Hasrat Penggoda

Hasrat Penggoda
Bab 59. Penolakan


Cahaya matahari mulai membias di antara celah kamar yang ditempati oleh Bizard dan Bianca. Bahkan karenanya Bianca terbangun lebih dulu, dia menatap ke samping di mana suaminya berada. Mereka sama-sama tak memakai apapun setelah melewatkan malam panas.


Kini wanita cantik itu sudah terbiasa dengan sentuhan lembut Bizard. Sentuhan yang membuat dia mabuk dan melayang ke atas nirwana tertinggi.


Bianca mengulum senyum tipis sambil memuja paras tampan suaminya. Tidak semudah itu memang untuk menolak pesona Bizard, sebab dengan sendirinya Bianca mengulurkan tangan untuk membelai rahang yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu.


Tanpa Bianca sadari hatinya kian khianat, karena dia membiarkan Bizard masuk dalam gejolak asmara yang tak sengaja dia ciptakan. Yang jelas, dia ingat betul bagaimana Bizard menggagahinya dengan sorot mata penuh cinta. 


Tak hanya Bizard yang merasa puas, sebab Bianca pun merasakan hal yang sama, kerongkongan hasratnya seolah terisi penuh oleh buncahan gairah yang Bizard keluarkan. Perhatian, kasih sayang, sungguh dia tidak ingin munafik, dia senang saat Bizard memberikan itu semua untuknya.


Bianca mengusakkan hidungnya di dada Bizard, menghirup dalam aroma tubuh prianya yang begitu candu. Dia terkekeh sendiri dengan aksinya hingga membuat Bizard tiba-tiba menggerakkan anggota tubuhnya, dan kini ia berhasil menindih tubuh Bianca.


"Sayang?" panggil Bianca merasa terkejut.


"Sepertinya kamu senang sekali bermain-main di atas tubuhku."


Bizard semakin menekan bagian bawah tubuhnya hingga membuat Bianca reflek menahan nafas.


"Memangnya aku salah? Pria perkasa sepertimu dilarang untuk dianggurkan, bukankah begitu?"


Mendengar itu, bibir Bizard langsung tersenyum lebar. Bianca memang selalu bisa menggodanya, merasa gemas ia pun menggigit daun telinga Bianca. "Aku akan membuatmu tidak bisa berjalan seperti kemarin!" 


Tangan Bizard sudah merayap dan menyentuh satu dada Bianca. Akan tetapi dengan cepat Bianca menahan aksi suaminya. "Kita harus bekerja!"


"Tidak, aku memutuskan agar kamu tidak lagi bekerja di kantor. Karena itu semua melelahkan, kamu sudah bekerja di rumah, melayaniku dan sebagainya. Aku tidak ingin menyiksa istriku sendiri," ujar Bizard dengan mimik wajah sungguh-sungguh.


"Itu semua agar aku bisa dekat denganmu, Sayang."


"Tidak, Honey. Kali ini dengarkan aku, cukup aku saja yang membuatmu lelah di atas ranjang, yang lain tidak perlu."


Mendengar itu, Bianca langsung mencubit dada Bizard dengan gemas, hingga membuat pria itu mengaduh. "Jadi itu alasan sebenarnya? Kamu ingin membuatku lelah karena permainan ularmu itu?"


Bizard terkekeh.


"Kurang lebih seperti itu, Sayang. Aku akan memberi alasan pada Joana, kalau ada pengurangan karyawan di kantor."


Bianca tidak menjawab, dia malah menggigit bibir dan semakin menggerakkan tubuhnya ke bawah. Tangan Bizard terlepas dari dada Bianca, sementara wanita itu sudah mengerti apa yang harus dilakukannya. Bizard yang reflek mengangkat tubuhnya langsung menggeram nikmat.


"Aku suka kelicikanmu, Sayang."


"Ught, Bian. Kamu selalu membuatku ingin meledak!" ucap Bizard dengan terengah sambil memperhatikan Bianca yang tengah memainkan aset berharganya. Wanita itu terlihat cukup lihai, hingga membuat darah Bizard berdesir tak normal. Sesuatu yang selalu tak dapat diberikan oleh Joana, kini sudah dikuasai sepenuhnya oleh Bianca.


Hingga pagi itu, Bizard meledak berkali-kali akibat ulah istri keduanya.


***


Bahkan malam ini dia bertekad untuk memberikan pelayanan pada Bizard, agar pria itu merasa senang.


Sesampainya di rumah, Joana langsung disambut oleh Bianca. Karena dia pun tahu, bahwa wanita itu tidak bekerja lagi di perusahaan suaminya.


"Turunkan barang-barangku di bagasi!" cetus Joana sambil melipat tangan di depan dada, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, seharusnya Bizard sudah dalam perjalanan pulang.


Namun, sampai pukul 9 malam. Batang hidung pria itu tak terlihat juga. Bizard lembur, dan dia malah menghubungi Bianca, karena tidak tahu jika istri pertamanya sudah berada di rumah.


Joana mendesaah pelan, karena merasa rencananya akan gagal. Akan tetapi suara deru mobil di luar sana, membuat senyum di bibir Joana kembali terbit, karena dia yakin seratus persen itu adalah mobil suaminya.


"Itu pasti Bizard, aku harus menyambutnya dengan wajah yang ceria, agar dia merasa senang." Joana kembali merapihkan rambutnya, kemudian mematut diri di depan kaca, tubuh seksinya yang berbalut lingerie terlihat begitu indah dan sempurna.


Hingga tak berapa lama kemudian pintu sukses terbuka. Kedua pasang mata itu langsung bertemu, Bizard terlihat sedikit terkejut dengan kepulangan Joana, ternyata benar apa yang dikatakan Bianca. Istri pertamanya sudah ada di rumah.


Tanpa ba bi bu, Joana langsung menghampiri Bizard, dan memeluk erat lengan pria tampan itu. "Sayang, kamu sudah pulang? Kamu pasti terkejut ya aku sudah ada di rumah?"


Bizard tersadar, dia segera melemparkan tas kerjanya ke ranjang dan mengendurkan dasi. "Iya, kenapa tidak bilang?"


"Sengaja aku ingin membuat kejutan untukmu. Bagaimana? Kamu terkejut tidak?"


Bizard tak menjawab dia malah melepaskan tangan Joana dari lengannya karena dia sudah merasa sangat gerah. "Aku mandi dulu, Jo."


Mendapati perlakuan seperti itu, Joana langsung memasang wajah masam. "Bee, kenapa tidak menciumku dulu? Aku juga sengaja lho dandan begini buat nyenengin kamu. Sikap kamu kok malah begitu?"


Bizard menghela nafas kasar, dia yang sudah melangkah ke arah kamar mandi, kini kembali ke hadapan Joana untuk sekedar mengecup puncak kepala wanita itu. "Aku baru saja pulang kerja, aku lelah karena seharian ini mengurus banyak kasus. Habis ini aku juga harus lembur lagi, jadi kalau kamu mau tidur duluan, tidurlah."


"Bee, tidak bisakah kita melakukannya sebentar? Aku rindu."


"Kita bisa melakukannya lain kali."


Deg! 


Beginikah rasanya mendapat penolakan?


***


Dikomen dong dikomen, goyangin itu jempol nya😩😩😩