianca lirih, bola matanya kembali berkaca-kaca, tak menyangka jika dia akan kembali dipertemukan dengan sahabat ayahnya. Orang yang pernah menenangkan dia saat Adam dinyatakan meninggal dunia.
Seketika semua orang saling pandang. Tak terkecuali Bizard. "Honey, kamu mengenal Daddy Andrew?" Tanya pria tampan itu.
Namun, bukan Bianca yang menjawab, melainkan Andrew sendiri. "Kami saling mengenal, ayahmu Adam Harrow 'kan?"
Bianca langsung menutup mulutnya, dengan air mata yang kembali luruh. Dunianya terasa sangat sempit, karena ternyata Andrew pun menjadi bagian dari keluarga suaminya.
Pelan, Bianca menganggukkan kepala. Tanpa ba bi bu Andrew langsung mendekat, kemudian memeluk tubuh Bianca. Dia merasa bersalah, karena saat itu tak bisa membantu Bianca yang ternyata diusir oleh keluarganya.
Dia tidak bisa mendampingi Bianca, sebab dia memiliki perjalanan bisnis ke luar negeri. Dan ia begitu percaya bahwa keluarga Bianca, tidak akan setega itu mengusir seorang gadis remaja.
Di dalam dekapan Andrew, Bianca kembali menangis. Teringat dengan sang ayah, andai pria paruh baya itu masih hidup, mungkin sekarang Adam akan sangat bahagia, karena akan mendapatkan cucu darinya.
Semua orang yang melihat itu pun ikut merasa haru. Tak menyangka bahwa Andrew ternyata mengenal Bianca. Sama halnya seperti Cyara—dia memang tidak terlalu akrab dengan Bianca, sebab mereka jarang bertemu. Apalagi kini penampilan Bianca terlihat sangat berbeda, lain dengan dulu yang selalu memakai kacamata.
"Jadi, itu Cia, anak Paman?" tanya Bianca sambil melirik Cyara yang kini memiliki tubuh montok, akibat suntikan suaminya, dan Andrew langsung mengangguk sebagai jawaban.
"Iya, Nak. Dan itu suaminya." Andrew menunjuk De yang kini tengah menggendong Baby Queen. Pria berjambang lebat itu hanya menarik sedikit bibirnya, sebuah ekspresi yang menurutnya paling ramah untuk menyambut wanita selain istrinya.
"Dan yang ini suamimu," timpal Bizard sambil mengecup pipi Bianca sekilas. Membuat wanita hamil itu tersipu dan mengeluarkan semburat merah.
"Dasar tukang modus!" Ken menjewer telinga Bizard, hingga membuat semua orang pun terkekeh. Sementara Bizard hanya bisa mendengus.
Lalu memeluk pinggang Bianca dari samping. "Modus ke istri sendiri kan tidak masalah, Dad. Kayak Daddy kalo manja sama Mommy. Hih, ngalah-ngalahin anak kecil!" Cibirnya yang membuat Ken mendelik.
Belum sempat Ken memaki putranya, Zoya sudah menahan lengan pria paruh baya itu. "Sudah-sudah, lebih baik sekarang kita makan siang dulu ya, sambil ngobrol-ngobrol tentang kehamilan Bianca," ucap Zoya. Sebab ia ingin lebih mengakrabkan diri pada menantunya itu, agar Bianca tidak lagi merasa canggung.
"Tapi dia baru saja meledekku, Baby," protes Ken.
"Tapi kamu kan memang bayi besarku, Sayang," jawab Zoya, yang membuat semua orang menahan senyum.
Sementara Ken langsung berubah luluh. Namun, baru saja dia ingin mengecup bibir Zoya. Di bawah sana sudah ada yang menarik-narik tangannya, seolah memberi peringatan.
"Tetty puna Yoy, ndak oyeh tium-tium Mommy," ucap Gloria, yang membuat Ken langsung menggaruk kepalanya.
Lepas dari El, pindah ke Glor yang sama-sama suka itan tontol 🤣🤣🤣