
Bizard terkekeh kecil, melihat Bianca yang terus mengerucutkan bibirnya. Bagaimana tidak? Saat mereka hampir saja selesai berbelanja, Bizard malah menyuruh Bianca membeli yang lain. Dan kalian pasti bisa menebak apa yang diinginkan pria tampan itu.
"Yang merah bagus," ucap Bizard, menggoda Bianca yang sudah menunjukkan wajah semerah lingerie yang ada di tangannya. Wanita itu melengos dan berjalan lebih dulu, meninggalkan Bizard di belakangnya.
"Belum apa-apa sudah beli sebanyak ini," gerutu Bianca, merinding sendiri membayangkan Bizard bermain di atas tubuhnya. Mencabik-cabik habis lingerie tipis itu tanpa membuang tenaga sedikitpun.
Bizard tak mengejar Bianca, dia hanya berjalan santai sambil memasukkan kedua tangan di saku celana. Dia akan mengikuti ke manapun Bianca melangkah. Hingga akhirnya wanita cantik itu memilih untuk keluar dari pusat perbelanjaan, dia ingin pulang.
Bianca dan Bizard tidak tahu, jika ada sepasang mata yang baru saja menangkap bayangan mereka. Dari balik jendela kaca, seorang wanita terus memperhatikan keduanya, hingga bayangan tubuh Bizard dan Bianca benar-benar menghilang dari pandangannya.
"Jo, tadi kayaknya aku lihat suamimu deh," ucap Miranda, teman sosialita Joana yang tak sengaja melihat Bizard dan Bianca keluar dari gedung pusat perbelanjaan.
Mendengar itu, sontak saja Joana langsung mengangkat kepalanya. "Maksudmu Bizard?"
"Iyalah, siapa lagi? Tapi tadi dia sama perempuan."
Sebagai teman, Miranda tidak akan mungkin menutupi apa yang dia lihat. Apalagi jika menyangkut masa depan rumah tangga Joana. Namun, bukannya marah atau curiga, Joana malah tersenyum, membuat teman-temannya yang lain mengerutkan dahi masing-masing.
"Dia mengantar pembantuku untuk belanja bulanan. Kalian tahu sendiri, Bizard tidak bisa melihat orang kesusahan. Pasti yang kamu lihat itu pembantuku, pakaiannya juga biasa 'kan?" jelas Joana, tak ingin memusingkan hal-hal sepele seperti itu.
"Tapi, Jo, hati-hati lho, walaupun hanya pembantu bisa saja dia menggoda Bizard," timpal temannya yang lain.
"Iya, kan kadang-kadang ada tuh pembantu yang keganjenan."
"Tenang saja, Bizard bukan tipe pria yang seperti itu. Dia mencintaiku, dan aku percaya padanya," ujar Joana tanpa ragu. Dia yakin, Bizard tidak akan pernah bisa berpaling darinya.
Semua teman-temannya hanya diam. Mereka tak lagi menimpali ucapan Joana, mereka hanya berharap semua yang dikatakan Joana adalah benar, bahwa Bizard tidak akan pernah mengkhianati pernikahan ia dan Joana.
Di sisi lain, Bianca dan Bizard sudah sampai di mobil. Sebelum Bizard melajukan kendaraan roda empat itu, tiba-tiba Bianca memegang lengan tangannya.
"Sayang, ada yang ingin aku bicarakan."
Bizard menoleh, menatap Bianca yang menunjukkan wajah serius. "Bicara tentang apa?"
"Nyalakan saja dulu mobilnya."
Bizard menggeleng. Dia malah menepuk pahanya agar Bianca duduk di sana. "Ke mari, aku akan mendengarkanmu." Bizard menggapai tangan Bianca dan segera menariknya, agar wanita itu lekas duduk di pangkuannya.
"Apa yang ingin kamu katakan, Sayang?" tanya Bizard dengan lembut, satu tangannya membenahi rambut Bianca yang terurai di depan dada, diselipkannya di belakang telinga.
Bianca menghela nafas panjang.
"Aku hanya ingin jujur padamu, Bee. Aku minta maaf karena pernah berbohong, sebenarnya aku tidak pernah bekerja di cafe," ucap Bianca, memulai obrolan di antara mereka.
Dia melakukan itu semua, sebab dia ingin melihat reaksi Bizard. Benarkah pria itu akan suka rela menerima masa lalunya? Bizard terdiam, karena dia ingin fokus mendengarkan.
"Sebelumnya aku bekerja di club malam, tapi aku berani bersumpah, selama itu aku hanya menemani mereka minum. Sampai akhirnya aku sadar, pekerjaan itu salah. Dan aku memutuskan untuk mencari pekerjaan yang lain, dan pada saat itulah aku bertemu denganmu."
"Lalu?"
"Aku tidak pernah mendapat ketulusan dari seorang pria, makanya aku jatuh cinta padamu. Kamu yang selalu berusaha untuk melindungiku dari berbagai ancaman di luar sana, membuat perasaanku mengalir begitu saja, aku memendamnya karena aku tahu kamu adalah pria beristri, Bee. Tapi setelah aku tahu bagaimana rumah tanggamu ...." Bianca mengelus pipi Bizard dengan penuh kasih sayang. "Aku tidak bisa menahannya lagi, aku berharap apa yang aku berikan, bisa membuatmu bahagia."
Bizard tak lekas membalas ucapan Bianca, dia hanya menikmati sentuhan lembut itu, kemudian tersenyum. "Apa yang membuatmu ingin jujur padaku?"
"Aku tidak tahu, tapi yang jelas aku tidak ingin kamu tahu dari orang lain mengenai aku. Dan aku ingin membuktikan, bahwa sekalipun pekerjaanku itu salah, aku masih bisa menjaga semuanya."
"Kamu menjaganya untukku?"
Bianca tersenyum.
"Anggap saja begitu."
Tangan Bizard terangkat, jari jemarinya mulai menjelajahi bibir Bianca. "Aku hargai kejujuranmu, dalam sebuah hubungan, apapun itu memang perlu dibicarakan. Terima kasih sudah membuat aku merasa lebih berharga. Aku mencintaimu, Bi. Ke depannya, tetaplah seperti ini."
Bianca menyatukan kening mereka, dia mengangguk sambil tersenyum. Dia merasa sangat senang, karena Bizard benar-benar sudah masuk dalam perangkapnya. Dia tinggal menunggu pria itu menikahinya. Dan pada saat itulah kehancuran Joana semakin nyata.
Maafkan aku melibatkanmu, Bee.
***
Iya dimaapin, tunggu aja lilitan uler welling 😌😌😌