Hasrat Penggoda

Hasrat Penggoda
Bab 92. Gamang (Belum Sadar)


Setelah dua hari telah berlalu kini Bizard sudah mulai bekerja seperti biasanya. Karena walau bagaimanapun Bizard tidak bisa mengabaikan tugasnya sebagai pengacara. 


Namun, sebelum benar-benar berangkat ke perusahaan, dia lebih dulu menyinggahi apartemen yang pernah dihuni oleh ia dan Bianca. Sebab ada file yang tertinggal di sana.


Pada awalnya dia ragu, hingga dia terus mematung di depan pintu. Akan tetapi batinnya terus meyakinkan, bahwa dia dapat melupakan semuanya. Terlebih tentang cintanya terhadap Bianca.


Begitu pintu apartemen terbuka, suasana hening langsung menyapa hati Bizard. Dia menatap sekeliling, semuanya begitu terasa senyap, sama seperti hari terakhir ia meninggalkan tempat ini. 


Dengan susah payah dia menggerakkan kakinya untuk melangkah. Namun, sekelebat bayangan tawa Bianca seolah memenuhi pelupuk matanya. Hingga membuat tubuh Bizard membeku seketika. Senyum wanita itu tersemat riang, mengundang manja yang membuat kedua netra Bizard berubah menjadi berkaca-kaca.


Seperti tidak akan pernah selesai, bayang-bayang wanita itu selalu saja menghampirinya.


Tiba-tiba ludah Bizard terasa tercekat, hingga ia menelannya dengan sangat berat. Dia menunduk, mencoba menghilangkan semua bayangan semu itu. "Ayolah, Bee. Jangan mau dibodohi pikiranmu sendiri!" Gumamnya, kemudian menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan.


Dengan tekad yang kuat dia segera melangkah masuk, lalu mencari benda yang ia butuhkan. Setelah semuanya sudah ada di tangan, Bizard buru-buru keluar dari sana. Dia takut semua kenangan ia dan Bianca akan kembali merusak pikirannya.


Tanpa dia sadari di tempat itu ada bukti bahwa Bianca telah mengambil separuh dari dirinya. Namun, karena rasa sakit di hatinya masih membara, Bizard tidak berpikir sampai ke sana.


***


Setelah selesai bekerja, Bizard langsung pulang ke mansion kedua orang tuanya. Karena Ken dan Zoya tidak mengizinkan Bizard tinggal sendirian, apalagi dalam keadaan putranya yang seperti itu.


Ketika Bizard ingin masuk ke dalam kamar, tiba-tiba Zoya menghampirinya dengan senyum mengembang. Wanita itu baru saja keluar dari dapur, setelah melihat para pelayan yang sedang menyiapkan hidangan makan malam.


"Bee, kamu sudah pulang, bagaimana perkejaanmu tadi? Apakah lancar, Sayang?" tanya Zoya sambil membenahi rambut Bizard yang sedikit berantakan. 


Bukannya menjawab Bizard malah terdiam saat mendengar pertanyaan itu. Sebab dia kembali teringat dengan Bianca—ya— wanita itu selalu bertanya persis seperti pertanyaan Zoya, saat ia baru saja pulang bekerja. Membuat semua rasa lelah di tubuh Bizard hilang begitu saja.


"Sayang, ada apa?" tanya Zoya seraya menyentuh lengan Bizard, hingga membuat pria itu pun tersadar. Raut wajah Bizard tidak bisa bohong, membuat Zoya tahu bahwa sang putra tengah memikirkan sesuatu. "Apakah ada yang sedang kamu pikirkan?"


Lagi-lagi Bizard hanya terdiam. Hingga akhirnya Zoya memutuskan untuk menggandeng tangan Bizard, masuk ke dalam kamar. Setelah wanita itu berhasil menutup pintu, dia langsung mengalihkan pandangan matanya pada sang anak. 


"Bee, apakah semua ini ada sangkut pautnya dengan istri keduamu?" Zoya memberanikan diri untuk bertanya. Sebagai seorang wanita, dia paham bagaimana tatapan Bizard saat membicarakan seseorang yang ia cinta. Sama halnya saat Zoya melihat Ken.


Mendengar itu, tentu saja Bizard langsung mengangkat kepalanya. Dia tahu Zoya tidak akan pernah bisa dia bohongi, ketika mereka sudah bersitatap seperti ini. Namun, hatinya pun sedang gamang, mencari jawaban akan apa yang ia rasakan.


Dia tidak bisa memastikan sebuah kerisauan yang memenuhi dadanya. Sehingga yang bisa ia lakukan hanyalah menggelengkan kepala. "Tidak ada, Mom. Aku dan dia sudah selesai. Jadi, tidak ada yang patut untuk dibicarakan lagi."


Mulutnya boleh bicara seperti itu. Namun, siapa yang bisa mendustai kata hati? Bahwa sebenar-benarnya masih ada nama Bianca di sana. Terukir jelas, bahkan tersemat indah.


Hanya saja, rasa kecewa telah menutup semuanya.


Zoya menghela nafas panjang. Dia tidak bisa memaksakan kehendak, agar Bizard bicara lebih banyak lagi tentang Bianca. Hingga akhirnya Zoya mengangkat tangan untuk sekedar mengusap rahang putranya. "Kalau begitu bersihkan tubuhmu. Sebentar lagi kita akan makan malam." 


Setelah mengatakan itu, Zoya pun pamit untuk keluar dari kamar Bizard. Akan tetapi sebelum Zoya melangkah, pria itu kembali menahan ibunya. "Mom!"


"Ya, Sayang."


"Tolong salah satu masakannya jangan dikasih cabai yah."


Zoya mengernyit, sebab tidak biasanya Bizard meminta hal yang seperti itu. "Perutmu sedang bermasalah?"


Bizard menggeleng cepat.


"Tidak, Mom, aku hanya sedang tidak ingin makan makanan yang mengandung cabai," jelasnya, yang semakin membuat Zoya merasa heran. Akan tetapi karena tidak ingin mempermasalahkannya, Zoya pun mengikuti semua keinginan Bizard.


Dan lagi-lagi Bizard belum menyadari, bahwa semua itu ada sangkut pautnya dengan kehamilan Bianca. Anugerah yang belum diketahuinya, sebab Bianca telah membawa janin itu pergi bersamanya.


***


Cebyyy cari papa baluuu aja😌😌😌