Hasrat Penggoda

Hasrat Penggoda
Bab 56. Hadiah Untuk Istri


Seharian ini Bianca hanya beristirahat di kamar yang ada di ruangan Bizard. Tempat yang biasa digunakan pria tampan itu saat menginap di kantor. Dia memang kerap mendapatkan banyak pekerjaan, sebab beberapa orang mempercayakan dia sebagai pengacara andalan.


Namun, walaupun seperti itu. Bizard tidak pernah membela orang-orang yang bersalah, dia selalu mengatasnamakan keadilan. Jadi, dia tidak pandang bulu siapa yang menjadi klien-nya.


Dia memang dikenal sebagai pengacara yang bersih. Meskipun beberapa klien-nya kerap mengimingi-imingi imbalan yang begitu besar. Bizard tidak terpengaruh sedikitpun. Uang bukanlah tujuannya, sebab ia sudah bergelimang harta sejak ada di kandungan ibunya, pekerjaan yang dia geluti hanyalah sesuatu yang membuatnya senang. Yaitu membantu orang-orang.


Sore hari saat semua orang berbondong-bondong meninggalkan perusahaan. Bizard masuk ke dalam kamar di mana Bianca berada. Dia tersenyum manis saat melihat wajah cantik istrinya tengah tertidur pulas.


Bizard duduk di sisi ranjang. Mengangkat tangan untuk mengelus pipi Bianca dengan penuh kelembutan.


"Sayang, sudah waktunya pulang. Ayo bangun!" ucap Bizard setengah berbisik, tak ingin membuat Bianca terkejut dengan sentuhannya. Namun, karena terlalu nyenyak, Bianca tak menggubris apapun yang dilakukan oleh suaminya.


Bizard terdiam, sementara pikirannya melalang buana. Dia teringat pertemuan pertamanya dengan Bianca, pertemuan yang membuat mereka akhirnya saling terikat satu sama lain. Bizard tidak pernah menyangka, jika takdir akan membawanya sampai ke tahap ini. Yaitu memiliki dua orang istri dalam satu waktu.


Dia yang selalu merasa kekurangan, akhirnya tergoda oleh pesona Bianca, yang selalu membuatnya berhasrat. Dan itu semua tidak bisa dipungkirinya, kini di mata Bizard hanya ada Bianca. Hatinya mulai tak imbang, tetapi sungguh dia tak menyadarinya.


Perlahan tapi pasti, nama Joana kian terkikis, karena yang selalu ada untuknya hanya wanita satu ini. Hingga pria itu berpikir untuk memiliki anak dengan Bianca. Ya, sebenarnya ia ingin cepat-cepat menyandang status ayah, sama seperti kedua saudara lelakinya.


"Aku ingin bayi yang lucu darimu, Bi," ucap Bizard sambil terus menatap lekat wajah Bianca. Hingga lama semakin lama, ada dorongan yang membuat dia ingin mencium bibir wanita itu.


Akhirnya Bizard mengikis jarak untuk menyatukan kembali bibir mereka. Dia bergerak dengan lembut, seolah bibir Bianca adalah sesuatu yang mudah pecah. Dan sentuhan basah itu membuat Bianca tidak bisa untuk tidak membuka matanya.


Dia terhenyak, tetapi detik selanjutnya dia malah mengalungkan tangan di sepanjang leher Bizard. Membalas ciuman pria itu hingga Bizard benar-benar merasa puas. Dia akan selalu memanjakan suaminya, agar Bizard tidak bisa berpaling lagi pada Joana.


"Honey, sudah waktunya pulang. Kita lanjutkan di rumah saja, bagaimana?" Kata Bizard setelah ciuman mereka terlepas.


"Astaga benarkah? Berarti aku tidur sampai lupa waktu."


"Tidak apa-apa, aku tahu kamu lelah."


Mendengar itu, Bianca mencubit dada suaminya. "Iya, dan kamu yang membuat aku seperti ini."


Bizard terkekeh kecil sambil menarik hidung Bianca gemas. "Pulang dari sini aku akan memberimu hadiah."


"Hadiah, untuk apa?"


"Untuk mengapresiasi kerja kerasmu," jawab Bizard ambigu. Bianca mengerutkan keningnya, menatap dua bola mata Bizard yang tiba-tiba mengedip nakal.


Bianca hendak bicara, tetapi Bizard lebih dulu mengangkat tubuhnya dan keluar dari kamar itu. Bianca yang sudah merasa lebih baik segera meminta turun. Takut ada seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruangan suaminya.


Namun, saat Bianca memperhatikan dengan seksama. Dia tersadar, bahwa jalanan yang mereka lewati bukan jalan menuju rumah. Bizard mengambil jalan lain, yang tidak pernah mereka lewati bersama. Dahi Bianca mengernyit, dipenuhi tanda tanya, tetapi dia tak dapat menemukan jawaban apapun, sehingga dia memutuskan untuk bertanya pada Bizard.


"Sayang, kita mau ke mana?" tanya Bianca.


Mendengar itu, Bizard menoleh sekilas ke arah Bianca, satu tangannya terulur untuk mengelus puncak kepala wanita itu. "Aku sudah bilang, Honey. Aku ada hadiah untukmu. Sebentar lagi kita sampai."


"Kamu membuatku penasaran, Bee."


Bizard terkekeh.


"Berarti kamu harus menyukainya."


Bianca menangkap tangan Bizard, dia mencondongkan badan dan memeluk lengan pria itu. "Tentu saja, Sayang. Apapun yang kamu berikan padaku, aku pasti suka."


Pancaran kebahagiaan di mata mereka semakin terlihat membuncah. Apalagi saat Bizard sudah sukses memarkirkan mobilnya dan mengajak Bianca untuk naik ke atas gedung apartemen mewah. 


Bianca begitu terperangah saat Bizard menariknya masuk ke dalam unit apartemen. Mulut wanita itu menganga, karena saking terkejutnya dengan hadiah yang disiapkan oleh Bizard. Sumpah demi apapun, dia tidak sedang berpura-pura bahagia.


"Sayang, ini? Kamu tidak salah?"


"No, this is for you."


"Tapi ini, ini terlalu mewah, Sayang. Kamu hanya akan buang-buang uang."


Mendengar itu, Bizard langsung menutup mulut Bianca dengan jari telunjuknya. "Sttt ..." menarik wanita itu agar semakin dekat dengannya. Mereka saling tatap, hingga dengan jelas Bianca melihat pancaran ketulusan dari pria yang ada di hadapannya. Dan hanya Bizard yang sanggup menatapnya seperti itu.


"Uang bisa dicari, Sayang. Tapi tidak untuk kebahagiaan. Dan aku bahagia saat bisa menyenangkan dirimu."


Cup!


Sebuah kecupan yang akan memulai semuanya.


***


Dari jaman bapak lu, gue kagak pernah dikasih hadiah🙄