Hasrat Penggoda

Hasrat Penggoda
Bab 55. Bianca Masih Sakit


Bizard mulai terbangun saat mencium aroma masakan yang menguar di dalam hidungnya. Dia mengerjap sambil meraba ke samping, dan Bianca benar-benar tidak ada di sana.


"Dia sudah bangun?" gumam Bizard dengan suara serak, dia menyingkap selimut, hingga menampilkan tubuhnya yang telanjang dari semalam.


Bizard meregangkan otot-otot tubuhnya dengan bergerak ke sana ke mari, kemudian melangkah ke arah sofa untuk memakai celananya yang sempat dia lepas.


Pria tampan itu keluar dan mencari keberadaan istri keduanya yang ternyata sedang sibuk di dalam dapur. Melihat Bianca yang hanya memakai kardigan tipis, membuat Bizard langsung tersenyum penuh makna. Dia melangkah pelan, nyaris tak menimbulkan suara.


Bianca sampai terhenyak saat kedua tangan tiba-tiba melingkar penuh di perutnya, dengan kepala yang mengusak di ceruk leher. "Sayang, kenapa tidak bangunkan aku?" tanya Bizard dengan manja. Tangan besarnya yang hangat tiba-tiba menjalar, semakin naik dan berlarian di atas pegunungan himalaya istrinya.


"Kamu terlihat nyenyak, Bee, aku tidak tega membangunkanmu. Jadi aku memutuskan untuk membuat sarapan."


Tangan Bianca masih sibuk dengan spatula dan wajan, karena dia sedang membuat nasi goreng. Sementara sang suami terlihat tak mau diam, sampai akhirnya Bizard mematikan kompor tanpa persetujuan Bianca.


Wanita itu membalikan badan, hingga dia bersitatap dengan sang suami. Pria itu menarik Bianca hingga ke sisi meja, kemudian menguncinya. "Aku mau mengambil sarapanku."


Bizard tersenyum menggoda, membuat Bianca tahu apa yang sebenarnya diinginkan pria tampan itu. Dia pun menangkup kedua sisi pipi suaminya, kemudian mengikis jarak untuk meraup bibir Bizard lebih dulu.


Sesuatu yang membuat Bizard selalu merasa bahagia saat di sisi Bianca, wanita itu selalu bisa menyenangkan dirinya. Tangan Bizard menarik tali kecil yang mengikat kardigan Bianca hingga terlepas, menyingkap kedua sisinya agar bahu putih itu dapat dia nikmati dengan leluasa.


"Kamu ingin sarapan yang mana? Yang ini atau yang itu?" tanya Bianca dengan nakal, Bizard menggigit bibir, merasa gemas dengan sikap Bianca yang sedikit liar.


Bizard semakin mendorong tubuh Bianca, membuka pengait yang menutupi dua buah kesukaannya. Tubuh Bianca yang polos ditatap dengan lekat, sementara jemarinya terangkat, dan mulai menelusuri tiap jengkal tanda kepemilikan yang dia buat di dada istrinya. Bianca mendesis dan tanpa diduga, Bianca menarik kepala Bizard hingga kini pria itu berhasil mendapatkan sarapannya.


"Selamat makan, Sayang," ucapnya yang membuat Bizard tersenyum senang.


***


Hari itu Bianca ikut ke perusahaan, padahal Bizard sudah melarangnya. Namun, wanita keras kepala itu terus merengek pada suaminya, dan alhasil kini Bianca menjadi objek dari pertanyaan Sasa.


"Bi, jalan kamu kok kayak gitu? Sebenarnya kamu sakit apa?" tanya Sasa, kemarin Bianca tidak masuk kerja dengan alasan sakit. Namun, dia tidak tahu sakit yang diderita wanita cantik itu.


Bianca mencoba untuk tidak gugup, atau Sasa akan curiga padanya.


"Kemarin aku jatuh di kamar mandi, Sa. Kaki aku keseleo."


"Ya ampun, kamu udah ke dokter? Atau ke tukang pijat? Jangan dibiarin, Bi. Bisa bahaya lho."


"Sudah, kemarin temanku datang dan aku diajak untuk periksa. Kata dokter nggak apa-apa, nanti beberapa hari juga sembuh," jawab Bianca, padahal dia berjalan seperti itu akibat serangan dari Bizard. Pagi-pagi sudah minta jatah.


Sasa ikut merasa prihatin, dia pun mengusap bahu Bianca dengan lembut sambil berkata. "Harusnya kamu tidak usah masuk kerja, izin lagi juga nggak apa-apa nanti aku bilangin sama Bos."


"Aku baik-baik aja kok, Sa."


"Nggak, jalan kamu kayak pinguin gitu, mana bisa baik-baik aja. Udah sekarang kamu istirahat aja, nanti biar tugas kamu aku bagi sama temen-temen."


"Tapi, Sa—"


Bianca ingin kembali membantah, tetapi Sasa lebih dulu bangkit dan meninggalkan ruangan yang biasa menjadi tempat para cleaning servis beristirahat.


Sasa memang dikenal sebagai sosok yang begitu baik, dan dia benar-benar membagi tugas Bianca pada teman-temannya, yaitu untuk membersihkan lantai dua. Dan dia mengambil bagian untuk membersihkan ruangan Bizard.


"Pagi, Tuan," sapa Sasa saat ia diizinkan masuk oleh Bizard.


"Pagi," balas Bizard, dia menatap Sasa, tetapi fokusnya bukan pada wajah wanita itu. Melainkan peralatan yang ada di tangan Sasa. "Kamu mau apa?"


"Saya akan menggantikan Bianca membersihkan ruangan anda, Tuan. Karena Bianca masih sakit."


Mendengar itu, Bizard langsung menautkan kedua alisnya. Seketika rasa cemas terhadap Bianca naik ke ubun-ubun, padahal dia sudah mengingatkan sang istri agar tidak masuk kerja.


"Kalau begitu panggil dia, suruh menghadap saya."


"Tapi saya bersihkan ruangan anda dulu ya, Tuan."


"Hem."


Tiba-tiba Bizard bersikap datar, tak seperti biasanya, hingga membuat Sasa merasa sedikit aneh. Namun, karena tak ingin berpikir terlalu jauh, dia pun segera mengerjakan tugasnya tanpa bicara.


Setelah selesai Sasa kembali ke ruangan di mana Bianca berada, kemudian menyuruh Bianca untuk pergi ke ruangan Bizard, sesuai perintah pria itu.


"Dia memanggilku? Untuk apa, Sa?"


"Aku juga tidak tahu, lebih baik kamu pastikan sendiri deh."


Bianca menghela nafas pasrah, kemudian melangkah pelan ke arah ruangan Bizard. Sementara otaknya terus bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan pria itu di saat jam kerja.


Tangan Bianca memutar kenop dengan sangat pelan, karena merasa gugup. Dan kegugupan itu semakin terasa nyata, saat ada tangan besar yang langsung menyambutnya ketika pintu terbuka.


Menarik dia untuk masuk, kemudian mengangkat tubuhnya tanpa aba-aba.


"Sayang," panggil Bianca dengan mimik wajah terkejut.


"Aku akan menghukummu kalau kamu tidak patuh."


"Sayang, tapi—"


Ucapan Bianca terhenti saat Bizard membuka satu pintu di ruangannya, kemudian membawanya masuk ke dalam sana. Bizard membaringkan Bianca di atas ranjang dengan sangat pelan, kemudian berbaring di sisinya.


"Kalau sakit bilang sakit, jangan memaksa!" ucap Bizard, kemudian mengecup kening Bianca, membuat wanita itu merasakan desiran aneh.


***


Sakit kan gegara lu, Bang🙄🙄