
Bizard sudah tampak rapih dengan pakaian kerjanya. Dia keluar dari kamar dan melangkah ke arah dapur. Di mana Joana berada. Wanita itu terlihat membuat roti isi telur dengan segelas kopi hitam untuk sarapan suaminya.
Melihat Bizard datang, Joana berusaha untuk tersenyum dan baik-baik saja. Meskipun dalam hati dia masih bertanya-tanya, parfum milik siapa yang melekat di pakaian Bizard.
"Sayang, kamu sarapan sendiri yah. Aku mau siap-siap," ucap Joana begitu Bizard sudah duduk di meja makan. Wajah pria itu selalu menunjukkan raut datar, seolah tak berminat untuk menjawab ucapan Joana.
"Bersiap-siap untuk apa? Kamu sedang hamil tidak bisakah kamu diam di rumah?" tanya Bizard. Walaupun dia masih sangat kesal dengan Joana, tetapi dia tidak bisa memungkiri bahwa dirinya khawatir terjadi sesuatu pada wanita itu.
Mendengar itu, Joana yang sudah ingin melangkah menuju kamar, mendadak menghentikan laju kakinya. Dia tahu Bizard pasti akan keberatan. Akan tetapi dia tidak mungkin serta merta meninggalkan jabatan yang selama ini ia perjuangkan.
"Tapi, Bee. Banyak pekerjaan yang harus aku urus, aku tidak mungkin membiarkannya terbengkalai," jawab Joana dengan mimik wajah sendu. Rasanya sesak sekali tiap Bizard berkata ketus padanya.
Bizard menghela nafas kasar. Entah harus seperti apa dia bicara dengan Joana.
"Aku sudah memperingatimu, kalau kamu masih keras kepala, terserah! Tapi jangan salahkan aku jika terjadi apa-apa padamu!"
"Bee ...." Suara Joana terdengar mengiba.
"Aku malas berdebat! Kalau kamu mau bersiap-siap silahkan. Tapi ingat, nanti malam Mommy mengundang kita untuk datang ke mansion, jadi jangan sampai ada alasan lembur."
Setelah mengatakan itu Bizard langsung menggigit rotinya dengan kasar. Hatinya selalu memanas tiap kali mengingat semuanya, apalagi ditambah Joana yang keras kepala.
Akhirnya wanita itu hanya bisa menganggukkan kepala setelah berada dalam dilema. Sebab ia tidak akan pernah bisa mengabaikan urusan perusahaan, meskipun kini ada nyawa lain di rahimnya.
***
Kabar kehamilan Joana sudah sampai di telinga keluarga. Bahkan karenanya Zoya sampai membuat makan malam dadakan dengan mengundang keluarga Joana pula. Dia terlihat sangat bahagia, karena akhirnya Bizard pun akan menyandang predikat ayah, sama seperti kedua saudara lelakinya yang lebih dulu menikah.
Malam ini di mansion keluarga Tan terlihat sangat ramai, sebab semua anak serta cucu Ken dan Zoya berada di sana.
Bizard keluar dari mobil, kemudian membukakan pintu untuk istrinya. Di depan keluarga, mereka tidak boleh terlihat ada masalah. Yang ada Zoya akan terus mendesaknya untuk bercerita. Dan terbongkarlah hubungan ia dan Bianca.
"Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita," ucap Bizard sambil menggandeng tangan sang istri untuk masuk ke dalam rumah.
Joana hanya bisa mengangguk patuh, kemudian mereka melangkah bersama. Hingga sampai di meja makan panjang, tempat semua anggota keluarga berkumpul. Hanya keluarga Joana saja yang tidak datang, sebab Laura dan Evans menggunakan pekerjaan sebagai alasan.
Melihat anak dan menantunya datang, Zoya yang tengah menata makanan di atas meja, segera menghentikan aktivitasnya sejenak. Dia melangkah ke arah Joana dan Bizard, untuk menyambut dua orang itu.
"Selamat datang, Sayang," sapa Zoya sambil memeluk Bizard dan Joana secara bergantian. Melampiaskan rindu, karena mereka sudah lama tidak bertemu. "Aduh, ibu hamil semakin cantik saja yah." Goda wanita itu, membawa Joana untuk duduk di kursinya.
"Terima kasih, Mommy," balas Joana dengan sedikit mengulas senyum terpaksa.
"Daddy, ke mana, Mom?" tanya Bizard.
"Daddy sedang ganti baju, sebentar lagi juga turun."
Bizard terlihat manggut-manggut, kemudian matanya tertuju pada dua adik kecilnya yaitu Gloria dan Fierce.
"Cie-cie yang mau punya anak, selamat ya," ucap El—adik kembar Bizard yang kini sudah memiliki empat anak. Wanita bak barbie hidup itu sedang membantu sang ibu untuk menyiapkan makan malam mereka.
Mendengar itu, Bizard langsung mengangkat kepala. "Apa? Kamu mau meledekku karena kamu memiliki anak lebih dulu?"
"Apa sih, Kak Bee? Kok dateng-dateng sewot. Aku kan cuma mau kasih selamat, memangnya tidak boleh?"
"Wajahmu berkata lain, memangnya aku tidak bisa melihatnya?" ketus Bizard.
Eliana terkekeh kecil. Malah semakin gencar untuk menggoda kakaknya, padahal Caka sudah berusaha menahan dia. "Itu hanya perasaan, Kak Bee saja. Pada kenyataannya tidak demikian."
"Haish, kalian ini sedang meributkan apa? Aku yang jomblo saja biasa-biasa saja, kenapa kalian yang sudah berkeluarga malah berdebat?" sambar Choco, merasa jengah dengan situasi ini. Sebab setiap kali perkumpulan keluarga, hanya dia yang tidak memiliki pasangan.
Cih, nasib jomblo kenapa mengenaskan sekali?
"Aku sudah bilang—"
"Sudah-sudah, El. Cepat selesaikan semuanya, supaya kita juga cepat makan," timpal Jennie, yang sudah tidak asing dengan perdebatan di antara saudara kembar suaminya. Hingga membuat El terpaksa menelan kembali kalimatnya.
Makan malam tidak bisa berlangsung dengan tenang. Sebab ada sembilan anak kecil yang terus berceloteh dengan bahasanya masing-masing. Membuat Joana merasa pusing. Bahkan anak Cyara dan De terus menangis, sebab ia merasa bosan dan lapar.
"Poo, aku kasih mimik Queen dulu yah, kasihan dia," ujar Cyara meminta izin pada suaminya. Merasa tak tega melihat sang anak yang terus merengek dan terlihat berkeringat.
"Aku temani, sambil makan kamu kasih mimik," jawab De, yang membuat Cyara tersenyum. Suaminya itu memang paling tidak bisa melihat dia kesusahan sendiri. Akhirnya kedua orang itu pamit, untuk menyingkir ke tempat yang lebih tertutup.
Di tempatnya, Bizard melihat itu semua. Dari keharmonisan rumah tangga ayah dan ibunya, serta para saudara kembarnya. Semuanya terlihat begitu sempurna. Dan ia mulai membanding-bandingkan dengan rumah tangganya sendiri, hingga akhirnya hanya ada perasaan iri di hati.
Dan Aneeq bisa melihat itu semua dari tatapan mata Bizard.
***
Jangan lupa komen oeyyyyyy😩😩😩
Yang mau tengok Cyara dan De, ada di judul 'Gadis Kecil Om Dokter' yaaaa🤗 Di sana Baby Mochie masih on proses😂