
Bizard sampai memutuskan untuk mengguyur tubuhnya menggunakan air dingin, sebab sedari tadi hasratnya terus memuncak. Bayangan tubuh Bianca terus mengitari otaknya, kaki jenjang wanita itu, pahanya, lipatan di bawah pusar, sampai ke dada yang terlihat tumpah ruah.
Andai Bizard sudah benar-benar tak waras, pasti dia akan langsung menerkam tubuh Bianca saat itu juga. Mengingat tidak ada siapa-siapa di rumah, juga dia yang jarang diberikan sentuhan oleh Joana.
"Sialan! Cepatlah turun, aku tidak mungkin bersolo karir di saat-saat seperti ini," gerutu Bizard, dia menyugar rambutnya yang basah. Kemudian menatap pantulan tubuhnya di depan kaca. Dada bidang dengan perut kotak-kotak, sementara pusat tubuhnya tengah berdiri tegak.
Astaga! Sial sekali hidup Bizard, sebab sepertinya dia harus mengambil langkah. Atau dia akan sakit kepala karena terus-menerus menahannya.
Namun, saat ia melakukan itu semua. Bayangan tubuh Bianca malah lebih mendominasi, padahal dia berusaha untuk mengingat tubuh sang istri.
"Jangan gila, Bee. Ingat, dia hanya asisten rumah tanggamu. Istrimu itu Joana." Kepala Bizard menggelegak, beberapa kali dia menggigit bibir bawahnya, tak kuasa menahan rasa yang membangkitkan gairahnya.
Satu tangan Bizard berpegangan pada dinding, sementara tangan yang lain berusaha untuk mengeluarkan sesuatu yang menyiksa dirinya. Suara desaahan pria itu terdengar keras, hingga Bianca yang kala itu tengah menyiapkan pakaian Bizard, sedikit tercengang.
"Apa dia sedang melakukan sesuatu?" gumam Bianca sambil terus mendengarkan Bizard yang mengerang tak habis-habis, menyadari itu tiba-tiba wajah Bianca berubah sumringah.
"Aku berhasil, aku berhasil membuat dia bergairah. Ternyata benar apa yang dikatakan Bella, aku harus sering-sering memancingnya. Sedikit demi sedikit, dia pasti akan penasaran dengan tubuhku."
Bianca menutup wajah dengan pakaian yang ada di tangannya, karena dia terlalu senang. Namun, tepat tak berapa lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka lebar, menampilkan tubuh tegap seorang pria yang hanya memakai handuk untuk menutup bagian bawah tubuhnya.
"Bianca."
Deg!
Jantung Bianca seperti berhenti berdetak mendengar suara familiar itu. Dia bagai patung yang tak dapat bicara dan juga menggerakkan anggota tubuhnya. Bahkan sampai dia mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat, Bianca masih bertahan dalam posisinya.
Tak berbeda jauh dengan Bizard, dia tampak sangat terkejut karena mendapati seseorang yang beberapa detik lalu memenuhi otak kotornya. Kini berada dalam satu ruangan dengan dia.
Awalnya Bizard mendekati Bianca karena dia ingin mengajak wanita itu bicara, dia tidak ingin Bianca salah paham dengan apa yang dia dengar. Ya, sudah pasti Bianca mendengar semuanya.
Namun, saat Bizard menurunkan tangan Bianca, mata pria itu malah fokus pada wajah wanita cantik itu. Kini Bianca tengah menutup mata sambil menggigit kuat bibirnya, karena dia telah tertangkap basah.
"Bianca."
Mendengar namanya dipanggil, Bianca malah semakin cemas. Bahkan saking gemetarnya pakaian yang ada di tangan Bianca terlepas dan jatuh tepat di kakinya.
"Tuan, maaf—"
Mata Bianca terbuka lebar, saat benda kenyal nan basah itu menyentuh bibirnya. Dada Bianca berdebar kencang, dengan tubuh yang semakin bertambah gemetar.
Bizard menciumnya?
Bianca hanya diam saja, dia belum berani membalas, sebab perasaan aneh muncul begitu saja. Dia terus menatap Bizard yang memejamkan mata, sementara bibir pria itu terus bergerak, seolah menari-nari di atas bibirnya.
Katakan Bizard sudah gila. Dia sudah mati-matian menahan hasrat pada Bianca. Awalnya dia hanya ingin bicara dengan wanita itu, agar ia tidak terlalu malu sebab Bianca telah memergoki kelakuannya.
Namun, saat melihat benda ranum yang tergigit itu, Bizard malah tergoda untuk mencobanya. Naluri kelelakiannya kembali bangkit, dengan otak yang seolah tak dapat berfungsi.
Apalagi kedekatan mereka nampak tak memiliki celah. Dia selalu dihadapkan dengan perhatian Bianca, tak sedikitpun wanita itu mengabaikannya, berbeda dengan Joana yang lagi-lagi sibuk kerja.
"Bian ...." Suara Bizard terdengar sangat berat, Bianca sudah hafal betul, apa yang Bizard butuhkan saat ini, pria itu menginginkan dirinya.
"Ya, Tuan, apa yang bisa saya lakukan?" tanya Bianca, memberanikan diri menatap wajah Bizard. Hingga kedua pasang mata itu bertemu dalam satu garis lurus.
Mendengar itu, dada Bizard bergemuruh. Dia terus menatap lekat bola mata Bianca yang selalu dapat memikatnya. Dari sejak wanita itu mulai bekerja, Bianca sudah mencuri sedikit perhatiannya. Namun, karena dia selalu ingat dengan Joana, dia masih bisa menahan semuanya.
Dan sekarang kenapa dia seolah kalah? Kenapa dia tidak bisa menahan semua yang disuguhkan oleh Bianca. Apalagi kini mereka tinggal satu rumah, banyak waktu yang telah mereka habiskan berdua.
"Salahkah jika aku menginginkanmu?" Bizard balik bertanya, kini giliran Bianca yang menelan ludahnya susah payah. Padahal dalam hati dia bersorak penuh gembira, tetapi entah kenapa reaksi tubuh Bianca berlebihan seperti ini saat menghadapi Bizard.
Mereka saling bungkam sesaat, karena Bianca seperti orang bisu yang tak dapat bicara.
Hingga ...
Brum!
Suara deru mobil langsung membuyarkan tatapan keduanya. Mereka sangat yakin itu Joana. Bizard dan Bianca sama-sama terhenyak, Bizard yang takut ketahuan langsung menyuruh Bianca untuk keluar dengan menggerakkan kepalanya. Dan Bianca langsung patuh pada perintah Bizard.
"Sial, kenapa Joana malah datang?"
***
Biar sat set🙄🙄🙄