Hasrat Penggoda

Hasrat Penggoda
Bab 39. Menunjukkan Sifat Asli


Pagi harinya, Bianca beraktivitas seperti biasa, dia bangun terlebih dahulu sebelum kedua majikannya. Dia memasak untuk sarapan dan juga bekal makan siang.


Namun, alangkah terkejutnya saat dia merasakan dua tangan kekar tiba-tiba melingkar penuh di perutnya. Bianca berjengit dan hampir saja berteriak, tetapi begitu tahu siapa pelakunya dia tersenyum tipis.


"Kamu bangun sepagi ini, mau apa?" tanya Bianca dengan suara yang terdengar seperti sebuah bisikan. Kini dia lebih mengakrabkan diri ketika memanggil Bizard, dengan menyebut aku dan kamu.


"Aku ingin melihatmu memasak," jawab Bizard sambil melesakkan wajahnya di antara ceruk leher Bianca.


"Sayang, jangan seperti ini. Nanti ketahuan Nyonya." Bianca meletakkan centong sayur di sebelah kompor, kemudian mencoba melepaskan tangan Bizard.


"Dia sedang mandi, Bi. Lagi pula aku melakukannya hanya sebentar."


"Nanti tiba-tiba dia datang bagaimana?" Masih berusaha melepaskan tangan Bizard, tetapi pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Cium dulu. Baru mau lepas." Mode manja sudah mulai keluar, Bianca memutar tubuhnya. Mengajak Bizard berpindah tempat, dia melirik ke sana ke mari takut Joana datang memergoki aksi mereka.


Kini Bizard duduk di meja makan, sementara Bianca duduk di pangkuan pria itu. Bizard sama sekali tak melepaskan tangannya dari pinggang sang wanita, hingga membuat Bianca mengalah, dia mencium kening Bizard cukup lama.


"Sudah. Sekarang lepaskan aku, aku belum selesai memasak."


"Sekali lagi, Bi. Semalam aku tidak bisa tidur," rengeknya sambil mengusakkan wajah di dada Bianca. Wanita itu menggeliat, kemudian menahan kepala Bizard.


Dia kembali melandaskan kecupan di puncak kepala sang pria. "Kita bisa melakukan apapun di kantor, tidak di sini, Sayang."


Mendengar itu, Bizard mengulum senyum. Dia seperti lupa akan semua nasehat orang-orang terdekatnya. Sebab Bizard melakukan itu semua hanya karena dia merasa bahagia bersama Bianca.


Akhirnya pria itu melepaskan Bianca. Dia duduk dengan tenang sambil bermain ponsel, menunggu Joana selesai membersihkan tubuhnya. Hingga tak berapa lama kemudian, Joana sudah tampak rapih, dia keluar dari kamar dan mendapati sang suami yang duduk di meja makan di waktu sepagi ini.


"Sayang, mandi dulu sana!" ucap Joana seraya melangkah mendekati Bizard. "Aku sudah siapkan pakaian di atas ranjang."


"Ya, tapi aku sudah minta Bianca untuk menyiapkan pakaianku hari ini. Ini kan hari Sabtu, jadi semua karyawan harus memakai seragam yang sama."


Mendengar itu, Joana tampak bergeming, hingga akhirnya dia mengangguk, dia telah melupakan kebiasaan sang suami. "Maaf ya, Bee. Aku lupa, ya sudah nanti minta tolong pada Bianca untuk bereskan bajunya."


"Ya, nanti kalau dia sudah selesai memasak suruh saja masuk."


"Hari ini kamu buat sarapan apa, Bian?" tanya Joana berbasa-basi, tetapi meskipun begitu suaranya terdengar ketus.


"Saya buat sup ayam, Nyonya."


"Kalau begitu cepatlah sedikit. Kamu juga harus bersiap-siap ke kantor 'kan? Jangan buat suamiku terlambat hanya gara-gara menunggu kamu!" tegas Joana, mendengar itu Bianca ingin sekali meremas mulut Joana, tetapi sayangnya tidak bisa.


Hingga dia hanya mengangguk kecil sambil berkata. "Iya, Nyonya."


***


Bianca sudah selesai memasak, dan juga menghidangkan makanan di atas meja. Setelah itu dia pamit untuk membereskan kamar majikannya, dalam rentang waktu yang cukup lama setelah Bizard pamit, seharusnya pria itu sudah selesai berpakaian.


Namun, saat Bianca masuk, dia mendapati Bizard berdiri seperti menunggu sesuatu. Sementara tubuhnya hanya dibalut oleh handuk seutas pinggang.


"Kenapa belum pakai baju?" tanya Bianca, sejujurnya dia sangat gugup kalau melihat Bizard yang bertelanjang dada seperti itu. Apalagi mengingat semalam, tentang ciuman panas mereka. Dia jadi gagal fokus.


"Aku menunggu kamu."


Jawaban Bizard yang mampu membuat Bianca membulatkan kelopak matanya. "Jangan aneh-aneh deh."


"Kenapa? Kamu tidak mau? Kamu bilang ingin melakukan apapun untukku, aku hanya ingin diperhatikan itu saja."


Bianca menghela nafas, kenapa malah jadi dia yang ketar-ketir terhadap sikap Bizard. Apakah sifat asli Bizard memang seperti ini saat bersama wanita yang dicintainya?


"Iya-iya, tapi pakai dengan cepat," ujar Bianca mengalah.


Bizard mengangguk sambil tersenyum. Dia membiarkan Bianca melakukan tugasnya. Sementara dia hanya sibuk memandangi wajah cantik Bianca dari dekat. Tiba-tiba Bizard menunduk, kemudian mengecup kening Bianca.


"Terima kasih sudah hadir di hidupku."


***


Dan kau hadir, merubah segalanya, jeng jengπŸ™„πŸ™„πŸ™„