
Sejak hari itu, hubungan Bizard dan Joana mulai membaik. Joana terus berusaha agar Bizard kembali bersikap seperti biasa, hingga akhirnya dia berhasil menaklukkan pria itu, Bizard yang tergolong pria sabar, tak bisa terus-menerus memendam kekesalan terhadap istrinya.
Dia pun mencoba untuk mengalah, menurunkan semua ego yang ada di kepala. Meskipun tidak mudah, tapi pada nyatanya dia merasa lebih baik sekarang. Bahkan ia dan Joana telah sepakat untuk menyewa asisten rumah tangga, agar meringankan pekerjaan Joana.
Kini sepasang suami istri itu tampak berada di depan rumah. Mereka saling merangkul mesra untuk berpamitan kerja.
"Hati-hati ya, Sayang," ucap Joana dengan bibir yang senantiasa tersenyum.
Bizard menganggukkan kepala dan ikut tersenyum pula. Tak lama setelah kecupan mendarat di kening sang istri, keduanya pun berpisah dan memasuki mobil masing-masing. Seperti biasa, Bizard pun menunggu istrinya berangkat terlebih dahulu, sebelum akhirnya ia menginjak pedal gas kendaraan roda empat itu.
Sementara di sisi lain, Bianca masih menunggu Bizard datang. Dia merasa akhir-akhir ini hubungan pria itu dengan istrinya telah membaik. Jadi, sambil duduk ia terus berpikir, kembali mengatur strategi untuk mendekati Bizard. Bagaimana pun caranya, dia harus semakin gencar untuk masuk ke dalam kehidupan rumah tangga Joana.
Tin!
Suara klakson mobil Bizard memecah lamunan Bianca. Wanita cantik itu tampak terkejut dan reflek mengangkat kepala. Saat menyadari bahwa itu adalah seseorang yang ia tunggu, Bianca pun mengulum senyum kemudian bergegas masuk ke dalam mobil.
Dan detik selanjutnya kendaraan roda empat itu kembali melaju. Menyusuri gang yang cukup sempit menuju jalan besar. Bizard terlihat menghela nafas, sambil menyetir dia sedikit melirik ke arah Bianca.
"Oh iya, Bianca. Aku lihat kamu tadi melamun, kamu memikirkan apa?" tanya Bizard seraya menatap kaca spion, dia sedang memutar stir untuk belok ke arah kanan.
Ditanya seperti itu, Bianca sedikit gelagapan. "Ah, tidak, Tuan. Tadi saya hanya sedang mengingat-ingat sesuatu."
"Aku kira kamu ada masalah di tempat kerja."
"Tidak ada, Tuan. Saya tidak memiliki masalah apapun, lagi pula semua orang yang ada di kantor kan baik-baik," balas Bianca, dia melirik Bizard yang tampak fokus menyetir. Namun, tiba-tiba pria itu mengalihkan pandangan matanya pada Bianca, hingga kedua netra itu bertemu dalam satu garis lurus.
Mereka sama-sama terdiam sesaat, hingga Bizard memutus lebih dulu pandangan itu. "Ah, Bianca. Boleh aku minta tolong."
Bianca mengernyit.
"Minta tolong apa, Tuan?"
"Saya dan istri sepakat untuk menyewa jasa asisten rumah tangga, kebetulan di yayasan sedang kosong untuk Minggu ini. Kamu punya kenalan atau tetangga tidak yang sedang membutuhkan pekerjaan?" tanya Bizard, tanpa sadar membuat otak licik Bianca bekerja.
Sedari tadi dia memikirkan rencana, tetapi belum ada yang berhasil dia susun dengan baik. Dan sekarang, tiba-tiba Bizard memberinya celah. Diam-diam Bianca menarik sudut bibirnya ke atas, kemudian dia langsung berpura-pura antusias.
"Asisten rumah tangga, Tuan?"
"Iya," balas Bizard meyakinkan ucapannya.
Mendengar itu, sontak Bizard terperangah, dia mengangkat kedua alis dengan kelopak mata yang terbuka lebar. "Kamu? Terus nanti kerjaan di kantor gimana? Kan kemarin cleaning servis yang satunya baru keluar, nanti tidak ada yang menemani Sasa."
Bianca tersenyum manis, semakin membuat Bizard bertambah bingung.
"Saya akan ikut Tuan bekerja, jadi pagi sampai sore saya di kantor. Nanti selebihnya di rumah," jelas Bianca. Demi menjalankan misinya, dia akan berkorban tenaga. Semakin banyak waktu bersama Bizard, akan semakin mudah dia mendapatkan perhatian pria tampan itu.
"Kamu yakin, Bi? Ini pekerjaan butuh tenaga lho."
Bianca mengangkat tangan, kemudian menyentuh lengan Bizard yang sedang memegang stir. "Sangat yakin, Tuan. Lagi pula, di rumah kan hanya beres-beres seperti biasa. Saya melakukan ini semua juga karena ada alasan, Tuan."
"Alasan?"
"Iya, saya ingin menabung untuk masa depan saya. Semoga saja, setelah ini saya dapat kuliah, dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik."
Bizard merasa cukup kagum dengan kegigihan Bianca. Wanita itu tampak selalu tegar, meskipun di dunia ini dia tidak memiliki siapa-siapa. Mungkin Bizard harus belajar lebih banyak dari Bianca, supaya dia mensyukuri segala nikmat yang Tuhan berikan kepadanya. Termasuk nikmat keluarga.
"Kalau begitu, nanti kita bicarakan dengan istriku."
"Tuan, setuju?" tanya Bianca dengan mata yang berbinar senang. Ya, dia sangat senang karena ada harapan besar yang akan membuat dendamnya terbalaskan.
Bizard mengangguk.
"Kenapa tidak? Semoga pekerjaan ini menjadi jalan untuk membantu kesuksesanmu."
Mendengar itu, senyum di bibir Bianca bertambah semakin lebar.
***
Siapa bilang laki-laki kayak Bee cuma ada di dunia halu? Haha, orang ngothor ambil dari kisah nyata kok ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
Terkadang kita menganggap seseorang begitu bodoh dengan kesabarannya. Tetapi pada kenyataannya, kita yang tidak bisa mengukur tingkat kesabaran seseorang. Betul opo betul?
Salam Anu 👑
Makin ndlosor makin enak 🥱