Hasrat Penggoda

Hasrat Penggoda
2B (3)


Suara derit ranjang mendominasi kamar yang biasa ditempati oleh Bianca. Sebab hentakan tubuh Bizard, menghasilkan guncangan yang cukup hebat. Entah sebesar apa hasrat yang sudah ditahan oleh pria tampan itu, sehingga kini Bianca merasakan tubuhnya dihujam begitu dalam.


Wanita itu menganga dengan kedua tangan yang memegang lengan Bizard. Sementara peluh pria itu sudah menetes memenuhi dada sintal Bianca. Sebab tubuhnya terasa begitu panas akibat penyatuan mereka berdua.


Sedari tadi Bizard menahan diri untuk tidak terlalu terburu-buru. Sebab ia takut akan melukai calon anaknya yang ada di dalam rahim Bianca.


Satu tangan Bizard terangkat, kemudian mengusap dahi Bianca dengan pelan. Jemarinya yang hangat menelusuri pahatan wajah wanita yang dicintainya, meyakinkan diri bahwa semua ini memang nyata.


"Honey, apakah aku menyakitimu?" tanya Bizard, melihat Bianca yang meringis diiringi lenguhan manja.


Mendengar itu, Bianca mencoba untuk membuka matanya. Hingga kedua mata mereka bersitatap, dalam jarak yang begitu dekat. Kedua tangan Bianca beralih untuk menangkup kedua sisi wajah Bizard.


Dia menggeleng kecil. Tidak ada kesakitan apapun, sebab dia malah merasa senang karena Bizard memahami dirinya yang sedang hamil besar. "Tidak, Bee."


Bizard tersenyum tipis, sementara pinggulnya tak berhenti bergerak. Menghasilkan ranjang yang terus bergoyang. Dia mengusap bibir Bianca dengan lembut, kemudian memasukkan ibu jarinya ke dalam mulut wanita itu.


Bianca tak bisa menolak, dia melakukan apapun yang diinginkan Bizard. Selagi pria itu tidak menyakiti anak-anaknya. Dia mengulumm ibu jari Bizard, hingga membuat pria itu semakin bersemangat untuk menggagahinya.


Atmosfer dalam ruangan itu bertambah semakin panas ketika pelepasan hampir saja menghampiri keduanya. Dengan naluri Bianca menarik kepala Bizard, hingga pria itu kembali berlabuh di dadanya.


Nafas Bizard memburu, sementara mulutnya tak berhenti menyesap buah dada Bianca yang bertambah semakin besar. Dia menekan pinggulnya, saat sengatan itu tiba. Tak berbeda dengan Bianca yang kini memeluk lehernya dengan sangat erat.


Dalam satu waktu, keduanya mendapatkan pelepasan secara serentak.


"Eugh, Bee," lirih Bianca, sekujur tubuhnya terasa lemas. Hingga perlahan-lahan, dia melepaskan pelukannya.


Kepala Bizard berada di antara ceruk leher Bianca. Sebelum dia menarik diri, dia lebih dulu menciumi leher jenjang itu, hingga Bianca sedikit melenguh.


Detik selanjutnya Bizard berguling ke samping. Membuat ranjang itu terasa semakin sempit. Dengan terpaksa Bizard memiringkan tubuhnya, agar Bianca bisa bergerak lebih leluasa.


Cup!


Bizard mengecup kening sempit Bianca setelah mengusap peluh wanita itu. Bianca berkedip dengan dada yang naik turun, dia menyilangkan kakinya, karena dia masih merasa begitu canggung menampakkan seluruh tubuhnya di hadapan Bizard.


"Aku ambil minum sebentar yah," ucap Bizard, dia melirik ke arah meja, di sana sudah ada teko berisi air putih dan juga gelas. Bizard dapat memahami situasi rumah ini dengan cepat, sebab tidak ada banyak ruangan di dalamnya.


Dengan tubuh yang masih telanjang, Bizard menuangkan air untuk Bianca. Lalu membantu wanita itu untuk minum. Satu gelas telah tandas, tetapi Bizard kembali memberinya satu gelas lagi.


"Untuk anak kita," ucap Bizard sebelum Bianca bertanya. Wanita itu tersenyum tipis dengan pipi yang sedikit merona, dengan gerakan malu-malu Bianca pun menandaskan kembali satu gelas yang diberikan oleh suaminya.


Setelah itu, Bizard langsung kembali ke kamar mandi untuk memakai pakaiannya. Kalau tidak, yang ada dia akan meminta ronde kedua, ketiga dan seterusnya.


Dia kembali ke arah ranjang dengan membawa pakaian baru untuk Bianca. Sebab dia tidak ingin wanita hamil itu kedinginan. "Aku pakaikan yah."


"No! Selama ini kamu berjuang sendirian, biar aku menebusnya."


"Aku tidak apa-apa, Bee."


"Jangan membantah. Aku tidak suka!" ucap Bizard, mengeluarkan jurusnya agar Bianca terdiam. Berhasil, wanita itu akhirnya patuh. Dia membiarkan Bizard melakukan apapun pada tubuhnya, malam ini dia bak seorang ratu yang tengah dimanja oleh rajanya.


Setelah mereka sama-sama berpakaian lengkap. Bizard kembali merebahkan tubuhnya di samping Bianca, lalu meluruskan tangan, agar wanita itu memakai lengannya sebagai bantalan.


"Sini." Bizard menepuk-nepuk.


Bianca tidak bisa untuk tidak tersenyum, dia pun langsung mengangkat kepala dan meletakkan kepalanya di lengan pria itu. Sebuah usapan lembut Bianca rasakan, saat Bizard menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.


"Terima kasih karena sudah menjadi kuat. Andai kamu menyerah, mungkin aku tidak bisa melihatmu lagi," ucap Bizard sambil menatap kedua netra jernih milik Bianca.


"Aku mencintai anak-anakku, Bee. Aku akan berjuang untuk mereka," balas Bianca dengan wajah sungguh-sungguh. Karena baginya, anak adalah sebuah harta yang paling berharga. Tidak ternilai dan tidak memiliki nominal.


Mendengar itu, Bizard mengerutkan kedua alisnya, terpancing dengan ungkapan Bianca. "Anak-anak, maksudmu?"


Bianca mengulum senyum. Dia lupa, kalau Bizard belum tahu kalau anak mereka kembar tiga. Dia pun meraih tangan besar Bizard, kemudian meletakkannya di permukaan perut. "Di sini ada anak-anak kita. Tidak hanya seorang, tapi tiga. Apakah kamu merasakannya?"


Kelopak mata Bizard langsung membesar. Apa katanya? Anak mereka ada tiga? Dia tidak salah dengar 'kan? Bizard langsung menelan ludahnya, dia tampak terharu apalagi saat tangannya merasakan sebuah tendangan.


"Honey, mereka benar-benar ada tiga? Kamu tidak bohong?"


Bianca menggelengkan kepala.


"Mama tidak bohong, Papa. Kami memang tiga bersaudara," ucap Bianca, menirukan suara anak kecil. Membuat Bizard langsung meluruhkan air mata bahagianya.


Tanpa ba bi bu dia mengecup kening Bianca, kemudian memeluknya erat. "Terima kasih, Bi. Terima kasih. Aku tidak bisa berkata-kata lagi, intinya aku sangat bersyukur bisa menemukan kalian."


"Iya, Bee. Aku juga sangat bersyukur bisa bertemu denganmu lagi. Karenamu, anak-anakku memiliki seorang ayah."


"Hei, aku memang ayahnya. Mereka adalah anak kita. Besok, kita pulang! Aku akan memperkenalkanmu pada seluruh keluargaku."


Bianca terisak-isak. Sangat tidak menyangka, bahwa dirinya akan kembali memiliki sebuah keluarga yang utuh. Bersama anak serta pria yang dicintainya.


***


Rekomendasi karya temen gue nih, yang butuh referensi bacaan mampir ya 🤗🤗