Hasrat Penggoda

Hasrat Penggoda
Bab 57. Tak Bisa Bohong


Malam itu Bizard dan Bianca tidak pulang ke rumah. Mereka menghabiskan waktu di apartemen yang Bizard hadiahkan untuk istri keduanya. Terdengar suara bergelora gairah memenuhi ruangan luas itu, tak ada yang dapat menghentikan mereka, karena ketiadaan Joana adalah kebebasan untuk keduanya.


Sementara di negeri seberang, Joana tengah menghadiri pesta pertemuan dengan para pengusaha yang namanya sudah dikenal oleh dunia. 


Dia datang bersama dengan Dylan dan Silvia. Namun, siapa sangka jika di sana, ia kembali bertemu sang mantan kekasih, pria pertama yang merenggut kesuciannya—Edwin.


"Kenapa dia ada di sini?"


Joana memalingkan wajah saat kedua matanya bersitatap dengan mata milik Edwin. Dia mencoba untuk tidak terpengaruh dengan keberadaan pria bermata hazel itu. Meskipun kini Edwin sedang melangkah ke arahnya.


Meskipun dulu dia sangat mencintai Edwin, tetapi rasa kecewa telah menutup semuanya. Kini, hanya ada Bizard, tak peduli meskipun Edwin terus mengejarnya.


"Halo, Joana. Kita bertemu lagi," sapa Edwin, saat pria itu sudah berada tepat di hadapan Joana. Melihat itu, Dylan dan Silvia mundur secara teratur, mereka cukup tahu diri dan tidak mau mengganggu kebersamaan mereka berdua.


"Dylan!" panggil Joana dengan cukup keras, tetapi pria itu seolah tuli hingga tak memedulikan panggilan Joana. Dia terus melangkah menjauh bersama Silvia, ingin menikmati pesta.


Edwin mencekal pergelangan tangan Joana saat wanita itu hendak mengejar asistennya. Namun, dengan cepat Joana menepis kasar tangan Edwin. "Jangan sentuh aku!"


"Kenapa, Sayang? Bahkan kita pernah menghabiskan malam berdua? Kenapa kamu malah bersikap seperti ini padaku?"


"Jangan berlagak bodoh. Aku sudah memiliki suami, dia seseorang yang bisa melindungiku, bukan seperti kamu yang lari dari tanggung jawab!" cetus Joana dengan menggebu. Bahkan bola matanya menatap tajam pada Edwin.


Akan dia ingatkan kejadian beberapa tahun lalu, saat Edwin meninggalkannya. Ya, bukan hanya karena pria itu dijodohkan. Namun, Edwin tidak ingin memiliki kekasih seorang calon narapidana seperti dirinya.


Di saat paling terpuruk dalam hidup Joana, Edwin malah dengan tega meninggalkannya dan menikahi wanita lain. Dan hal itu yang membuat Joana sampai sekarang membenci Edwin.


"Dan berapa kali aku harus menjelaskannya padamu, Joana? Bahwa semua itu bukan kehendakku! Perusahaan ayahku sedang collapse."


Joana memicing dengan tersenyum sinis. Alasan yang tidak masuk akal. "Keluargaku kaya, Edwin. Aku bahkan bisa membantumu dalam satu kali kedipan mata! Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu meninggalkan aku, di saat aku membutuhkanmu. Aku hampir gila, dan sekarang, kamu dengan enteng datang ke kehidupanku." Joana menggelengkan kepalanya, tak habis pikir. "Jangan harap! Jangan harap kamu bisa kembali padaku!"


Jona segera membalik badan, sudah tak tahan meladeni Edwin. Rasanya dia ingin terus marah-marah. Namun, sebelum dia pergi meninggalkan pria itu, dengan cepat Edwin menarik pergelangan tangan Joana, kemudian membawanya ke sudut ruangan.


"Ed, lepas!" ucap Joana penuh penekanan sambil berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan mantan kekasihnya. Akan tetapi usaha Joana sia-sia, karena dia kalah tenaga.


Edwin mendorong tubuh Joana hingga merapat ke dinding. Obsesinya tentang wanita itu begitu tinggi, hingga dengan cepat Edwin mengunci pergerakan Joana. "Aku tidak akan melepaskanmu lagi kali ini. Dengar lah, Joana. Kamu ditakdirkan hanya untukku."


Edwin menatap Joana dengan sangat lekat, hingga Joana tak bisa membohongi hatinya. Masih ada sedikit ruang untuk Edwin, alasan kecewa membuat dia menutupi segalanya, agar ia tidak terlihat begitu menyedihkan.


"Aku tidak bisa percaya padamu, Ed!"


"Harusnya bisa. Karena kita sudah berhubungan lama. Bahkan tubuh kita sudah pernah menyatu. Aku ingin memperbaiki semuanya denganmu."


Joana terdiam, sekilas bayangan Bizard terlintas di pelupuk matanya. Akan tetapi dia tidak bisa membohongi dirinya, pertahanan Joana runtuh saat Edwin mengikis jarak kemudian menyatukan bibir mereka berdua.


***


Jangan ditiru ya teman-teman 🙄🙄