
Joana langsung keluar dari ruang meeting dan pergi ke basemen untuk mengambil mobilnya. Dia ingin meninggalkan perusahaan, demi memastikan apakah Bizard memang memiliki wanita lain di belakangnya atau tidak.
Dia tidak peduli apapun lagi, yang ada di pikirannya sekarang hanyalah pria tampan itu. Begitu Joana sukses masuk ke dalam mobil, dia langsung menyalakan mesin dan membelah jalan raya.
Bibir wanita itu senantiasa bergetar dengan mata yang berkaca-kaca. Sebagai seorang istri, tentu saja dia sangat benci dikhianati.
Dia akan merasakan sakit hati seperti wanita pada umumnya, meskipun ia kerap menjadikan pernikahannya sebagai tameng.
"Aku ingin lihat siapa wanita itu. Dan akan aku pastikan, dia habis di tanganku. Aku tidak akan pernah takut pada siapapun!" gumam Joana dengan rasa sesak yang mulai menghimpit dadanya.
"Ingat, Bee! Kamu hanya boleh mencintai aku. Kamu tidak boleh bersama yang lain!" jerit Joana akhirnya, dia memukul stir, kemudian menangis kencang. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana pengkhianatan itu terjadi, yang jelas hatinya sangat sakit.
Pandangan mata Joana senantiasa fokus ke depan, dia sudah tahu di mana Bizard berada, sebab restoran itu sudah terkenal menjadi pertemuan antar pembisnis.
Namun, manik mata Joana beralih pada benda pipih yang tiba-tiba menyala dan menampilkan nama sang ayah.
Di ujung sana Evans senantiasa mengumpat, sebab Joana susah sekali untuk dihubungi, padahal dia ingin memberitahu bahwa beberapa petinggi yang merasa kecewa dengan sikap Joana, akan menarik kembali sahamnya.
"Ayolah, Joana! Jangan membuatku naik darah," gerutu Evans sambil mengeratkan gigi gerahamnya. Dia tidak tahu apa yang membuat Joana seperti itu, tetapi yang jelas, dia tidak menerima alasan apapun.
Sampai panggilan kelima, Joana masih saja bergeming, sebab pikirannya tengah kacau. Dan ia tidak ingin mendengar ocehan Evans.
"Anak Sialan!" maki pria paruh baya itu, kemudian menyerah untuk menelpon putrinya.
Sementara Joana tiba-tiba meringis, dengan dahi yang berkerut kesakitan. Satu tangannya terangkat, kemudian memegangi perut.
"Astaga, jangan sekarang. Please, jangan sekarang, aku sedang buru-buru," ucap Joana, berharap rasa sakit itu segera menghilang, karena dia sedang fokus untuk mencari tahu tentang perselingkuhan suaminya.
Akan tetapi rasa nyeri itu malah semakin menghujam. Hingga dia meremass perutnya. Joana menggigit bibir bawah, dengan keringat dingin yang memenuhi dahinya.
Dia mulai tidak fokus menyetir, karena semakin dibiarkan malah semakin terasa.
"Tidak, aku mohon jangan sekarang. Aku butuh bukti ini, aku tidak mau Bizard terus-menerus membohongi aku," lirih Joana dengan air matanya yang mengalir deras.
Dia terisak-isak, bak diiris sembilu rasanya begitu sakit saat membayangkan Bizard—pria yang ia percaya, ternyata memilih untuk menduakannya di saat ia hamil.
Merasa tak tahan dengan nyeri di perutnya yang tak kunjung hilang. Akhirnya Joana memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Dia terpaksa memutar haluan, karena merasa khawatir dengan kandungannya.
Tadi pagi, sudah ada bercak darah yang memenuhi celanaa dalaamnya, tetapi ia masih anggap biasa. Dan dia berharap akan terus seperti itu, hingga buah hati mereka lahir ke dunia.
Sampai di rumah sakit, Joana langsung mendaftarkan diri untuk melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan. Setelah menunggu beberapa saat, namanya dipanggil.
Dan di ruangan itu, Joana kembali tergugu, karena dia harus menerima kenyataan bahwa kandungannya tidak berkembang. Dia dinyatakan keguguran.
"Saya salah dengar 'kan, Dok? Anak saya baik-baik saja 'kan?" tanya Joana dengan linangan air mata yang membasahi pipinya. Seluruh tubuh wanita itu bergetar hebat, tak percaya dengan berita yang didengarnya.
"Tidak, Nyonya. Kandungan anda memang sudah tidak berkembang, tidak ada detak jantung yang memberikan ciri bahwa dia masih hidup. Kalau anda tidak percaya, mari kita lakukan USG," jelas sang dokter, membuat tangis Joana semakin pecah.
Dia memegang kepalanya dengan frustasi. Tidak, dia tidak terima takdir ini.
"Tidak, Dok. Anda pasti salah, anda pasti salah. Ayo kita lakukan USG," ucap Joana, optimis bahwa anaknya masih bisa diselamatkan.
Sang dokter pun patuh, mereka melakukan USG pada kandungan Joana. Dan dokter tersebut membuktikan ucapannya. Kantung rahim Joana telah kosong, tidak ada janin yang bersemayam di sana.
Melihat itu, tubuh Joana langsung terasa lemas, dia seperti dipukul mundur oleh kenyataan, hingga yang bisa ia lakukan hanyalah tergugu dengan air mata yang bercucuran.
"Ini salah, ini pasti salah," lirihnya masih merasa tak terima.
***
Jangan lupa sirem Joana pake kupiii, biar ga ngeyel🙄🙄🙄