
"Kamu sedang apa?"
Deg!
Mendengar suara itu, jantung Joana seperti ingin terlepas dari tempatnya. Bahkan ponsel Bizard hampir saja terjatuh jika saja Joana tidak segera menguasai dirinya.
Pria yang baru saja membersihkan tubuhnya itu melangkah ke arah Joana. Rambutnya basah dan juga bertelanjang dada. Dia segera merebut ponsel yang masih berada di tangan istri pertamanya. "Aku tanya kamu sedang apa? Kamu curiga padaku?" Tanya Bizard, semakin menuntut sebuah jawaban.
Ludah Joana tercekat di tengah tenggorokan, membuat dia kesulitan untuk bicara. Jujur saja, bahkan dia masih sangat terkejut, begitu melihat Bizard sudah ada di depan matanya.
Wanita itu senantiasa menundukkan kepala, tak berani untuk menatap wajah Bizard yang senantiasa dikuasai amarah.
"Bee, aku hanyaβ"
"Apa? Kamu ingin mencari sesuatu 'kan? Dan sekarang apa kamu menemukannya?" potong Bizard, membuat Joana semakin mati kutu. Sebab dia memang tidak menemukan bukti apapun di ponsel Bizard.
Di sana hanya berisi nomor klien Bizard, teman dan juga keluarga. Bahkan masih sama seperti biasanya, Bizard tidak pernah mengunci benda pipih itu. Andai Bizard menyembunyikan sesuatu, pasti pria itu akan melakukan sebuah pengamanan. Akan tetapi sampai sekarang pria itu masih saja bisa bersikap santai.
Apa hanya pikiran Joana saja yang salah?
Akhirnya Joana menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan.
"Selama ini aku selalu berkata jujur padamu, bahkan di saat kamu menyembunyikan tentang masalah Edwin dan pil kontrasepsi itu, lalu apa yang kamu inginkan lagi?"
Padahal saat ini Bizard benar-benar merasa was-was, takut Bianca mengirim pesan secara mendadak. Akan tetapi dia mencoba membalik situasi, agar Joana tidak memikirkan yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Tidak ada, Bee. Maafkan aku," lirih Joana. Sumpah demi apapun, sekilas dia merasa bahwa pria yang ada di hadapannya bukanlah Bizard. Karena perbedaannya nyaris 180 derajat.
Bizard menghembuskan nafasnya dengan kasar, menyadari tubuh Joana yang sedikit bergetar dia pun kembali merasa bersalah.
Akhirnya Bizard mengangkat tangan untuk meraih kepala Joana. Dia mengecup kening sempit wanita itu, lalu bertanya. "Kamu sudah minum susu?"
Dan bodohnya hati Joana kembali menghangat saat diperlakukan seperti itu. Dia menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Bizard, karena sebenarnya dia tidak suka dengan susu yang sering dibuatkan oleh suaminya.
Joana hanya takut Bizard marah, jadi dia selalu berpura-pura meminum susu tersebut.
"Kalau begitu biar aku buatkan, habis itu tidur ya. Jangan kembali berpikir yang macam-macam!" ujar Bizard, dia hanya takut semua itu akan berimbas pada janin yang ada di rahim Joana.
"Iya, Sayang."
Lantas setelah itu, Bizard mengambil kaos rumahan dari dalam lemari, memakainya sambil melangkah ke arah dapur untuk melakukan aktivitas yang menjadi kebiasaannya sejak Joana dinyatakan hamil.
Setelah menghabiskan satu gelas susu hamil buatan Bizard, Joana merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia menghadap ke arah dinding, kemudian mencoba untuk memejamkan mata. Tidak ada yang bersuara di antara mereka, hingga Bizard mengulurkan tangan, untuk mengelus perut istri pertamanya.
"Sehat terus ya, Sayang, sampai kita bertemu di dunia."
Bizard mengulum senyum tipis, seraya mengeratkan pelukannya pada perut Joana. Seperti sedang memeluk anak mereka.
***
Setelah hari itu, Bizard semakin berhati-hati pada Joana. Sebab ia merasa wanita itu sudah mulai curiga. Beruntung dia selalu menghapus riwayat pesan maupun panggilan dari Bianca, jadi saat Joana mengeceknya wanita itu tidak menemukan apa-apa.
Dan sekarang dia memilih untuk memiliki dua ponsel, agar tidak perlu cemas jika suatu saat Joana kembali memeriksa benda pipih itu.
Seperti hari-hari sebelumnya, Joana disibukkan dengan beberapa berkas yang ada di mejanya. Akan tetapi hari ini dia cukup tercengang karena menerima laporan bahwa ada beberapa klien, yang tidak memperpanjang kontrak dengan mereka.
"Bagaimana bisa mereka memutus kerja sama yang sudah terjalin lama?" bentak Joana pada manager pemasaran. Nafasnya memburu karena tidak pernah sekalipun dia mendengar kabar bahwa laba turun sampai 25% dari statistik biasanya.
"Maafkan kami, Bu. Dengar-dengar beberapa dari mereka sudah bekerja sama dengan perusahaan lain, dan kami sedang berusaha untuk mencari tahu informasi tentang perusahaan itu," jelas seorang wanita berkacamata yang menjabat sebagai manager pemasaran.
Mendengar itu, mata Joana memicing seketika. "Perusahaan lain? Apa maksudnya? Dylan, katakan apa ini maksudnya?" Sentak Joana, membuat sang asisten langsung maju ke depan, untuk menjelaskan semuanya.
"Mereka mendapatkan harga yang lebih murah dengan kwalitas sama, Bu. Jadi, mereka berpikir untuk memutuskan kerja sama dengan perusahaan kita, dan beralih pada perusahaan itu."
"Hah, gila! Memangnya berapa harga yang mereka tawarkan?!"
Dylan langsung menyebutkan nominal sesuai dengan angka yang dia dengar. Dan hal itu sukses membuat Joana membelalakkan matanya.
"Astaga, apakah mereka masih memiliki untung dengan memberikan harga sebegitu murahnya?!"
"Kalau tidak untung, mungkin mereka tidak akan melakukannya, Bu," timpal Dylan, yang membuat Joana bertambah semakin kesal.
Wanita yang sedang emosi itu akhirnya mengangkat tangan, kemudian menyingkirkan gelas kopi yang ada di meja hingga berhamburan di atas lantai. "Kumpulkan semua kepala divisi, kita rapat sekarang!" Tegas Joana.
Dylan yang takut melihat kemarahan Joana langsung mengangguk patuh. "Baik, Bu."
***
Yuk marah yuk πππ