Hasrat Penggoda

Hasrat Penggoda
Bab 76. Menghentikan


Joana yang tidak akan tinggal diam dengan segala kecurigaannya terhadap Bizard. Akhirnya meminta satu orang pengawal untuk mengikuti ke manapun suaminya pergi, dia ingin tahu lebih jelas, siapa saja yang pria itu temui.


Hanya seorang klien? Atau klien-klien yang lain.


Belum apa-apa dadanya sudah mulai sesak. Bagaimana jika dugaan dia benar, bahwa Bizard memiliki wanita lain di luar sana?


Apakah dia akan tetap berada di samping pria itu, sementara hatinya pasti akan merasakan sakit yang luar biasa.


Joana menghela nafas kasar. "Tidak, semuanya belum tentu terjadi. Sekarang yang perlu aku lakukan hanyalah memikirkan tentang perusahaan, biar Bizard menjadi urusan pengawal itu. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan, pasti dia menghubungiku."


Wanita itu kembali menatap berkas-berkas yang sedang dipelajarinya. Sebab dia akan melakukan meeting bersama dengan para petinggi perusahaan.


Dari hari ke hari, Joana memang dihadapkan dengan banyak kesibukan. Karena statistik laba semakin menurun, sementara dia belum bisa mendapatkan klien untuk diajak kerja sama.


Tok … Tok … Tok


Seseorang di luar sana mengetuk pintu. Dylan yang lebih dekat dengan benda persegi panjang itu, lantas menyuruh seseorang itu untuk masuk. "Ya, masuk!"


Kenop pintu terlihat berputar, lalu menampilkan seorang wanita berpakaian cleaning servis yang menunduk sopan. "Permisi, Bu Joana, Pak Dylan. Kalian sudah ditunggu di ruang meeting oleh Pak Evans."


Mendengar namanya disebut, Joana lantas mengangkat kepala. "Katakan saja, sebentar lagi kami akan ke sana."


"Baik, Bu."


Lantas setelah itu, wanita yang memakai seragam cleaning servis itu keluar dari ruangan Joana. Sementara Dylan bersiap-siap untuk mengikuti meeting yang akan dilakukan siang ini, tak berbeda jauh dengan Joana yang terlihat sedikit frustasi, karena ada banyak sekali yang harus dia pelajari.


"Biar saya yang bawakan, Bu," ucap Dylan sambil meminta beberapa dokumen serta tablet yang ada di tangan Joana.


Tanpa berkata wanita itu langsung menyerahkannya pada Dylan. Sebenarnya sedari tadi perut Joana sedikit merasa kram, tetapi dia paksakan sebab dia tidak bisa membatalkan meeting penting ini.


Di ruang meeting, Evans sudah menunggu dengan beberapa orang penting di sampingnya. Joana tampak tersenyum sekilas, untuk menyapa semua orang.


Tak ingin buang-buang waktu, dia langsung membuka meeting siang itu. Awalnya semua berjalan dengan lancar, sebelum ia menerima panggilan dari seseorang yang mengikuti Bizard.


"Saya harap, semua orang dapat bekerja sama—"


Drt … Drt … Drt …


Pandangan mata Joana beralih pada ponsel yang tergeletak di atas meja. Dia seperti mendapat serangan panik, hingga wajahnya terlihat pias seketika.


Mulut Joana sudah terbuka karena ingin kembali bicara. Akan tetapi suara getar ponsel itu membuat dia tidak fokus. Dia merasa bahwa seseorang di ujung sana ingin memberitahu infomasi penting mengenai suaminya.


"Maaf, saya angkat telepon sebentar," ucap Joana akhirnya, membuat semua orang mengerutkan kening masing-masing. Tak berbeda jauh dengan Dylan yang senantiasa berdiri di belakang wanita itu.


"Halo, ada apa?" tanya Joana, saat ia sudah berada di sudut ruangan, ia berbicara dengan bisik-bisik, karena tidak ingin semua orang yang ada di sana mendengar percakapannya.


Membuat mata Joana terbuka dengan sempurna. Bahkan saking terkejutnya dia langsung menelan ludahnya susah payah. Jadi benar Bizard memiliki hubungan dengan wanita lain di belakangnya?


"Mereka hanya berdua?" tanya Joana memastikan.


"Betul, Nyonya, mereka hanya berdua. Dan buktinya sudah saya kirim ke ponsel anda."


Deg!


Jantung Joana seperti ingin merosot, dia tergugu dengan semua laporan pengawalnya. Dia tidak bisa tinggal diam, dia harus secepatnya memergoki Bizard dengan wanita itu.


"Beritahu aku di mana alamatnya, aku akan ke sana sekarang juga!" tegas Joana. Persetan, ia tidak peduli soal meeting, yang ada di dalam otak Joana, dia harus menghentikan perselingkuhan suaminya.


Panggilan itu terputus. Sementara Joana kembali ke tempat duduknya. Tidak, dia tidak ingin melanjutkan, tetapi dia ingin meminta izin pada semua orang, untuk menghentikan pertemuan kali ini.


"Saya mohon maaf, karena saya ada urusan mendadak, jadi saya terpaksa menunda meeting hari ini. Permisi."


Mendengar itu, Evans langsung mendelikkan matanya. Apalagi saat Joana berlari tergesa ke arah pintu keluar. Pria paruh baya itu ingin berteriak dan menghentikan putrinya, tetapi dia tidak bisa melakukan itu semua sebab banyak orang penting di sekitarnya.


Sial, apa yang dilakukan, Joana? Kenapa dia seenaknya seperti ini? Argh!


***


Terhuraaaaa ...


Ternyata ada banyak banget yang dukung ngothor, makasih ye, maaf gabisa bales satu-satu, tapi percaya deh, ngothor baca komen kalian 🥺🥺🥺


Inget ye, gue kagak ngambek, kemaren ntuh gue sibuk kondangan🤣🤣🤣


Moso iyo, Thor? Hooh tenan, wkwk


Ya kali udah makan semen tiga roda, masih mlehoy aja🥱


Beri aku semangat dengan anu kalian🤸🤸🤸


(Mpottt, kupi, kembang, maksudnya 🙄🙄🙄)


Tambahan rekomendasi karya :


Judul : Ternyata Dia Adalah Bossku


Napen : Kim.nana