
Dari hari ke hari sikap Bizard semakin bertambah aneh. Ada saja keinginan pria itu yang membuat Zoya mengernyitkan dahinya. Bizard memang tidak merasakan mual-mual apalagi sampai muntah.
Namun, segala perubahan di diri Bizard, akhirnya membuat Zoya merasa curiga. Karena semua itu tidak jauh berbeda dengan Ken saat dirinya tengah berbadan dua.
Seperti pagi ini, Bizard tiba-tiba meminta dibuatkan susu kedelai. Padahal Zoya tahu kalau Bizard tidak menyukai minuman itu. Dan hal tersebut membuat Zoya kepikiran, takut jika kecurigaannya adalah benar. Kelak, Bizard pasti akan sangat menyesal.
"Bee," panggil Zoya ketika pria itu hendak kembali masuk ke dalam kamar.
"Ada apa, Mom?"
Zoya meneguk ludahnya dengan kasar. Bukan maksud dia ingin mengungkit segala kesakitan anaknya. Namun, alangkah baiknya jika Bizard memastikan semuanya.
"Sayang, kalau boleh jujur Mommy merasa sedikit aneh dengan perubahanmu," ucap Zoya yang membuat Bizard mengerutkan kedua alisnya.
"Maksud, Mommy?"
"Sudah hampir sebulan kamu tinggal di sini. Dan kamu pasti ingat, banyak sekali perubahan yang ada pada dirimu, dari mulai selera makan, minuman, aroma parfum, bahkan sampai cat kamar pun kamu menggantinya dengan alasan yang begitu klise. Apa kamu tidak sadar dengan itu semua?" jelas Zoya, mencoba untuk menggali semua informasi yang disembunyikan putranya.
Namun, Bizard benar-benar tidak paham. Dia juga tidak tahu kenapa melakukan semua itu. Yang jelas, dia hanya mengikuti apa kata hatinya. Dia sama sekali tak berpikir bahwa apa yang dia rasakan ada hubungannya dengan Bianca.
"Aku juga tidak tahu, Mom," jawab Bizard sambil menggelengkan kepala.
Zoya menghela nafas kasar. Dari raut wajah Bizard yang kebingungan, Zoya tahu bahwa pria itu belum sadar, bahwa gejala itu merupakan kehamilan simpatik yang dirasakan oleh calon ayah.
Sebagai sesama seorang wanita, Zoya tidak bisa diam saja. Mau Joana ataupun Bianca yang hamil, maka Bizard memiliki tanggung jawab penuh terhadap bayi tak berdosa itu.
Pelan, Zoya mengangkat tangan untuk sekedar menyentuh lengan Bizard. Hingga membuat kedua netra ibu dan anak itu saling bersitatap.
"Bee, Mommy tidak bermaksud membuka luka itu lagi. Tapi setahu Mommy apa yang kamu rasakan adalah gejala couvade syndrom yang bisa dirasakan oleh seorang suami terhadap kehamilan istrinya. Apakah kamu benar-benar yakin, saat kamu menceraikan keduanya mereka tidak dalam keadaan hamil?" tanya Zoya dengan hati-hati.
Bizard langsung terpaku. Seketika otaknya langsung berputar pada hari itu. Jika Joana masih hamil anaknya, maka wanita itu pasti akan bicara. Namun, saat pertemuan terakhir mereka, Joana tak bisa mengelak surat yang dikirimkan pihak rumah sakit tentang anak mereka yang gugur dalam rahimnya.
Lalu apakah benar gejala kehamilan ini berasal dari Bianca? Seperti dejavu Bizard langsung teringat dengan kalimat terakhir yang Bianca ucapkan padanya. Tentang permintaan maaf dan rasa terima kasih.
Deg!
Jantung Bizard langsung bergemuruh hebat dengan nafas yang mulai memburu. Dia sedikit menggelengkan kepala. Cukup merasa tak percaya jika Bianca membawa pergi anaknya. Tentang sesuatu yang berharga? Benarkah itu adalah buah cinta mereka.
"Mom, aku harus pergi." Bizard langsung melepaskan tangan Zoya yang sedari tadi bertengger di lengannya. Sebelum Zoya buka suara, pria itu lebih dulu berlari keluar mansion, ingin memastikan semuanya.
***
Satu-satunya tujuan Bizard sekarang hanyalah apartemen. Tempat yang menjadi saksi cinta mereka berdua. Banyak kebahagiaan yang terlukis di sana, meskipun kini semuanya hanya tinggal kenangan.
Di dalam perjalanan menuju tempat itu, pikiran Bizard bertambah semakin kacau. Bagaimana jika tebakan Zoya benar? Lalu ke mana dia akan mencari Bianca, sedangkan wanita itu tidak sedikitpun memberi kabar padanya. Bahkan dengan tega Bianca menyembunyikan kehamilannya.
"Kamu benar-benar ingin menyiksaku, Bi?" lirih Bizard sambil menambah kecepatan. Hingga tak berapa lama kemudian, akhirnya ia sampai di basemen apartemen.
Tanpa membuang waktu, Bizard langsung naik ke unit apartemen yang pernah menjadi tempat tinggal Bianca. Tidak ada basa-basi atau apapun lagi, begitu masuk Bizard langsung menggeledah semua laci dan juga lemari pakaian.
Berharap dia menemukan sebuah petunjuk. Namun, sampai kamar itu terlihat berantakan, Bizard belum juga menemukan sesuatu yang ia cari. Dan tentu saja hal tersebut membuat Bizard frustasi.
"Argh! Apakah kamu menyimpannya dengan begitu rapih?" teriak Bizard sambil menyugar rambutnya ke belakang.
Nafas pria itu menderu, dia menatap sekeliling. Mencoba berpikir ke mana lagi dia harus mencari? Hingga akhirnya mata Bizard tertuju pada meja rias, dia melangkah dengan penuh keraguan, lalu menggapai gagang laci dengan tangan yang sedikit gemetar.
Bizard mencoba membukanya. Namun, ternyata laci itu dikunci, dan entah ke mana kuncinya.
"Shittt!" umpat Bizard. Dengan terpaksa dia membobol laci tersebut, dia menariknya sekuat tenaga berharap benda itu bisa terbuka.
Hingga tak berapa lama kemudian, terdengar suara gebrakan. Laci itu tertarik keluar hingga Bizard bisa melihat apa yang ada di dalam sana.
Tak peduli dengan nafasnya ngos-ngosan, Bizard langsung mengarahkan pandangan matanya pada dua benda yang sangat tidak asing lagi baginya.
Pria itu meneguk ludah dengan susah payah. Tangannya terangkat untuk mengambil sesuatu yang ditinggalkan Bianca. Dan ternyata tebakan Zoya benar, Bianca telah pergi membawa anaknya. Itu terbukti dari alat tes kehamilan dan foto USG yang kini sudah ada dalam genggaman Bizard.
Tubuh pria itu ambruk seketika. Dengan air mata yang kembali menderas. Dia meraung keras, tidak terima jika Bianca menyembunyikan semua ini darinya.
"Kenapa sampai detik ini kamu masih saja menyakiti aku, Bian?!" teriak Bizard sekuat tenaga.
***
Sajennya jangan lupaaaaaaa oey! 🙄🙄🙄