
Beberapa tahun yang lalu …
Seorang gadis yang baru saja genap 19 tahun itu duduk menunggu kepulangan sang ayah yang berjanji membelikan kado ulang tahun untuknya. Tersemat senyum manis di bibirnya mirip sekali dengan milik sang ibu.
Dia adalah Bianca Harrow, putri semata wayang dari pria bernama Adam. Malam itu, Bianca terus menunggu Adam di depan rumah, biasanya pukul 8 Adam sudah sampai, tetapi tidak dengan hari itu.
"Mungkin Papa sedang bingung memilih kado untukku," gumam gadis cantik itu, mencoba untuk menampik rasa cemas yang tiba-tiba memenuhi dadanya.
Akan tetapi sampai pukul 10 malam, Adam tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Padahal sedari tadi Bianca sudah berusaha untuk menghubungi pria paruh baya itu. Hingga akhirnya Bianca memutuskan untuk tidur lebih dulu.
Baru saja Bianca membaringkan tubuh rampingnya di atas ranjang, terdengar suara ambulance memenuhi halaman rumahnya. Gadis cantik itu tersentak, dia pun bergegas untuk keluar, memastikan situasi yang tiba-tiba ramai.
"Ada apa? Kenapa ramai sekali?"
Pintu rumah diketuk dengan keras, saat Bianca membukanya, terlihat beberapa petugas rumah sakit datang bersama dengan peti jenazah. Ada paman dan bibinya di sana, mereka menangis membuat Bianca pun bertanya-tanya. Kenapa? Ada apa?
Gadis itu mulai merasakan sesuatu yang tidak enak, bahkan tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca. Dia terus melihat semua orang yang tampak bersedih, apalagi saat peti jenazah itu sudah di letakkan di dalam rumahnya.
"Bi, ini ada apa?" tanya Bianca pada bibinya—adik dari Adam. Mendengar pertanyaan seperti itu dari ponakannya, wanita itu pun lantas menoleh, tetapi hanya ada api kemarahan yang terpancar di sana.
"Kamu tidak lihat? Hah, Papamu meninggal, Bianca!" teriak wanita itu histeris, membuat jantung Bianca seolah berhenti seketika. Kedua netra Bianca terbelalak dengan sempurna, disusul air matayang yang luruh bersama dengan tubuhnya yang lemas tak berdaya.
"Papa?" Satu kata itu terucap, tetapi nyaris tanpa suara. Lidah Bianca tercekat di tengah tenggorokan, dunianya seolah gelap gulita hingga dia tidak bisa melihat apapun selain peti jenazah ayahnya.
Tangis Bianca langsung pecah, dia berteriak histeris tidak percaya bahwa Adam telah meninggalkannya. "Papa tidak mungkin meninggalkan aku! Papa masih hidup!"
Gadis cantik itu menggelengkan kepalanya, dia tergugu karena merasa tak terima dengan kabar yang didengarnya. Apa salah dia? Dia hanya meminta kado ulang tahun pada Adam, tetapi kenapa Tuhan malah mengambil pria paruh baya itu.
Satu-satunya pegangan Bianca di dunia ini, karena sang ibu sudah meninggalkannya lebih dulu. Tangan Bianca terangkat, terlihat sangat gemetar karena tak sanggup untuk sekedar menyentuh peti jenazah ayahnya.
Susah payah dia bangkit, hingga akhirnya dia dibantu oleh salah satu pihak rumah sakit. Peti jenazah itu dibuka, hingga Bianca bisa leluasa melihat wajah Adam yang sudah terlihat sangat pucat. Ada beberapa luka di sana, membuat Bianca semakin tersedu-sedu.
"Papa, Papa pasti sedang bercanda 'kan? Papa pasti bohongin Bian 'kan supaya Bian tidak meminta yang aneh-aneh?" rancau Bianca, mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua ini tidaklah nyata.
Semua orang yang melihat itu pun ikut menangis. Tidak ada duka yang paling mendalam kecuali kehilangan orang yang paling kita sayang. Apalagi untuk seumur hidupnya, ia hanya bisa melihat wajah sang ayah.
"Papa jawab Bian! Papa harus bicara, Papa tidak boleh diam saja," teriak gadis cantik itu sambil tergugu, hatinya sangat sakit mengetahui kabar buruk ini, ya kematian Adam adalah hal yang paling buruk yang pernah dia dapatkan.
Namun, di saat paling rapuh dalam dirinya, tak ada satupun keluarga yang mendekat, mereka semua memang menangis, tetapi tidak sedikitpun memikirkan bagaimana kesakitan Bianca. Mereka malah berpikir bahwa Bianca adalah anak pembawa sial, karena ibunya pun meninggal saat melahirkan.
Sebuah usapan lembut memenuhi bahu Bianca, tetapi bukan dari paman maupun bibinya. Melainkan seorang pria paruh baya yang ia kenal sebagai teman ayahnya. "Sabar ya, Nak. Ini sudah menjadi takdir Tuhan, jadi kamu harus ikhlas menerimanya."
Dan hal tersebut membuat Bianca semakin merasa sesak, sumpah demi apapun, dia seperti tidak memiliki siapapun di dunia ini. Sehingga yang bisa ia lakukan hanyalah menangis, menangis dan menangis.
"Memangnya Papa kenapa, Paman? Bukankah Papa baik-baik saja? Hah, Papa lagi bohongin Bian 'kan? Papa nggak mungkin tinggalin aku, Papa udah janji bakal temenin Bian sampe Bian menikah dan punya anak. Jadi Papa nggak mungkin—"
Suara Bianca tersendat karena tangis yang terus-menerus mendera. Tanpa segan pria paruh baya itu langsung memeluk tubuh ringkih Bianca karena merasa tak tega.
Seolah takkan pernah habis, air mata gadis itu terus membasahi pipinya. Dia meremat dadanya kuat-kuat berharap rasa sakit akan kehilangan Adam segera menghilang. Namun, nyatanya tidak bisa! Malam itu adalah sebuah petaka terbesar dalam hidup Bianca.
Awal kehancuran hidupnya karena tidak ada tempat yang bisa ia jadikan sandaran, kecuali ayahnya.
"Kenapa di tubuh Papa hanya luka, Paman?" tanya Bianca sambil sesenggukan. Merasa tidak wajar dengan kematian Adam. Dan di situlah Bianca tahu, bahwa ada seseorang yang tidak bertanggung jawab atas perbuatannya, dia tidak memikirkan bagaimana nasib keluarga yang ditinggalkan, jangankan meminta maaf, mengakuinya saja tidak.
"Dia korban tabrak lari. Tapi polisi sedang mencari pelakunya, karena ada beberapa warga yang melihat kejadian itu."
Mendengar itu, tangan Bianca langsung terkepal kuat. Dengan api kebencian yang membara. "Aku ingin dia dihukum seberat-beratnya!"
***
Ngabisin tissue nih si Bian🙄🙄🙄