
Bianca memanaskan masakannya, sebab Bizard dan Joana akan malam bersama. Wanita itu mulai sibuk di dalam dapur, sementara Bizard hanya berdiri di ambang pintu, sambil terus memperhatikan Bianca.
Dia merasa sudah benar-benar gila, karena berani melakukan tindakan itu pada Bianca. Apalagi ucapannya yang terdengar sangat konyol, dia menginginkan Bianca dengan statusnya yang masih menjadi suami dari Joana.
Bodoh!
Setelah ini hubungan mereka pasti akan sangat canggung. Sebab Bianca tidak akan mungkin menggubris pernyataan pria beristri seperti dirinya. Atau mungkin Bianca akan memilih untuk menjauhinya.
Bizard berpikir keras, apa yang harus ia lakukan setelah ini?
"Bee, kenapa malah berdiri di situ?" tanya Joana yang baru saja keluar dari kamar, menyadarkan Bizard yang sedari tadi memikirkan tentang Bianca. Pria itu sedikit gelagapan, tetapi dengan cepat dia menguasai dirinya.
"Aku sedang memikirkan sesuatu, sepertinya ada yang belum aku kerjakan."
Joana menghela nafas panjang. Kemudian melangkah mendekati suaminya.
"Makan dulu, Sayang. Habis itu kamu boleh kembali bekerja." Joana menggapai lengan Bizard, kemudian menarik sang suami sampai di meja makan.
Tepat pada saat itu, Bianca menoleh ke belakang. Dan pandangannya bertemu dengan netra milik Bizard. Pria itu terlihat membeku, berbeda dengan Bianca yang langsung memalingkan wajahnya.
Dan semua itu membuat Bizard berpikir bahwa Bianca marah padanya.
"Bee, kenapa melamun sih? Sebenarnya kamu memikirkan apa?" tanya Joana, lagi-lagi membuyarkan pikiran Bizard yang benar-benar tak bisa fokus. Sedari tadi yang ada di otaknya hanyalah wanita yang tengah berdiri di depan kompor dan membelakanginya.
"Tidak ada, Sayang. Aku hanya sedang menunggu makanan yang dipanaskan oleh Bianca."
Joana pun menoleh ke arah Bianca, menatap sebal pada pembantunya itu. "Bian, bisa cepat sedikit tidak? Kami sudah sangat lapar."
"Iya, Nyonya."
Bianca memindahkan sup ke dalam mangkuk besar. Kemudian menghidangkannya di atas meja, lantas setelah itu ia langsung mengambil piring Bizard, mengisinya dengan nasi dan juga lauk pauk.
Bizard terus terdiam, tak mengerti dengan sikap yang ditunjukkan oleh Bianca. Kenapa wanita itu masih perhatian padanya? Sebenarnya Bianca marah atau tidak?
Pria tampan itu senantiasa curi-curi pandang pada Bianca. Dia melakukan itu semua saat Joana fokus makan, sementara ia seperti tidak lagi berselera.
"Jo, aku ke ruang kerja dulu yah. Kalau kamu mau tidur, tidurlah lebih dulu," ucap Bizard setelah mereka selesai makan malam. Tentu saja Bianca mendengar ucapan Bizard, sebab dia tengah membereskan meja makan. Ini kesempatan baginya untuk memiliki waktu berdua dengan pria itu, tanpa gangguan Joana.
"Baiklah, tapi jangan terlalu malam. Besok masih hari Sabtu, kamu harus pergi bekerja." Joana memperingati suaminya, dan Bizard langsung mengangguk patuh.
Wanita itu mengecup pipi Bizard sekilas, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar. Sementara dia pergi ke ruang kerja. Bianca senantiasa menatap punggung Bizard, hingga pria itu benar-benar hilang dari pandangan matanya.
Bizard menghela nafas kasar sambil menghempaskan tubuhnya di sofa. Ingin menyelesaikan pekerjaan adalah alasan yang dia buat untuk Joana. Sebab dia tidak mungkin berada di sisi sang istri, sementara pikirannya berkecamuk memikirkan wanita lain. Wanita yang berada satu atap dengannya, namun berbeda kamar.
Dan di antara kegamangannya, pintu ruangan Bizard diketuk. Pria itu langsung menoleh ke sumber suara, dan mengizinkan seseorang yang ada di luar sana untuk masuk.
"Masuklah!"
Benda persegi panjang itu langsung terbuka, menampilkan sosok yang sedari tadi menghantui pikirannya, Bizard terpaku, sementara Bianca melangkah pelan sambil membawa secangkir kopi di tangannya.
Tanpa rasa canggung sedikitpun Bianca meletakkan gelas tersebut di atas meja. Kemudian menatap Bizard yang terlihat salah tingkah.
"Saya buatkan anda kopi, Tuan. Semoga pekerjaan anda cepat beres, dan segeralah istirahat."
Setelah mengatakan itu, Bianca memutar tubuhnya, menunggu Bizard berinisiatif untuk menahan dia. Tepat seperti harapan Bianca, Bizard langsung mencekal langkah wanita itu, dengan memanggil nama Bianca.
"Bi ...."
Bianca menghentikan langkahnya, tetapi dia sama sekali tak menoleh, sebab dia mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Bizard berhenti tepat di belakang tubuh Bianca, sekuat tenaga dia menahan semuanya, tak ingin lagi membuat sebuah kesalahan.
"Bianca."
"Ya, Tuan."
Bizard menundukkan kepala sejenak. Kemudian menarik nafas dalam-dalam. "Bianca, aku ingin kamu melupakan semuanya. Aku minta maaf atas tindakanku barusan, aku tidak bermaksud merendahkanmu."
Mendengar itu, bibir Bianca tertarik ke atas. Ternyata Bizard masih belum mau mengaku kalah. Baiklah, dia akan mencobanya sekali lagi, apakah pria ini akan tahan dengan semua yang ia berikan?
Bianca menoleh ke belakang, hingga kini mereka berhadapan. Wanita itu menatap kedua bola mata Bizard yang tak dapat berbohong, bahwa pria itu sungguh menginginkan dirinya, tetapi masih berpikir tentang Joana.
"Apa maksud anda, Tuan? Kenapa menyuruh saya melupakan semuanya? Apakah anda sadar, tindakan yang anda lakukan membuat saya merasa diajak terbang tinggi kemudian dijatuhkan secara cuma-cuma?"
Bianca menggerakan kakinya, melangkah mendekati Bizard, hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka. Bianca terus menengadah, menatap lekat kedua netra sang pria.
"Bagaimana jika saya pun menginginkan anda? Karena pada kenyataannya, saya tidak bisa membohongi hati saya. Saya tahu ini salah, tapi saya juga ingin egois, karena saya tidak ingin melihat pria yang saya suka diabaikan terus-menerus oleh istrinya."
Bianca meraih satu tangan Bizard untuk digenggam, dan beruntungnya Bizard sama sekali tak menolak.
"Saya tahu anda kesepian, saya tahu anda jarang diperhatikan, saya tahu anda butuh sandaran, saya tahu semuanya, dan saya akan memberikan itu semua pada anda. Karena saya merasa sakit hati setiap Tuan diperlakukan seperti itu oleh Nyonya. Dan anda tahu? Bagaimana bahagianya saya saat mendapat ciuman itu?" Bianca memberanikan diri untuk memeluk Bizard, dia mengambil resiko yang cukup besar. Sebab ada dua kemungkinan, antara diterima atau ditolak mentah-mentah.
"Saya sangat bahagia, Tuan." Bianca pura-pura tergugu. Ingin membuat Bizard percaya akan perasaannya.
Bizard bergeming, mencerna semua ucapan Bianca. Walaupun dia seperti direndahkan, tetapi pada kenyataannya dia memang pria kesepian, semua yang dikatakan Bianca adalah benar. Lama menimang, pada akhirnya pertahanan Bizard goyah. Dia mengangkat tangan, kemudian membalas pelukan Bianca dengan sangat erat. Membuat Bianca tersenyum lebar di antara isak tangisnya. Tidak sia-sia dia bermain drama.
"Berdirilah di sisiku. Aku membutuhkanmu," ucap Bizard, dia tidak bisa membohongi hatinya, dia merasa nyaman bersama dengan Bianca.
***
Senin Oey Senin nih๐ด๐ด๐ด
Akulah sang Garangan wati๐