
Setelah acara sakral itu selesai, Bizard mengajak Bianca untuk pulang ke rumah. Di dalam perjalanan, tiba-tiba Bizard mendapat telepon dari ibunya. Tanpa menunggu lama, Bizard langsung menerima panggilan tersebut, hingga terdengar suara Zoya dari balik benda pipih itu.
"Halo, Bee. Sayang, kamu di mana sekarang? Apa kamu dan Joana baik-baik saja?" tanya Zoya dengan nada yang terdengar cemas.
Mendengar itu, Bizard sedikit mengerutkan keningnya. Ikut merasakan kekhawatiran Zoya. "Aku habis mengantar Joana ke Bandara, dan kami baik-baik saja, Mom. Memangnya ada apa?"
Terdengar helaan nafas panjang, karena Zoya merasa sedikit lega. Bahkan dia mengucap syukur saat mengetahui putranya tidak apa-apa.
"Tidak ada, Sayang. Mungkin hanya perasaan Mommy saja, Mommy terus memikirkan kalian, tapi ternyata kalian tidak apa-apa," jawab Zoya apa adanya. Sementara jantung Bizard tiba-tiba berdegup kencang. Jangan-jangan apa yang dirasakan oleh Zoya, ada kaitanya dengan pernikahan antara ia dan Bianca.
Bizard meneguk ludahnya, kemudian dia berusaha untuk mengusir pikiran buruk itu.
"Benar, mungkin perasaan Mommy saja, atau mungkin karena Mommy sedang stres, jadi terbawa suasana."
"Mungkin, Sayang. Kalau begitu Mommy tutup yah, adikmu mulai rewel."
"Oke, Mom. Sampaikan salamku untuk Daddy dan semua orang."
Zoya mengangguk, seolah Bizard dapat melihat gerakannya di ujung sana. Sementara dalam gendongan Ken, Fierce sudah mulai menangis, ingin segera digendong oleh Zoya.
"Siapa, Sayang?" tanya Bianca, setelah Bizard menyimpan kembali ponselnya di saku jas. Kini wanita itu sudah berpakaian seperti biasa, sebab Bianca hanya memakai gaun yang dibelikan oleh Bizard saat pernikahan mereka saja.
"Ibuku, Sayang," jawab Bizard sambil tersenyum. "suatu saat aku pasti akan mengenalkanmu padanya."
Mendengar jawaban Bizard tiba-tiba Bianca menunduk, dengan sorot mata yang dibuat sendu. "Apa ibumu akan menerimaku?"
Bizard menghela nafas, sebenarnya dia pun tidak tahu bagaimana tanggapan keluarganya tentang pernikahan kedua antara ia dan Bianca. Namun, karena tak ingin membuat sang istri merasa sedih, Bizard pun mencoba meyakinkan Bianca.
"Ibuku baik, Sayang. Kelak dia pasti akan menerima kamu. Yang penting sekarang, kamu selalu berada di sampingku."
Bianca mengangguk, paham dengan posisi Bizard. Lagi pula dia tidak peduli, mau dikenalkan atau tidak, tidak akan ada untung baginya. Tujuannya hanya satu, yaitu menghancurkan Joana.
Bahkan sampai masuk ke dalam rumah, Bizard tak menanggalkan sedikitpun lengkungan di bibirnya. Pria itu menatap Bianca dengan tatapan yang berbeda, dan wanita itu sudah tahu apa yang diinginkan Bizard sekarang.
"Honey, bisakah aku memintanya sekarang?" tanya Bizard, dia sudah mengunci pintu, dan sekarang dia tengah memeluk Bianca dari belakang, tak mengizinkan wanita itu masuk ke dalam kamar, sebelum Bianca memberikan apa yang dia inginkan.
Bianca pura-pura menolak, dia mencoba melepaskan tangan kekar Bizard, tetapi tenaganya kalah jauh. Dia malah semakin tidak bisa bergerak.
"Sayang, ini masih siang," ujar Bianca dengan menggigit bibir.
Dia melakukan itu semua sebab dia masih merasa gugup untuk menyerahkan semuanya pada Bizard. Ini adalah pengalaman pertamanya, saat Bizard telah mengambilnya, maka semua itu tidak akan bisa kembali seperti semula.
Bizard tampak tak peduli dengan ucapan istrinya. Dia menciumi tengkuk Bianca dan menggapai dua buah aset berharga milik wanita itu. Dia sudah tidak sabar ingin meneguk tubuh Bianca dan terbang ke nirwana.
Bianca menggeliat, sepertinya dia sudah tidak bisa kabur dari kungkungan Bizard. Sebab pria itu mulai menguasai tubuhnya. Tangan Bizard sudah menyusup ke dalam kaos yang Bianca kenakan, sementara sentuhan lembut penuh sesapan terus Bianca rasakan.
"Sayang, bisa kah kamu memberikan aku waktu untuk bersiap-siap?" tanya Bianca, dengan suara yang dipenuhi gairah. Karena Bizard terus bermain-main di salah satu titik sensitifnya.
Bizard menghentikan aksinya, kemudian membalik tubuh Bianca hingga mereka saling berhadapan dan saling tatap. Dia mencengkram dagu Bianca, mengikis jarak dan mencium bibir itu dengan buas. Dia sudah seperti seseorang yang kehausan, hingga tak sedikitpun melepaskan Bianca dari kuasanya.
"Aku akan memberimu waktu 10 menit, Honey, setelah itu jangan harap ada kompensasi lagi," ucap Bizard setelah ciuman itu terlepas.
Nafas pria tampan itu memburu, sementara Bianca tersenyum menggoda. Dia mengusap bibir Bizard menggunakan ibu jarinya kemudian berjinjit untuk berbisik di telinga pria tampan itu.
"Bahkan aku hanya butuh 5 menit dari sekarang. Tunggu aku di kamar. Aku akan memberikan apa yang kamu inginkan."
***
Yok siap-siap yok, lu pada jangan lupa siapin kembangnya, buat mandi mereka bedua 🙄