Hasrat Penggoda

Hasrat Penggoda
2B (10)


Keesokan harinya, Bizard dan Bianca benar-benar pergi ke penjara untuk menemui Joana. Tidak ada keraguan sedikitpun dalam hati Bianca untuk meminta maaf, meskipun dia tidak tahu Joana akan menerimanya atau tidak.


Yang jelas dia akan jauh merasa lebih lega, ketika mengutarakan apa yang ada di dalam dadanya.


"Aku tidak akan membiarkanmu sendirian," kata Bizard seraya menggenggam tangan Bianca, ketika mereka sudah sampai di tempat tujuan.


Bianca mengulum senyum, rasanya tidak ada celah untuk tidak mengagumi pria yang ada di sampingnya. Bizard benar-benar sosok yang sempurna untuknya.


"Iya, Sayang. Aku senang kamu ada di sampingku," balas Bianca, yang membuat Bizard ikut tersenyum pula. Mereka berjalan beriringan, hingga sampai di ruang tunggu.


Joana dipanggil, wanita itu terus bertanya-tanya siapa gerangan yang hendak menemuinya? Apakah itu ayah atau ibunya?


Joana terus berjalan dengan pikiran yang tak tentu arah. Hingga tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat sosok berperut buncit, yang berada tak jauh darinya.


Dia?


Joana menelisik wanita yang ada di hadapannya, dari bawah hingga atas. Dan ternyata orang yang menemuinya sekarang adalah wanita yang telah merusak seluruh hidupnya.


"Untuk apa kamu datang ke mari? Ingin menertawaiku?" ketus Joana sambil memalingkan wajah. Hatinya sakit, apalagi saat melihat mantan suaminya ada sisi Bianca.


Mendapati pertanyaan itu, Bianca sedikit mendekat. Wajahnya sendu dan penuh rasa bersalah. Bukannya puas dengan kehancuran Joana, hati Bianca justru seperti ada yang mengganjal.


"Aku datang untuk meminta maaf, Joana. Aku akui aku salah, setelah hari itu aku terus berpikir, bahwa apa yang aku lakukan tidak memiliki hasil apapun. Karena aku malah merasa bersalah padamu," ujar Bianca apa adanya.


Namun, setelah mendengar itu, Joana malah berdecih. Karena dia merasa ocehan Bianca hanyalah omong kosong. Meskipun dalam batinnya, dia mengaku kalau selama ini dialah yang menjunjung tinggi ego-nya, hingga akhirnya apa yang di tangannya lepas semua.


Bianca tergugu, bahunya naik turun karena dia mulai terisak. Bizard tidak bisa diam saja, dia menyentuh lengan Bianca, tetapi wanita itu mengisyaratkan agar Bizard diam.


"Aku benar-benar minta maaf untuk itu, Jo. Aku sudah berusaha pergi, aku sudah berusaha untuk keluar dari masa laluku. Tapi kakiku seperti diikat oleh rantai, dan rantai itu sulit untuk aku lepas. Ya, sekali lagi aku akui itu semua karena kesalahanku sendiri. Jadi, aku mohon dengan sangat, lepaskan kebencian di antara kita ... aku tulus meminta maaf padamu," terang Bianca, dia hampir saja berjongkok meskipun kesulitan, namun dengan cepat Bizard menahannya.


"Di antara kita tidak ada yang benar, Joana. Aku salah, Bianca salah, begitu pun juga kamu. Aku dan dia bersama bukan berarti menunjukkan bahwa kita menang. Kita telah sama-sama hancur. Tapi apa yang sudah terjadi, menghasilkan ikatan antara aku dan Bianca, sesuatu yang tidak bisa aku lepaskan begitu saja," timpal Bizard, membuat Joana semakin berderai air mata.


Apa yang sudah dia lakukan? Sehingga menyia-nyiakan suami seperti Bizard? Kenapa bisa dia lupa diri?


"Lalu kalian pikir aku harus bagaimana?" tanya Joana.


"Seperti yang sudah Bianca katakan. Tak hanya dia, tapi aku pun meminta maaf atas semua yang terjadi di masa lalu. Kita telah mendapatkan balasan dari apa yang kita perbuat masing-masing, lalu apa salahnya kita saling memaafkan? Joana, lanjutkan hidupmu setelah ini dengan baik, aku yakin seseorang yang jauh lebih sempurna, telah Tuhan siapkan untukmu."


"Kamu mengejekku?"


"Tidak, aku sadar aku adalah suami yang buruk, tapi itu dulu, aku tidak akan mengulanginya lagi untuk yang kedua kali. Maka dari itu, keluarkan semua kebencian di dalam hatimu, dan anggap semuanya menjadi sebuah pelajaran hidup."


Joana terdiam, dia telah mengakui semua kesalahannya. Namun, rasanya untuk berdamai dengan Bianca dia tidak bisa. Selalu ada rasa sesak, hingga dia memilih untuk meninggalkan kedua orang itu.


Joana kembali ke sel tahanannya, di sana dia terduduk dan menangis. Rasanya sungguh menyakitkan, tidak memiliki siapapun sebagai sandaran.


"Andai waktu bisa diputar, aku akan menjadi istri yang baik untukmu, Bee. Aku menyesal."