
Bianca dan Bizard sudah sepakat, lusa Bianca akan berhenti bekerja dan pindah ke apartemen. Demi kenyamanan kedua istrinya, Bizard pun menyanggupi hal tersebut, asal Bianca pun mengerti akan posisinya.
Lagi pula dengan begitu, Bizard merasa lebih aman, Joana tidak akan curiga terhadap hubungannya dengan Bianca, meskipun sebenarnya Bianca adalah istri sahnya juga.
"Besok kita bicara dengan Joana," ucap Bizard saat mereka berada dalam perjalanan pulang ke rumah. Waktu mereka sudah dihabiskan berada di dalam apartemen dengan bercinta dan berbagi cerita.
"Iya, terima kasih ya, Sayang, kamu selalu mengerti aku," balas Bianca sambil memeluk lengan Bizard dengan erat, dia seperti kucing kecil yang manja, hingga membuat Bizard sedikit mengulas senyum.
Bizard mengecup puncak kepala Bianca sekilas. "Sama-sama, Sayang." Kalimat itu melesat bersama dengan mobilnya yang membelah jalan raya sore itu.
***
Seperti janjinya Bizard berencana untuk mengatakan pengunduran diri Bianca sebagai asisten rumah tangga di rumah mereka. Setelah selesai sarapan, Bizard menahan Joana yang akan kembali ke kamar untuk mengambil tas kerjanya.
"Sayang, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Bizard. Joana yang sudah berdiri kembali duduk, karena mendengar ucapan suaminya.
"Bicara tentang apa?" balas Joana dengan kening yang dipenuhi tanda tanya.
Dalam hati Joana selalu merasa was-was tiap kali Bizard mengajaknya bicara empat mata. Takut jika sesuatu yang ia sembunyikan akhirnya terbongkar juga.
Bizard meletakkan kedua tangannya di meja, sementara tatapan pria itu senantiasa tertuju pada dua bola mata milik istrinya.
"Kemarin Bianca bilang padaku, bahwa dia ingin mengundurkan diri. Jadi sepertinya kita harus cari asisten rumah yang baru," ujar Bizard sambil melirik sekilas ke arah Bianca yang menundukkan pandangannya.
Joana terlihat sedikit tercengang. "Dia mau resign? Kenapa? Gaji yang kita kasih kurang? Atau ada alasan lain?" Tanyanya.
Bianca yang langsung menjawab, ingin segera meluruskan pemikiran wanita itu, agar Joana tidak berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya. "Maaf, Nyonya. Saya keluar memang atas kehendak saya sendiri. Tidak ada sangkut pautnya dengan gaji atau apapun."
"Aku kira kamu kesal karena aku suka marah-marah. Ya sudahlah mau bagaimana lagi? Nanti kita cari yang dari yayasan saja. Dan untuk kamu Bianca, sebelum resign, kamu ingatkan pesan saya semalam? Kamu harus bereskan dulu lemari saya," jelas Joana dengan dagu yang terangkat, menunjukkan kekuasaannya sebagai nyonya.
Bizard melirik ke arah Bianca, mencuri pandang pada wanita yang ternyata tengah meliriknya pula. Sudut bibir Bizard tertarik sedikit, dan hanya Bianca yang bisa melihatnya.
Setelah Bizard dan Joana pergi bekerja. Bianca langsung melakukan tugasnya, yaitu membereskan lemari wanita itu. Dia terus menggerutu karena sikap Joana yang sombongnya minta ampun.
"Cih, andai dia wanita miskin, apakah bisa dia sesombong itu?!" ketus Bianca sambil menurunkan semua pakaian yang ada di lemari itu, termasuk barang-barang yang ada di laci.
Padahal sebelumnya Joana sudah melarang Bianca untuk mengotak-atik berkas-berkas yang ada di laci itu, tetapi Bianca yang penasaran akhirnya memberanikan diri untuk menggeledahnya.
Awalnya Bianca merasa tidak ada yang aneh, tetapi begitu dia melihat sesuatu yang terjatuh tepat di kakinya.
Bianca langsung menyipitkan mata, kemudian mengambil benda tersebut. "Pil kontrasepsi? Dia juga mengonsumsinya?" Gumam Bianca, padahal setahunya Bizard sangat menginginkan anak, apakah Joana diam-diam meminum pil itu di belakang Bizard?
Bibir Bianca tiba-tiba menyeringai penuh. Andai itu benar, ini bisa menjadi senjata untuk membuat keributan di rumah tangga Bizard dan Joana.
"Hah, ternyata kamu licik ya, Joana? Kamu tidak ingin hamil anak suamimu sendiri? Benar-benar hebat!"
Bianca menggenggam pil tersebut dengan kemungkinan besar yang ada di kepalanya. Bizard pasti akan marah besar saat mengetahui Joana telah membohongi dirinya.
"Aku akan menyimpan bukti ini, dan ketika Bizard pulang, kamu akan habis Joana."
Bianca tergelak kencang, kemudian memasukkan benda itu ke dalam kantong bajunya. Sambil tertawa dia kembali membereskan barang-barang Joana yang ada di lemari itu, hingga dia kembali menemukan sesuatu yang tak asing di matanya.
Lembaran foto yang terselip di antara map itu terjatuh dan berceceran di lantai. Bianca menunduk, lalu memungutnya dengan pelan. "Hasil USG?"
***
Yang akur ya sayang-sayangku, ntar gue kecup basah atu-atu๐